Hai, hai haiiii. Aku datang membawa ff one shot ku yang
gajeeeehhhhh banget. Maklum ya aku baru empat bulan kenal ff ya,…..jadinya
gini. Kalo udah baca ff aku yang membosankan plus gaje ini, jangan lupa COMMENT
ya, yang pedas banget juga gak apa-apa. Akan aku jadiin motivasi buat ff
selanjutnya, hehe. Selamat menikmati hidangan ff ku yang supa dupa gajewhh ^^
City of Memories
Dingin menusuk tulang. Ini lah
yang dirasakan Sunyoung sekarang. Bukan hanya menusuk tulang, tapi rasa dingin
itu seperti merasuk ke dalam hatinya, membuat luka di hatinya semakin perih
terasa. Ia berusaha menahan bulir air mata yang hendak keluar dari mata nya,
walaupun sulit. Kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan yang tak bisa
dilupakannya, sekeras apapun ia mencoba dan berusaha. Semua memori dan kenangan
itu seperti terpatri abadi dalam otaknya. Cara satu satunya untuk menghilangkan
kenangan itu adalah dengan menghentikan kerja otaknya dan seluruh yang di
kendalikannya. Also known by death.
Tokyo, sebuah kota yang modern
dan peradabannya maju, merupakan sebuah kota yang menyimpan banyak kenangan
pahit bagi Sunyoung. Saking pahitnya ia sampai tidak bisa merasakan apapun,
kecuali hampa. Hampa karena ditinggalkan oleh orang yang disayanginya, hampa
karena tidak memiliki seorang yang berarti disisinya, hampa karena disinilah
awal mimpi buruk itu dimulai.
Flashback : on
PRANG !
Entah sudah keberapa piring dan
gelas yang pecah di rumah ini, Sunyoung tak tahu dan memilih untuk tidak ingin
tahu. Ia seakan menutup telinganya rapat rapat dari teriakan dan bunyi pecahan
benda benda yang ada di rumahnya. Keluarga yang tidak harmonis merupakan sebuah
beban berat bagi Sunyoung yang baru 15 tahun menjadi warga negara bumi. Ia
merasa iri pada kawan kawannya yang mempunyai orangtua lengkap dan selalu
bahagia, tidak seperti orangtuanya. Usia ibu Sunyoung yang terpaut 12 tahun
lebih muda dari Ayahnya seperti nya menjadi penyebab dari perbedaan pendapat
yang terjadi di antara mereka berdua.
“Aku berusaha mencari uang untuk
kalian, sampai pulang larut, tapi kau malah menuduh yang tidak tidak ! APA YANG
ADA DI PIKIRANMU? JAWAB AKU!”.
“KAU PASTI MENGUNJUNGI WANITA
DURJANA ITU LAGI !”, jawab ibu Sunyoung dengan teriakan yang jauh lebih keras
dari ayahnya. “TIDAK USAH KAU ELAKKAN LAGI !! SEMUA SUDAH JELAS KAN?”
“Sudah jelas apanya? KAU
SEENAKNYA SAJA MENUDUHKU SEPERTI ITU ! Coba kau lihat dirimu sendiri, jauh
lebih PARAH DARIKU, TUKANG SELINGKUH !”
“Kau juga menuduhku !”.
“KARNA KAU MENUDUHKU DULUAN !”.
Dentuman musik yang mengalir dari
headset ke telinga Sunyoung tidak bisa menahan semuanya. Sunyoung muak. Marah
dengan kedua orangtuanya. Kalau mereka tidak saling mencintai, kenapa mereka
menikah? Lebih baik aku melihat mereka berpisah daripada bertengkar seperti
ini, batinnya.
Tak tahan dengan kondisi yang
dihadapinya, Sunyoung menemukan sebuah ide.
Sunyoung mengganti baju rumahnya
dengan sweater dan jins. Kemudian ia mengambil tasnya, mengisi dengan beberapa
pakaian, buku, dompet, dan semua gadget yang ia miliki. Rumah ini harus ku
tinggalkan, katanya dalam hati. Ia pun berniat untuk pergi ke rumah bibinya di
Yokohama sekarang. Walaupun cukup jauh dan membutuhkan waktu 45 menit
menggunakan kereta dari Tokyo, Sunyoung tidak peduli. Ia terlalu lelah dengan
teriakan kedua orangtuanya. Meskipun orangtuanya tidak pernah menyiksanya
secara fisik, tapi ia tersiksa secara batin.
Lewat jendela kamarnya, Sunyoung
pun melompat dan berlari menuju teras. Ia memakai sepatunya dan berjalan ke
luar. Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tidak mungkin ia menginap di rumah
bibinya sekarang, beliau akan terganggu. Sunyoung pun menghela nafas panjang
dan berusaha menahan rasa sesak karena campuran berbagai emosi. Ia berjalan
keluar dari kompleks perumahannya, dan kini ia tiba di pinggir jalan raya.
Kota Tokyo pantas di sebut sebagai
“City that never sleeps”. Buktinya jam sembilan lewat saja macet masih terjadi
di berbagai titik di jalan raya. Sunyoung tak habis pikir, apakah orang orang
para pekerja itu pernah lelah? Apakah waktu tidur mereka cukup, dibandingkan
dengan kegiatan segunung yang harus dikerjakan setiap hari? Sebagai pelajar
kelas 1 SMA saja Sunyoung sudah merasa sangat lelah dengan semua kegiatan yang
menguras tenaga di sekolah. Apalagi dengan para pekerja yang berusaha mati
matian mencari uang, Sunyoung tidak bisa membayangkannya.
Sunyoung memutuskan untuk
menginap di motel saja. Bukannya tidak punya uang untuk menginap di hotel
berbintang, tapi Sunyoung sudah di didik sejak dulu untuk tidak memfoya foyakan
uangnya. Di didik oleh kedua orangtuanya yang tidak pernah akur, dan sepertinya
akan berpisah sebentar lagi.
Ada motel yang terdapat dekat
kompleks perumahannya yang berada di pusat kota, dan Sunyoung berniat untuk
menginap di sana saja sampai besok. Untungnya besok hari Minggu, jadi Sunyoung
tak perlu repot dengan sekolah. Ia memutuskan untuk berjalan kaki, karena kalau
naik bus akan sampai lebih lama dari jalan kaki, mengingat jalanan yang benar
benar macet sekarang. Sunyoung berjalan dengan gontai. Perlahan lahan air mata
mengalir dari sudut sudut matanya. Perasaan yang selama ini dia pendam, kini
tersalurkan dengan air mata. Sunyoung menghapus airmatanya dan mengingat kata
kedua orangtuanya yang nyaris ia benci sekarang. “Menangislah saat benar benar
diperlukan, dan jangan tanamkan pribadi yang cengeng dalam dirimu. Setiap
perempuan harus tegar, tidak boleh lemah”.
Sunyoung merasa ia harus menangis
sekarang. Air matanya jatuh terus menerus meskipun otaknya sudah menyuruh
menghentikannya. Tapi hatinya melawan, dan terus membiarkan air matanya jatuh.
Sudah berapa tahun dia tidak menangis, ia hanya memendam semua perasaan nya dan
menyalurkannya ke sebuah buku diary putih kesayangannya. Sunyoung hampir tidak
punya teman karena pribadinya yang individualis dan sulit beradaptasi. Ia
seakan punya dunianya sendiri, dan hal itu disebabkan perilaku kedua
orangtuanya.
Karena terus menangis dan menatap
ke arah trotoar, tanpa sadar ia menabrak seseorang yang sedang berjalan
berlawanan arah dengannya. Sunyoung tidak berani menatap orang tersebut. Mata yang memerah
bukanlah sebuah ekspresi yang pantas diperlihatkan pada orang tersebut.
“Aish, gomenasai, nona. Aku tidak
melihat jalan”, suara berat dari orang itu terdengar di telinga Sunyoung.
Sunyoung menghapus air matanya dengan punggung tangan dan berusaha tersenyum.
“D..dai..daijobu, tidak apa-apa.
Aku seharusnya memperhatikan jalan. Permisi”, kata Sunyoung sambil berjalan
meninggalkan pria itu.
“Tunggu nona”, kata orang itu.
Sunyoung berhenti dan tidak menoleh ke arah sumber suara. Ia takut pria itu
akan berlaku yang macam macam pada dirinya. Namun sepertinya tidak. Orang itu
berjalan menghampiri Sunyoung dan berdiri di hadapannya.
“Kau kenapa menangis? Bisa kau
ceritakan padaku?”, tanyanya. Merasa heran, Sunyoung pun berjalan lagi dan laki
laki itu mencegatnya.
“Maaf, aku diajarkan untuk tidak
berbicara pada orang asing”, kata Sunyoung tajam.
“Aku bersumpah aku tidak akan
mencelakakanmu”, ujar orang itu sambil menatap Sunyoung. Sunyoung menatapnya
balik. Cukup tampan, batinnya. Tapi itu bukan jaminan kalau dia orang baik
baik. Lama mereka bertatap tatapan, dan tidak ada yang berbicara.
“B..baiklah”, balas Sunyoung.
“Apa yang kau mau?”.
“Siapa namamu?”.
“A..aku… Park Sunyoung. Namamu?”.
“Kau berasal dari Korea ya?”.
“Haruskah kau mengetahuinya?”,
kata Sunyoung.
“Karena aku juga berasal dari
negara yang sama”.
Sunyoung menelan ludah dan
menatap orang asing itu. “Benarkah? Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa
namamu?”.
“Hm..namaku Cho Kyuhyun, senang
berkenalan denganmu Sunyoung-ssi”, kata laki laki yang ternyata bernama Kyuhyun
tersebut.
“Senang berkenalan denganmu juga
Kyuhyun-ssi”, ujar Sunyoung. “Sekarang apalagi? Aku harus pergi”.
“Pergi? Apa yang kau pikirkan?”.
“Kau tidak perlu tahu”, kata
Sunyoung ketus. “Kau sendiri? Apa yang kau lakukan?”.
“Ah..aku..aku bosan di rumah. Bagaimana
kalau kau ke rumahku?”.
“Maaf, aku akan pergi menginap ke
sebuah motel, jadi aku—“
“Ke rumahku saja, disana jauh
lebih nyaman daripada di motel. Ada pembantuku di rumah, dia tidak akan tahu
kau menginap. Tenanglah, aku tidak akan macam macam padamu”.
“Orangtuamu?”.
“Mereka…bekerja di luar negri”,
jawab Kyuhyun sedikit lemah. “Ayolah, kalau aku berbuat macam macam teriak saja
sekencang kencangnya sampai tetanggaku terbangun”.
Sunyoung tersenyum sedikit dan
menatap Kyuhyun yang juga sedang tersenyum. “Boleh lah, untuk malam ini saja
ya?”.
Kyuhyun menggandeng tangan
Sunyoung dan berjalan menyusuri trotoar. Pertamanya Sunyoung agak canggung
menerima perlakuan Kyuhyun tapi lama
lama ia terbiasa. Motor, mobil, dan kendaraan lainnya bersuara dari jalan raya,
dan mereka berdua menganggapnya seperti tidak ada. Mereka sendiri hanya diam,
sampai mereka tiba di sebuah rumah yang benar benar megah. Bertingkat dua dan
warnanya mencolok, dengan pagar hitam tinggi yang membatasi rumah itu dengan
jalan raya.
“Wow”, kata Sunyoung kagum.
“Hebat. Apa pekerjaan kedua orang tuamu?”.
Kyuhyun paling tidak suka ditanya
hal hal seperti itu. Memangnya kalau dia tau pekerjaan orangtuanya, ia akan
meminta rumah itu juga pada orang tuanya? Tidak kan?
“Gomen, kalau kau tidak mau memberi
tahu”, kata Sunyoung mengikuti Kyuhyun yang sedang menutup pagar.
“Pokoknya kedua orangtuaku tidak
bekerja yang aneh-aneh. Mereka ada diluar negri dan kurasa itu saja yang perlu
kau ketahui”, ujar Kyuhyun dingin. Sunyoung makin merasa bersalah karena
pernyataan Kyuhyun tadi.
“Gomennasai, Kyuhyun-ssi. Aku
benar benar minta maaf”.
“Abaikan saja”, kata Kyuhyun.
Sunyoung pun masuk ke dalam rumah Kyuhyun yang sepi, mungkin suara jarum jatuh
saja akan terdengar disini. Rumahnya didominasi dengan warna cokelat dan krem.
Lampu lampu masih menyala dengan terang di sudut sudut ruangan. Berbagai
pajangan dan guci guci mahal berjajar rapi di ruang tamunya. Hal ini
mengindikasikan kalau keluarga Kyuhyun memang benar benar berada. Ia mulai
merasa was-was dan takut Kyuhyun akan berbuat yang macam-macam, saking sepinya
suasana di rumahnya tersebut.
“Jangan takut begitu. Aku tidak
akan berbuat yang macam-macam”, ujar Kyuhyun seakan menebak pikiran Sunyoung.
Sunyoung hanya diam dan berjalan menaiki tangga, menyamakan langkahnya dengan
Kyuhyun.
“Silakan masuk”, kata Kyuhyun
sambil membuka sebuah pintu berwarna putih, yang menjadi jalan masuk ke
kamarnya. Sunyoung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Luas
sekali, itu yang pertama ada dalam batinnya. Kamar ber cat biru tua itu hanya
berisi sebuah tempat tidur, sebuah lemari baju, sebuah meja belajar, dan sebuah
rak buku. Yang menarik perhatian Sunyoung adalah rak buku yang berisi ratusan
judul buku—mulai dari Ensiklopedia setebal kasur sampai komik yang tipis—dan
sebuah meja belajar yang diatasnya terdapat seperangkat komputer dan dua buah
laptop keluaran terbaru yang harganya selangit. Sunyoung hampir mendecak kagum
melihat laptop itu. Sebagai seorang yang selalu mengikuti perkembangan gadget
gadget terbaru, Sunyoung pasti tau berapa kisaran harga laptop tersebut.
“Kau mau tidur dimana?”, tanya
Kyuhyun.
“Hm..terserahmu saja. Dimana kau
mau sajalah”, ujar Sunyoung. Ia juga tahu diri, tidak mungkin ia meminta tidur
di atas tempat tidur King Size nya.
“Kalau begitu disini saja”, kata
Kyuhyun sambil menepuk nepuk kasurnya sendiri. “Tenang, aku pasti memegang
janjiku”.
Sunyoung berjalan ke arah tempat
tidur dan duduk di pinggirnya. Ia menghela nafas berat seraya menjatuhkan tas
nya ke lantai. Tiba tiba ponselnya berbunyi nyaring dan ia segera mengambilnya
dari saku celana.
Orangtuanya menelfon. Hah,
Sunyoung merasa miris mengetahui kalau orang tua nya (pura-pura) khawatir
padanya.
Sunyoung menunggu telfon tersebut
berhenti. Kemudian setelah berhenti, ia cepat cepat mematikan ponselnya dan
membantingnya asal ke lantai. Air matanya mulai jatuh lagi tanpa bisa ia
bendung. Kyuhyun yang akan berjalan keluar berbalik lagi ke arah kasurnya dan
mendengar Sunyoung menangis.
“Sunyoung-ssi….”, kata Kyuhyun
pelan, lalu duduk di sebelah Sunyoung. Ia merangkul Sunyoung perlahan, dan
memastikan ia tidak melawan. Dan ternyata memang tidak.
“Kau bisa bercerita padaku”, ujar
Kyuhyun berusaha meyakinkan Sunyoung. Sunyoung hanya diam dan mengumpulkan
suaranya untuk bercerita pada Kyuhyun. Akhirnya ia menumpahkan segala keluh
kesah dan perasaannya di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun mendengarkan semua cerita
Sunyoung dengan baik, dari A sampai Z. Sunyoung masih menangis, bahkan ia
sampai sesenggukan. Kyuhyun mendekap Sunyoung perlahan dan membiarkan gadis itu
menangis di bahunya. Walaupun hanya mendengarkan cerita Sunyoung, Kyuhyun
seperti merasakan apa yang dirasakan gadis itu. Ia membayangkan bagaimana bila
kedua orangtuanya itu bertengkar dan tidak memperdulikannya. Kyuhyun seperti
sudah mengenal Sunyoung selama bertahun tahun, padahal ia baru mengenalnya satu
jam yang lalu. Ia merasa seperti orang yang selalu mengerti perasaan Sunyoung.
Aneh, padahal waktu satu jam tidak akan cukup untuk semua itu.
“Sunyoung…mungkin saat ini
kehidupanmu sedang ada di bawah. Tenang saja, Tuhan tidak akan membiarkanmu
terus terusan di bawah. Sama seperti roda, tidak mungkin ia tidak bergerak kan?
Kalau roda tidak bergerak pasti apa yang ada di atasnya tidak akan berjalan.
Sama seperti hidupmu. Kuncinya hanya sabar, kalau kau sabar pasti Tuhan akan
membuat kehidupanmu jauh lebih baik dari sekarang. Biarkan waktu yang menjawab
semuanya. Kau harus percaya padaku, oke?”.
Perkataan Kyuhyun seakan
menghipnotis Sunyoung. Buktinya Sunyoung terdiam, menghentikan tangisnya dan
menatap Kyuhyun. Kyuhyun menghapus air mata Sunyoung yang masih tertinggal di
pipinya dengan punggung tangan dan tersenyum pada Sunyoung. Sunyoung menatap
wajah Kyuhyun yang hanya beberapa senti di depannya. Ia pun tersenyum balik dan
hal itu membuat Kyuhyun lega. Akhirnya,
usahanya untuk membuat Sunyoung tersenyum berhasil.
“Arigato, arigato gozaimasu
Kyuhyun”, kata Sunyoung tulus. “Terima kasih atas saranmu, aku sangat
menghargainya”.
Kyuhyun mengelus elus punggung
Sunyoung perlahan. “Sekarang kau pulang lah. Mereka pasti khawatir denganmu”.
“Aku tidak mau”, kata Sunyoung.
“Mereka hanya pura pura khawatir padaku”.
“Tidak boleh berkata seperti itu,
Sunyoung-ssi. Mereka pasti benar benar khawatir. Sejahat jahatnya orangtua di
dunia ini pasti tidak ada yang ingin anaknya celaka kan? Ayolah Sunyoung, kau—“
“Aku hadir di dunia karena
ketidak sengajaan, ingat?”, kata Sunyoung. Memang, saat muda orang tua Sunyoung
suka berhura hura. Sampai suatu ketika ibu Sunyoung mendapati dirinya hamil.
Mereka pun menikah di usia muda, yaitu pada saat usia ibunya 22 tahun. Sunyoung
seperti merasa bersalah dengan kehadiran dirinya. Tapi ia juga tidak bisa
menyalahkan dirinya sepenuhnya. Setengahnya adalah kesalahan orangtuanya juga,
sebenarnya.
“Walaupun begitu, pasti mereka
tidak mau melihat anak mereka satu satunya ini menderita dan terluka kan?”.
“Kalau begitu kenapa mereka
selalu bertengkar? Bukankah itu juga membuat diriku menderita?”. Air mata
Sunyoung kembali merebak.
“Mereka hanya terbawa emosi,
Sunyoung”.
“Ya, mereka terbawa emosi selama
bertahun tahun”, ledek Sunyoung. “Ayolah Kyu”.
“Yasudahlah, kau boleh pulang
besok pagi. Ingat?”.
“Tapi aku boleh berteman denganmu
kan?”.
“Kenapa harus?”.
“Aku..aku tidak punya teman”,
kata Sunyoung lemah. “Mungkin kau bisa jadi teman baikku”.
“Mungkin saja”, balas Kyuhyun
sambil tersenyum. Senyum yang tiba tiba membuat Sunyoung menjadi gugup. “Apa
sih yang tidak mungkin di dunia?”.
Sunyoung sedikit tertawa mendengar
perkataannya. Duh, tertawa itu enak sekali, batinnya. Sunyoung juga jarang
tertawa. Ia lebih memilih diam kalau ada sesuatu yang menyenangkan. Hanya, baru
beberapa detik ini saja ia memilih tertawa untuk mengekspresikan dirinya.
“Aku senang kalau kau tertawa”,
kata Kyuhyun.
“Hah? Kenapa?”.
“Kau terlihat seribu kali lebih
baik dari sebelumnya. Aku suka itu”.
“A..ah..gomawo”, balas Sunyoung.
Ia merasa wajahnya memanas mendengar kata-kata itu.
“Malam ini aku biarkan kau
disini, besok pagi kau harus pulang, arraseo?”.
“Ne..ne”, jawab Sunyoung.
“Oh iya, aku belum tahu umurmu
dan hal hal secara garis besar tentangmu. Maukah kau menceritakannya?”.
Sunyoung menarik nafas cukup
dalam dan menghembuskannya lagi. “Umurku 15 tahun. Sekarang aku bersekolah di
Tadashi High School, masih kelas satu. Aku hampir tidak punya teman. Aku…aku
kurang bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang lain, sehingga mereka
menjauhiku. Aku sih tenang-tenang saja, kan aku masih bisa bersenang senang
tanpa mereka. Karena itulah aku menyibukkan diri dengan membaca di rumah. Aku
suka sekali membaca, buku itu…seperti teman terbaikku”, jelas Sunyoung panjang.
“Benarkah? Aku juga suka
membaca”, tambah Kyuhyun. Sunyoung menatapnya tidak percaya dan tersenyum.
“Membaca apa? Majalah dewasa,
huh?”.
“Heh, bukan !”, bantah Kyuhyun.
“Aku suka sekali membaca novel. Semua jenis novel, aku suka. Terutama yang
bertema misteri. Kau sendiri?”.
“Aku suka semua jenis buku. Dari
ensiklopedi, novel, komik, buku biografi, buku pengetahuan, sampai majalah, aku
suka”.
“Jadi selain membaca, apa
hobimu?”.
“Aku suka menulis !”, kata
Sunyoung semangat. “Menulis adalah dunia yang tepat untukku. Karena banyak
membaca buku pengetahuanku jadi bertambah luas. Jadi aku menyalurkannya ke
dunia tulis menulis”. Kyuhyun tersenyum mendengar perkataannya. “Bagaimana
denganmu?”.
“Kalau aku…aku suka sekali dengan
dunia teknologi”, jawabnya mantap. “Lain kali akan ku ajarkan kau menjadi
hacker white hat. Kau tertarik?”.
“Sangat!”, kata Sunyoung seakan
sudah lupa dengan kesedihannya. “Gomawo, Kyuhyun-ssi. Dari dulu aku belajar
untuk menjadi hacker, baik black hat maupun white hat”. Hacker white hat adalah
seorang hacker yang menggunakan kemampuannya untuk sesuatu yang baik, bukan
untuk mencelakakan seseorang. Dan kini Sunyoung sudah punya seseorang yang
bersedia mengajarinya.
“Sekarang tidurlah. Besok kau
harus pulang, arra?”.
“Ne, ne. Pasti, aku akan pulang.
Tenang saja”. Sunyoung pun tersenyum. Setidaknya hari ini ada sebuah keadilan.
Ia pun berbaring di tempat tidur
dan memejamkan matanya, berusaha mengakhiri harinya yang panjang. Dalam hati ia
berharap, ketika matahari terbit keesokan hari semua ini hanya mimpi buruk yang
akan berakhir dengan membuka mata.
A few weeks later…
Sunyoung memencet bel yang berada
di sebelah pintu rumah Kyuhyun berkali kali, namun Kyuhyun tak kunjung keluar.
Sunyoung pun pasrah dan terus terus membunyikan bel. Lama sekali anak itu,
batin Sunyoung.
“YAAA TUNGGU SEBENTAR!”,
terdengar teriakan Kyuhyun dari dalam.
Sunyoung pun tersenyum. Akhirnya, anak itu menjawab juga. Ia pun menunggu
dengan manis di depan pintu dan memilin milin rok kotak kotak hitam yang
merupakan seragam sekolahnya.
Setelah cukup lama menunggu,
Kyuhyun membukakan pintu dan tersenyum. “Oh, hai Sunyoung. Maaf lama menunggu.
Tadi aku sedang menelfon seseorang”. Kyuhyun pun berbalik arah dan berjalan ke
arah dalam rumahnya. Sunyoung mengikuti Kyuhyun dan menutup pintu kembali. Ia
selalu heran, kenapa orangtua Kyuhyun tidak pernah ada di rumah? Apakah mereka
benar benar sibuk?
“Kau mau?”, kata Kyuhyun sambil
menyodorkan sepiring spaghetti di hadapan Sunyoung. Mata Sunyoung berbinar
binar menatap spaghetti dengan saus bolognise dan keju yang melimpah di
atasnya. Ia merasa akan menghabiskan semuanya dalam satu suapan.
“Mau, aku mau sekali !”, ujarnya
bersemangat. Mereka pun duduk bersebelahan di kursi meja makan. Sunyoung
mengambil garpu dan langsung melahap spaghetti tersebut dengan rakus. Kyuhyun
memperhatikan gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu dengan heran. Kenapa
ia bisa makan secepat itu? Apa dia benar benar lapar?
“Kau lapar sekali ya, Youngi-ah?”,
tanya Kyuhyun sambil memasukkan satu gulung spaghetti ke dalam mulutnya.
Sunyoung hanya mengangguk dan meneruskan mengunyah. Porsi spaghetti yang besar
bukan masalah bagi Sunyoung yang sekarang sedang kelaparan, seperti belum makan
selama tiga hari. Kyuhyun membiarkan Sunyoung seperti itu, toh ia juga tidak
lapar.
“Apakah rasanya enak?”, kata
Kyuhyun lagi.
“Ne !”, jawab Sunyoung. “Kau yang
memasaknya?”.
“Pasti lah”, kata Kyuhyun.
“Bukankah kau tidak bisa
memasak?”.
Kyuhyun mendorong bahu Sunyoung
pelan dan tertawa kecil. “Kali ini aku bisa”.
Sunyoung hanya diam dan ia
melanjutkan memakan spaghettinya. Ia menghirup salah satu spaghetti dengan
mulutnya, dan merasa spaghetti itu tidak bisa ditarik. Ia pun mengangkat
pertengahan spaghetti tersebut dan mendapati Kyuhyun sedang memakan ujung yang
satunya. Sunyoung segera memotong spaghetti itu cepat dan memakannya lagi.
Bagaimana kalau tadi ia tidak memutuskan spaghettinya? Pasti akan…..
Sunyoung menepis pemikiran itu.
Setelah piring tersebut kosong melompong, Sunyoung meraih gelas berisi air
putih di dalamnya dan meneguknya langsung sampai habis.
“Sunyoung, itu gelas ku…”, kata
Kyuhyun membuat air hampir memasuki tenggorokan Sunyoung. Sunyoung hanya
menelan air tersebut dan menatap Kyuhyun.
“Lantas?”, katanya santai.
“Ani, lupakan saja”, balas
Kyuhyun. Sunyoung hanya menghela nafas dan mengingat janjinya dengan Kyuhyun
hari ini.
“Ayo, ajarkan aku menjadi seorang
hacker”, ujar Sunyoung sambil berjalan menaiki tangga. Kyuhyun menyamakan
langkahnya dan tersenyum pada Sunyoung.
“Kau harus berjanji tidak
menggunakan ilmu mu untuk hal hal buruk seperti yang dilakukan hacker black
hat”, kata Kyuhyun sambil membuka pintu kamarnya.
“Hmm..aku tidak janji”, kata
Sunyoung. Pikiran pikiran licik terlintas di kepalanya. Rasanya senang sekali
ia bisa menghack email para musuhnya di sekolah, membajak akun jejaring sosial
orang orang yang tidak ia suka, atau bahkan mengetahui data pribadi orang orang
yang membuatnya penasaran.
“Kenapa? Bukankah kau maunya
menjadi hacker white hat?”, tanya Kyuhyun heran.
“Yah, kita lihat saja nanti”,
ujar Sunyoung tidak sabaran. Baginya,hacker
black hat dan white hat itu sama saja. Kan sama-sama hacker, bukankah
begitu?
Flashback : Off
Sunyoung tersenyum sendiri
mengingat hal itu. Tersenyum dipaksakan, sebenarnya. Ia harus berterima kasih
kepada Kyuhyun. Sekarang membajak email, menembus proteksi akun akun paling
rahasia, menghidupkan laptop tanpa menggunakan tombol power, dan mengetahui
password opening saat membuka laptop bukan perkara sulit baginya. Dalam waktu
sepuluh menit, hal itu bisa beres dengan keahlian Sunyoung.
“Dulu Kyuhyun menyuruhku untuk
menggunakan ilmu hacker ku untuk hal hal baik, tapi dia sendiri?”, batin
Sunyoung miris. Ia menggeleng gelengkan kepala mengingat hal itu lagi. Sebuah
kenangan pahit, memang. Kenangan pahit yang mencambuknya, seakan memberinya
pelajaran. Sunyoung lagi lagi tersenyum. Ia harus berterimakasih beratus ratus
kali pada Kyuhyun.
Langkahnya yang gontai,
menyiratkan betapa hampanya dirinya sekarang. Sunyoung merasa ia tidak
diinginkan lagi hidup di dunia ini. Ia merasa semua orang akan senang kalau ia
tidak lagi hidup. Ia merasa semua orang meninggalkannya perlahan lahan,
membuatnya terperangkap dalam dunianya sendiri. Sunyoung tidak bisa lepas dari
jeratan pilu dan rindu, semua kesunyian dan rasa frustasi seakan menguncinya.
Namun Sunyoung kembali ingat. Ia hanya boleh menangis saat diperlukan saja. Ia
pun tersenyum meratapi hidupnya yang berantakan sekarang. Pikirannya kembali
menembus dunia masa lalu, masa masa yang paling berkesan dan berbekas dalam
hatinya.
Flashback : On
“Kyu, bisa tolong ajarkan aku
yang ini?”, kata Sunyoung sambil menunjuk ke sebuah soal yang dari tadi pagi
belum ia temukan solusinya. Ia memutar mutar pensilnya dan mengerutkan dahi.
Soal matematika macam apa ini? pikirnya.
“Oh itu”, jawab Kyuhyun enteng.
“Ini sih gampang. Masa kau tidak bisa?”.
“Aku tahu kau pintar”, ujar
Sunyoung sambil memajukan bibirnya. Kyuhyun tertawa melihat tingkah Sunyoung
dan menjelaskan secara runtut penyelesaian dari soal itu. Mulai dari rumus
awal, angka mana yang di masukkan, sampai ke urutan terakhir. Dengan jelas dan
panjang lebar, tentunya. Tapi tidak membuat Sunyoung mengantuk. Biasanya dengan
mendengarkan penjelasan sensei nya di sekolah mengenai pelajaran matematika,
membuat kelopak mata Sunyoung seperti ditiban batu, berat sekali.
“Ooh, begitu”, kata Sunyoung
pendek setelah Kyuhyun berhenti memberikan penjelasan. “Aku mengerti”.
“Aku hebat kan?”, kata Kyuhyun
bangga. Sunyoung purapura membuang muka, dan beberapa detik kemudian suara tawa
Kyuhyun yang khas terdengar. Tawa itu menular. Sunyoung pun ikut tertawa.
Beberapa detik saja tertawa sudah membuat hati Sunyoung membaik. Walaupun tadi
pagi orang tua nya saling melontarkan kata kata paling kasar dan kotor yang
pernah didengarnya, Sunyoung tidak peduli. Toh lama lama mereka akan bercerai,
dan hal itu sejuta kali lebih baik daripada mendengar ocehan dan makian mereka
di dalam rumah itu.
Suara berdenting membuat Kyuhyun
menoleh ke arah laptop yang dibiarkannya saja terbuka. Ada email masuk,
batinnya. Ia segera beranjak ke depan laptopnya dan membuka email masuk
tersebut. Sunyoung duduk di sebelahnya dan ikut menatap layar laptop juga.
“Kau janji ya jangan memberi tahu
isi email ini pada siapa-siapa?”, kata Kyuhyun sebelum membuka emailnya.
“Memangnya kenapa?”, tanya
Sunyoung heran.
Kyuhyun tidak menjawab. Ia
membiarkan tulisan di layar laptopnya yang menjawab. Sunyoung membacanya dan
terkesiap. Ia melongo, hampir tidak percaya bahwa Kyuhyun adalah seorang hacker
andal dan tidak di ragukan.
From : S. Paul <steven_paul@gmail.com>
To : Black Lusavore <black.lusavore@yahoo.com>
Subject : A new project
Permintaan untuk menembus jaringan perusahaan
elektronik di Perth, Australia. Tolong copy semua rancangan produk mereka dan
kirimkan secepatnya. Bayaran $25.000, DP sudah dikirimkan 25 %. Reply untuk
menerima dan mendapatkan rincian tugas lebih lanjut.
“Jadi…kau…”.
“Biar aku yang menjelaskannya”, kata
Kyuhyun, membuat Sunyoung terdiam. “Aku adalah seorang hacker. Dari kecil
orangtua kandung ku sudah mengenalkanku pada komputer dan teknologi. Lama
kelamaan aku tertarik dan makin mendalaminya. Hingga suatu saat ayahku menitipkanku
sebuah flashdisk berisi file-file. Ia bilang, aku tidak boleh menghapusnya. Aku
menurutinya, dan aku membuka satu persatu file itu. Ada beberapa file yang
berisi bahasa pemograman, cara untuk menembus sistem jaringan, dan berbagai
macam file yang berhubungan dengan dunia teknologi. Aku yang baru berusia 9
tahun mempelajari ilmu hacker dan pemograman jauh lebih dalam lagi, karena aku
juga sangat senang dengan dunia itu”.
“Hingga suatu saat kedua orangtuaku
meninggal dalam kecelakaan pesawat. Aku pindah ke Jepang, ke tempat bibiku.
Tapi bibiku seringkali bekerja keluar negri dan jarang pulang dan memberiku
uang. Aku bertekad untuk menjadi seorang hacker white hat, tapi karena tergoda
dengan iming iming uang aku pun berubah menjadi hacker black hat. Aku
seringkali diminta untuk menembus jaringan jaringan perusahaan yang sebetulnya
sangat rahasia, dengan bayaran yang tidak sedikit. Jadi..yah, sampai sekarang
aku adalah seorang hacker black hat. Sudah empat tahun ini aku menjadi seorang
hacker”.
Sunyoung pun tau alasan kenapa rumah
Kyuhyun bisa sebegini megahnya. Ternyata itu, karena kemampuannya. Sebenarnya
Sunyoung kagum, tapi ia juga merasa aneh. Seharusnya Kyuhyun menggunakan ilmu nya untuk hal-hal baik, bukan
hal-hal curang seperti ini. Tapi Sunyoung berpikir, pasti ia akan berbuat hal
yang sama seperti yang dilakukan Kyuhyun bila mendapat kesempatan seperti itu.
“Dan aku adalah buronan. Sudah banyak
polisi yang melacak keberadaanku tapi sampai sekarang aku tidak ditemukan. Dan
aku berharap untuk tidak ditemukan”.
Kyuhyun pun menekan tombol reply dan
mengetik dengan cepat, membuat balasan kepada orang yang bernama Steven Paul
itu. “Aku..aku tidak tahu harus bilang apa”, kata Sunyoung lemah. “Di satu sisi
aku kagum dengan kegigihanmu. Tapi disatu sisi aku juga menyayangkan kenapa kau
malah berbuat curang untuk mendapatkan uang”.
“Aku tidak berbuat curang !”, kata
Kyuhyun cukup keras. “Kau tahu apa sih tentang aku?”.
“Aku tahu, kau itu suka sekali bermain
games, tidak bisa memasak, pintar matematika, labil, dan—“
“Cukup !”, kata Kyuhyun terdengar
emosi. Sunyoung terdiam melihat Kyuhyun yang menatapnya tajam. “Kau tidak usah
ikut campur dengan caraku. Ini caraku untuk mendapatkan uang. Kau juga pasti
akan melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan jika kau punya keahlian
seperti ku kan?”.
Ia membaca pikiranku, batin Sunyoung.
“Mian, mianhae. Kau mau memaafkanku?”.
Namun Kyuhyun hanya diam. Sunyoung
makin merasa bersalah dengan aksi diam Kyuhyun. Akhirnya ia mengambil tas nya
dan beranjak pulang. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang. Dunia
seakan menjerumuskannya ke dalam lubang kepedihan hati yang paling dalam. Dan
Sunyoung harus terperangkap disana, tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia ingin
sekali menangis, menumpahkan rasa sesak di dadanya yang kian membuncah. Namun
ia tidak bisa. Dalam hatinya sudah tertanam kalau dia adalah seseorang yang
tegar, dan menangis di saat yang paling diperlukan saja.
Kenyataan itu membuat luka di hatinya
semakin mendalam. Orangtuanya sudah menyiksa batinnya dengan teriakan ratusan desibel yang tiap hari
melengking di dalam rumah nya yang sederhana itu, dan Sunyoung tidak bisa
berbuat apa-apa karena ia menganggap dirinya masih kecil, tidak boleh iku
campur dalam urusan mereka. Namun disisi lain, Sunyoung juga merasa ia memiliki
hak untuk disayangi sebagai anak, bukannya disiksa batin setiap hari. Ia
berusaha tersenyum untuk menyembuhkan luka hatinya. Sunyoung berprinsip untuk
bahagia dengan tersenyum, bukan tersenyum karena bahagia.
Sekarang Kyuhyun, sahabat satu-satunya
Sunyoung pun ikut menambah kepedihan luka di hatinya. Sunyoung merasa bodoh,
sangat bodoh, melontarkan kata-kata tadi. Ia menatap rumah Kyuhyun yang
sekarang berjarak 100 meter di
belakangnya dan tersenyum miris. Sunyoung sangat suka bersahabat dengan Kyuhyun
yang cuek dan suka membantah, sangat suka. Sampai sebuah perasaan yang tidak
pernah di rasakannya muncul dalam hatinya, membuat Sunyoung selalu terbayang
bayang dengan Kyuhyun sepanjang hari. Beginikah rasanya mencintai seseorang?
batin Sunyoung. Ia selalu bertanya tanya tentang hal itu. Sepanjang hidupnya ia
belum pernah merasakan jatuh cinta, dan sekali ia merasakannya semua terasa
sakit, pilu.
Untuk apa aku hidup? kalimat itu
terlintas di benaknya, seiring dengan jatuhnya setetes demi setetes air hujan
yang tidak mampu dibendung oleh awan
lagi. Kadang perasaannya juga sama seperti awan. Jika awan sudah tidak mampu
membendung uap air, ia akan menumpahkannya ke bumi sebagai hujan. Sama seperti
perasaan Sunyoung. Sudah lama ia menahan perasaannya, dan kali ini ia menyerah.
Ia menumpahkan semuanya dalam tangisan yang ditahannya sejak lama. Tangisannya
benar benar pilu, menyiratkan semua perasaan yang tak pernah diungkapkan. Semua
terasa menyakitkan.
“Tuhan, bantu aku agar terus hidup”,
gumamnya.
~***~
Sesampainya dirumah, Sunyoung heran
mengapa banyak sekali orang berdatangan di rumahnya. Di lihatnya sebuah peti putih suci seukuran
manusia dengan salib di ujung nya, dan nafas Sunyoung seperti tercekat. Paru
parunya sepertinya enggan menerima oksigen lagi. Ia buru buru berlari ke arah
peti tersebut tanpa menghiraukan sekujur tubuhnya yang basah.
“AYAH !”, teriaknya begitu keras sambil memandang isi peti mati berwarna
putih suci itu. Air mata muncul lagi, dan jatuh dengan deras dari kedua bola mata
Sunyoung. “Ayah, bangun, jangan bercanda padaku !!”.
Beberapa kenalan Ibu dan Ayah mengelus
elus pundak Sunyoung dan ikut menangis
bersamanya. Ibu juga memeluk Sunyoung dengan erat, erat sekali, sampai ia bisa
merasakan hembusan nafas wanita yang sudah mengandung dan membesarkannya di
kepalanya. Sunyoung menangis sejadi jadinya. Ini semua terlalu berat untuk di
terimanya. Terlalu berat. Ia tidak percaya terakhir kalinya melihat wajah Ayah
adalah pagi tadi. Sunyoung menangis dan membiarkan tubuhnya lunglai, jatuh
perlahan lahan ke lantai. Dunia benar benar tidak berpihak kepadanya. Semua
beban seperti mengahantamnya dan menertawai Sunyoung yang sedang menangis.
“KENAPA? TUHAN, KENAPA KAU AMBIL
AYAHKU? KENAPA??!!”, jerit Sunyoung sekeras mungkin, meluapkan semua isi
hatinya.
“Youngi-ah…”, panggil ibunya. Wanita
itu memeluk putri satu satunya begitu erat dan mencium keningnya. “Dia sudah
pergi nak. Relakan dia…”.
“Kenapa harus sekarang? KENAPA? Kenapa
ia pergi ketika aku belum tahu rasanya disayangi kedua orangtuaku? YA TUHAN,
KENAPA?”, kata Sunyoung dengan air mata yang berlinang terus menerus.
“Youngi-ah, semua sudah ada yang
mengatur”, kata ibunya perlahan. Sunyoung menghapus air matanya dan memeluk
ibunya lagi. Beberapa kerabat pun ikut menangis terharu melihat kejadian di
depan mereka. Hari ini benar benar hari penuh tangis. Hari yang sudah
direncanakan Tuhan untuk jadi hari yang paling menyedihkan bagi Sunyoung.
Ayahnya sudah tidak ada. Sekarang apa?
Bagaimana ia bisa hidup?
Kyuhyun pun menjauhinya.
Semua terasa mengubur Sunyoung sedalam
mungkin. Sampai ia lupa bagaimana rasanya bahagia.
Flashback
: Off
Sunyoung tersenyum, padahal air
matanya mengalir dan jatuh ke atas gundukan tanah merah yang hampir berubah
menjadi putih karena butiran salju yang menerpa. Tidak ia pedulikan derasnya
salju yang jatuh ke pundaknya dan mencair disana. Yang ia rasakan hanyalah
rindu, saat menatap nisan ayahnya.
“Park Tae Woo. 12/07/1955 – 25/11/2003”
Tulisan di nisan tesebut makin membuat
hati Sunyoung remuk redam. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa rindu
kepada ayah tercintanya yang sudah meninggalkannya bahkan sebelum ia lulus SMA.
Tapi Sunyoung tahu, semua sudah ada yang mengatur. Dan kematian Ayahnya pasti
sudah di atur oleh yang di atas.
Salahkan aku kalau aku berharap takdir
bisa diubah? batinnya sambil melihat ke arah langit yang terus terusan
menjatuhkan salju dengan angkuhnya.
Flashback
: On
Sudah enam bulan lebih sejak kematian
ayahnya dan aksi berdiam diri dengan Kyuhyun. Ibu Sunyoung bertekad akan pindah
dari kota ini dan menetap di Seoul, di kota kelahirannya, tepatnya di rumah
adik Ibunya. Sunyoung menerima saja semua perkataan ibunya. Ia terlalu lelah
untuk membantah. Semua beban di pundaknya malah tidak menyurutkan niat
belajarnya. Malah ia semakin giat belajar, untuk bisa mencari kerja suatu saat
nanti. Dan semua ada hasilnya. Saat kenaikan kelas Sunyoung mendapat predikat
juara umum. Dengan bangga ia tersenyum dan berjalan di koridor dengan ibunya
setelah penerimaan rapor. Tidak ia hiraukan bisik bisik orang iri yang
membicarakannya di belakang. Persetan dengan mereka semua, batin Sunyoung. Yang
penting aku mendapatkan semua ini dengan kerja keras.
Bulan demi bulan berlalu. Akhirnya
tiba lah tanggal itu. 25 November 2004, satu
tahun semenjak kepergian Ayahnya. Sunyoung tersenyum saat menyentuh
makam ayahnya. Ia tidak ingin mengecewakan Ayahnya dengan hanya bermuram durja
tiap hari. Sekejam apapun ayahnya, Park Tae Woo tetap ayah satu satunya yang
sangat di cintainya.
“Ayah, apakah ayah senang disana?
Apakah impian ayah bisa tercapai di sana? Oh iya, Ayah, ceritakan dong padaku
bagaimana rasanya, senang atau tidak? Apa Ayah mendapat tempat tidur paling
nyaman di sana? Ayah, disana ada telefon tidak, aku kangen sekali dengan Ayah.
Kalau ada hubungi aku, ya? Akan aku angkat, selalu. Ayah, apakah disana Ayah
menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya? Kalau iya bagaimana kalau Ayah bagi
denganku? Aku sudah lupa dengan rasa bahagia Ayah. Ayah, jawab aku, jangan diam
saja. Aku kangen Ayah”, kata Sunyoung sambil tersenyum. Ibuku menatap Sunyoung
sambil menangis, dan mengelus makam suaminya dengan lembut. Sunyoung membiarkan
air matanya jatuh dalam senyuman yang terbentuk di wajahnya.
Ayah, jangan lupakan kami ya? batinnya
pilu.
~***~
Sehari sebelum Sunyoung pindah ke
Seoul, ia benar benar nekad untuk pergi ke rumah Kyuhyun. Sunyoung menekan bel
rumahnya dengan mantap dan takut takut menghadapi resiko apa saja yang akan
diterimanya. Semoga aku berhasil. Ia mengelus elus amplop krem yang terselip di
antara kedua tangannya.
Namun rasa kecewanya meluap-luap
ketika mendapati yang membukakan pintu bukanlah sesosok Cho Kyuhyun yang jauh
lebih tinggi darinya. Melainkan bibinya, yang menatap Sunyoung heran. Sunyoung
menelan rasa kecewanya dan tersenyum.
“Ada apa nak?”, tanya bibinya.
“A..aku..aku teman Kyuhyun. Aku ada
keperluan dengan Kyuhyun. Apa dia ada?”.
“Ah…gomen, dia sedang pergi menginap.
Dua hari lagi ia akan pulang. Ada apa?”.
Sunyoung menyerahkan amplop krem itu
dan tersenyum. “Aku menitipkan ini saja. Tolong berikan kalau dia sudah pulang.
Arigatou”, kata Sunyoung sambil membungkuk 90 derajat. Sunyoung pergi berjalan
meninggalkan rumah itu dengan pilu. Itu adalah terakhir kali ia mengunjungi rumah
itu. Dan mungkin ia tidak akan pernah kembali lagi kesana. Terlalu sakit
rasanya.
Dan Sunyoung membiarkan perasaan
cintanya terkubur dalam dalam. Ia yakin saking dalamnya perasaan itu terkubur,
perasaan itu tidak mungkin lagi mencuat muncul ke permukaan. Ia sudah bertekad
untuk melupakan semuanya, semua hal yang Kyuhyun lakukan padanya, semua canda
dan tawa Kyuhyun, dan saat ketika pertama mereka bertemu…
~***~
Sunyoung keluar dari tempat ia menimba
ilmu selama 3 tahun ini dengan bangga. Lulus dengan IP 3,7 adalah sebuah hal
yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan predikat Sarjana Ekonomi yang
baru disandangnya, Sunyoung tersenyum dan menatap langit musim semi yang begitu
menyejukkan pandangannya. Semilir angin meniup rambutnya ke atas. Sunyoung
merasa semua kerja kerasnya berbuah hasil yang sangat memuaskan. Ia akan
melamar kerja dan menghidupi Ibunya. Ya, ia akan berusaha. Berusaha membuat
hidupnya berarti, membuat hidupnya berharga. Meskipun novel novel Sunyoung
sudah beredar, ia masih merasa harus menghidupi ibunya lebih keras lagi.
Dan perasaan Sunyoung pada Kyuhyun sepertinya sudah terhapuskan.
Selama 8 tahun ini ia berusaha melupakan Kyuhyun, dan sedikit demi sedikit ia
melupakannya. Sunyoung kembali tersenyum mengingat saat pertama kali mereka
bertemu. Sungguh aneh. Tapi tidak mungkin ia lupa. Semua sudah direncanakan
seperti itu, dan tugas Sunyoung hanyalah : menerimanya.
Flashback
: Off
Sunyoung beranjak dari makam Ayahnya
dan berjalan ke luar pemakaman. Ia melangkah ke sebuah rumah yang hampir tidak
mungkin ia lupakan. Bahkan ia masih ingat dengan jelas jalan masuk ke rumah
itu. Rumah Kyuhyun, yang sekarang masih dihuni bibinya. Kyuhyun? Ia sudah
berada di balik jeruji besi, dengan tuduhan menyalahgunakan teknologi. Sunyoung
lagi lagi tersenyum.
“Kau bilang kau tidak akan terlacak.
Buktinya sekarang kau ada di penjara…”, kata Sunyoung sambil tertawa kecil. Ia
memegang pagar itu dan menatap ke halaman yang terbentang di dalamnya. Sungguh,
ia merindukan rumah itu. Dan segala yang terdapat di rumah itu, termasuk
penghuninya.
“Kyuhyun…kembalilah padaku..jebal..”,
pintanya sambil menangis dan terduduk di depan tembok pagar yang sudah dipenuhi
salju. Sunyoung terus membiarkan air mata pilu itu membasahi pipinya dan mantel
yang ia kenakan. “Aku mencintaimu…”, gumamnya. Ia pun terisak dengan kuat dan
yakin tidak ada orang yang mendengarnya karena suara salju yang menimpa semua
yang dihampirinya.
“Aku juga”.
Sunyoung menoleh ke arah suara dan terbelalak.
Seorang laki laki yang tinggi, yang sangat ia kenali kini berdiri di samping
dirinya yang sedang terduduk. Ia menatap nya begitu lama, sampai ia tidak bisa
berkata apa-apa. Terlalu sulit untuk di percaya.
“Kyuhyun….”.
“Hai, Sunyoung. Delapan tahun tak
berjumpa. Aku merindukanmu”, katanya santai. Sunyoung langsung berdiri dan
memeluknya, seakan tidak mau melepaskannya lagi, selamanya. Ia terisak di bahu
Kyuhyun dan membiarkan air matanya terus jatuh.
“Aku sangat merindukanmu, hacker”, kata Sunyoung sambil
menekankan satu kata terakhir. Kyuhyun hanya tertawa mendengar perkataan gadis
yang sudah delapan tahun tidak ia temui ini.
“Kenapa kau bisa ada disini?”, tanya
Sunyoung heran, mengingat seharusnya Kyuhyun masih mendekam di penjara.
“Aku mendapat remisi karena aku tidak
bermacam-macam di penjara. Jadi aku bisa pulang awal bulan ini”, kata Kyuhyun,
masih memeluk Sunyoung.
“Kau bilang apa tadi? Kau
mencintaiku?”, tanya Kyuhyun langsung. Sunyoung langsung membeku dan melepaskan
pelukannya dari Kyuhyun.
“Aku juga mencintaimu”, kata Kyuhyun
tanpa membiarkan Sunyoung menjawab. Sunyoung tersenyum mendengar pernyataan
Kyuhyun. Semua perasaan gundahnya seakan runtuh, semua digantikan dengan senyum
manis yang menghiasi wajahnya karena perkataan itu. Saking bahagianya Sunyoung
memeluk Kyuhyun lagi, meluapkan rasa bahagianya.
“Aku menunggumu selama 8 tahun Kyu. 8
tahun, bayangkan? Aku sampai lupa caranya bahagia. Semenjak kepergian ayahku
dan aksi diam diaman yang kau lakukan…aku merasa dunia semakin menyudutkanku.
Tapi..tapi..ternyata benar yang kau bilang”, jelas Sunyoung mengingat ingat
lagi perkataan Kyuhyun delapan tahun yang lalu. “Sekarang roda kehidupanku
sudah bergerak, karena aku sendiri yang berusaha menggerakkannya dengan Tuhan
yang selalu ada di sisiku. Terimakasih Kyu, aku…aku benar benar mengingat semua
saran yang kau berikan padaku”.
Kyuhyun tersenyum dan menyibakkan
salju dari rambut gadis berusia 23 tahun itu. “Aku juga berterimakasih padamu.
Surat yang kau tinggalkan masih ku simpan, tidak ku buang. Setiap aku
merindukanmu, aku melihat lagi surat yang kau berikan dan tulisan tanganmu.
Semua cukup bagiku”.
Sunyoung menatap salju yang semakin
menebal dan mengusap-usapkan kedua tangannya yang ditutupi sarung tangan wol
hitam. “Bagaimana, aku bisa jadi penulis
kan? Kau pasti bisa menilai hasil tulisanku dari surat itu”.
Kyuhyun tertawa kecil dan mendorong
Sunyoung pelan. “Aku selalu disisimu. Aku mendukung semua usaha baikmu, kok”.
“G..gomawo..”, kata Sunyoung begitu
perlahan. “Aku harap semua ini bukan mimpi”.
Dan kenyataannya, semua memang bukan mimpi
. Sunyoung melihat ke arah langit yang cukup gelap, tidak menghiraukan butiran
salju yang menimpa wajahnya. Begitu pula Kyuhyun. Semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah, mimpi yang
nyata. Mimpi yang menjelaskan arti cinta dan kehidupan, dan bagaimana hidup
memperlakukanmu sebagai mana kau memperlakukannya.
Request dong, buatin FF Donghae :)
BalasHapusklo Kyu udh srg bgt... Hhe
Mnta Follownya ya~
di blog 2 ku Http://mal-amal.blogspot.com
thanks chingu...
@puji : thanks bgt :)))))
BalasHapus@amalia key: alur cerita nya aku atau kamu yg nentuin? one shot atau chapter? :D
@amalia_key : sori aku gabisa bikinin ff nya minggu ini, mungkin minggu depan lah ya :) mianhaee
BalasHapusOKee...
BalasHapusChapter aja sih biar bikin penasaran dan ada gregetnya....
terserah aja alurnya, aku ngikut..
yg romantis ya :)
@amalia_key : okedeeh sip2 ^^ maybe minggu depan yah :)
BalasHapusKasih tau aku ya ntr klo udh dipost :)
BalasHapus