Jumat, 23 Desember 2011

My One Shot FF :)


Hai, hai haiiii. Aku datang membawa ff one shot ku yang gajeeeehhhhh banget. Maklum ya aku baru empat bulan kenal ff ya,…..jadinya gini. Kalo udah baca ff aku yang membosankan plus gaje ini, jangan lupa COMMENT ya, yang pedas banget juga gak apa-apa. Akan aku jadiin motivasi buat ff selanjutnya, hehe. Selamat menikmati hidangan ff ku yang supa dupa gajewhh ^^

City of Memories

Dingin menusuk tulang. Ini lah yang dirasakan Sunyoung sekarang. Bukan hanya menusuk tulang, tapi rasa dingin itu seperti merasuk ke dalam hatinya, membuat luka di hatinya semakin perih terasa. Ia berusaha menahan bulir air mata yang hendak keluar dari mata nya, walaupun sulit. Kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan yang tak bisa dilupakannya, sekeras apapun ia mencoba dan berusaha. Semua memori dan kenangan itu seperti terpatri abadi dalam otaknya. Cara satu satunya untuk menghilangkan kenangan itu adalah dengan menghentikan kerja otaknya dan seluruh yang di kendalikannya. Also known by death.
Tokyo, sebuah kota yang modern dan peradabannya maju, merupakan sebuah kota yang menyimpan banyak kenangan pahit bagi Sunyoung. Saking pahitnya ia sampai tidak bisa merasakan apapun, kecuali hampa. Hampa karena ditinggalkan oleh orang yang disayanginya, hampa karena tidak memiliki seorang yang berarti disisinya, hampa karena disinilah awal mimpi buruk itu dimulai.
Flashback : on
 PRANG !
Entah sudah keberapa piring dan gelas yang pecah di rumah ini, Sunyoung tak tahu dan memilih untuk tidak ingin tahu. Ia seakan menutup telinganya rapat rapat dari teriakan dan bunyi pecahan benda benda yang ada di rumahnya. Keluarga yang tidak harmonis merupakan sebuah beban berat bagi Sunyoung yang baru 15 tahun menjadi warga negara bumi. Ia merasa iri pada kawan kawannya yang mempunyai orangtua lengkap dan selalu bahagia, tidak seperti orangtuanya. Usia ibu Sunyoung yang terpaut 12 tahun lebih muda dari Ayahnya seperti nya menjadi penyebab dari perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka berdua.
“Aku berusaha mencari uang untuk kalian, sampai pulang larut, tapi kau malah menuduh yang tidak tidak ! APA YANG ADA DI PIKIRANMU? JAWAB AKU!”.
“KAU PASTI MENGUNJUNGI WANITA DURJANA ITU LAGI !”, jawab ibu Sunyoung dengan teriakan yang jauh lebih keras dari ayahnya. “TIDAK USAH KAU ELAKKAN LAGI !! SEMUA SUDAH JELAS KAN?”
“Sudah jelas apanya? KAU SEENAKNYA SAJA MENUDUHKU SEPERTI ITU ! Coba kau lihat dirimu sendiri, jauh lebih PARAH DARIKU, TUKANG SELINGKUH !”
“Kau juga menuduhku !”.
“KARNA KAU MENUDUHKU DULUAN  !”.
Dentuman musik yang mengalir dari headset ke telinga Sunyoung tidak bisa menahan semuanya. Sunyoung muak. Marah dengan kedua orangtuanya. Kalau mereka tidak saling mencintai, kenapa mereka menikah? Lebih baik aku melihat mereka berpisah daripada bertengkar seperti ini, batinnya.
Tak tahan dengan kondisi yang dihadapinya, Sunyoung menemukan sebuah ide.
Sunyoung mengganti baju rumahnya dengan sweater dan jins. Kemudian ia mengambil tasnya, mengisi dengan beberapa pakaian, buku, dompet, dan semua gadget yang ia miliki. Rumah ini harus ku tinggalkan, katanya dalam hati. Ia pun berniat untuk pergi ke rumah bibinya di Yokohama sekarang. Walaupun cukup jauh dan membutuhkan waktu 45 menit menggunakan kereta dari Tokyo, Sunyoung tidak peduli. Ia terlalu lelah dengan teriakan kedua orangtuanya. Meskipun orangtuanya tidak pernah menyiksanya secara fisik, tapi ia tersiksa secara batin.
Lewat jendela kamarnya, Sunyoung pun melompat dan berlari menuju teras. Ia memakai sepatunya dan berjalan ke luar. Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tidak mungkin ia menginap di rumah bibinya sekarang, beliau akan terganggu. Sunyoung pun menghela nafas panjang dan berusaha menahan rasa sesak karena campuran berbagai emosi. Ia berjalan keluar dari kompleks perumahannya, dan kini ia tiba di pinggir jalan raya.
Kota Tokyo pantas di sebut sebagai “City that never sleeps”. Buktinya jam sembilan lewat saja macet masih terjadi di berbagai titik di jalan raya. Sunyoung tak habis pikir, apakah orang orang para pekerja itu pernah lelah? Apakah waktu tidur mereka cukup, dibandingkan dengan kegiatan segunung yang harus dikerjakan setiap hari? Sebagai pelajar kelas 1 SMA saja Sunyoung sudah merasa sangat lelah dengan semua kegiatan yang menguras tenaga di sekolah. Apalagi dengan para pekerja yang berusaha mati matian mencari uang, Sunyoung tidak bisa membayangkannya.
Sunyoung memutuskan untuk menginap di motel saja. Bukannya tidak punya uang untuk menginap di hotel berbintang, tapi Sunyoung sudah di didik sejak dulu untuk tidak memfoya foyakan uangnya. Di didik oleh kedua orangtuanya yang tidak pernah akur, dan sepertinya akan berpisah sebentar lagi.
Ada motel yang terdapat dekat kompleks perumahannya yang berada di pusat kota, dan Sunyoung berniat untuk menginap di sana saja sampai besok. Untungnya besok hari Minggu, jadi Sunyoung tak perlu repot dengan sekolah. Ia memutuskan untuk berjalan kaki, karena kalau naik bus akan sampai lebih lama dari jalan kaki, mengingat jalanan yang benar benar macet sekarang. Sunyoung berjalan dengan gontai. Perlahan lahan air mata mengalir dari sudut sudut matanya. Perasaan yang selama ini dia pendam, kini tersalurkan dengan air mata. Sunyoung menghapus airmatanya dan mengingat kata kedua orangtuanya yang nyaris ia benci sekarang. “Menangislah saat benar benar diperlukan, dan jangan tanamkan pribadi yang cengeng dalam dirimu. Setiap perempuan harus tegar, tidak boleh lemah”.
Sunyoung merasa ia harus menangis sekarang. Air matanya jatuh terus menerus meskipun otaknya sudah menyuruh menghentikannya. Tapi hatinya melawan, dan terus membiarkan air matanya jatuh. Sudah berapa tahun dia tidak menangis, ia hanya memendam semua perasaan nya dan menyalurkannya ke sebuah buku diary putih kesayangannya. Sunyoung hampir tidak punya teman karena pribadinya yang individualis dan sulit beradaptasi. Ia seakan punya dunianya sendiri, dan hal itu disebabkan perilaku kedua orangtuanya.
Karena terus menangis dan menatap ke arah trotoar, tanpa sadar ia menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Sunyoung tidak berani  menatap orang tersebut. Mata yang memerah bukanlah sebuah ekspresi yang pantas diperlihatkan pada orang tersebut.
“Aish, gomenasai, nona. Aku tidak melihat jalan”, suara berat dari orang itu terdengar di telinga Sunyoung. Sunyoung menghapus air matanya dengan punggung tangan dan berusaha tersenyum.
“D..dai..daijobu, tidak apa-apa. Aku seharusnya memperhatikan jalan. Permisi”, kata Sunyoung sambil berjalan meninggalkan pria itu.
“Tunggu nona”, kata orang itu. Sunyoung berhenti dan tidak menoleh ke arah sumber suara. Ia takut pria itu akan berlaku yang macam macam pada dirinya. Namun sepertinya tidak. Orang itu berjalan menghampiri Sunyoung dan berdiri di hadapannya.
“Kau kenapa menangis? Bisa kau ceritakan padaku?”, tanyanya. Merasa heran, Sunyoung pun berjalan lagi dan laki laki itu mencegatnya.
“Maaf, aku diajarkan untuk tidak berbicara pada orang asing”, kata Sunyoung tajam.
“Aku bersumpah aku tidak akan mencelakakanmu”, ujar orang itu sambil menatap Sunyoung. Sunyoung menatapnya balik. Cukup tampan, batinnya. Tapi itu bukan jaminan kalau dia orang baik baik. Lama mereka bertatap tatapan, dan tidak ada yang berbicara.
“B..baiklah”, balas Sunyoung. “Apa yang kau mau?”.
“Siapa namamu?”.
“A..aku… Park Sunyoung. Namamu?”.
“Kau berasal dari Korea ya?”.
“Haruskah kau mengetahuinya?”, kata Sunyoung.
“Karena aku juga berasal dari negara yang sama”.
Sunyoung menelan ludah dan menatap orang asing itu. “Benarkah? Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa namamu?”.
“Hm..namaku Cho Kyuhyun, senang berkenalan denganmu Sunyoung-ssi”, kata laki laki yang ternyata bernama Kyuhyun tersebut.
“Senang berkenalan denganmu juga Kyuhyun-ssi”, ujar Sunyoung. “Sekarang apalagi? Aku harus pergi”.
“Pergi? Apa yang kau pikirkan?”.
“Kau tidak perlu tahu”, kata Sunyoung ketus. “Kau sendiri? Apa yang kau lakukan?”.
“Ah..aku..aku bosan di rumah. Bagaimana kalau kau ke rumahku?”.
“Maaf, aku akan pergi menginap ke sebuah motel, jadi aku—“
“Ke rumahku saja, disana jauh lebih nyaman daripada di motel. Ada pembantuku di rumah, dia tidak akan tahu kau menginap. Tenanglah, aku tidak akan macam macam padamu”.
“Orangtuamu?”.
“Mereka…bekerja di luar negri”, jawab Kyuhyun sedikit lemah. “Ayolah, kalau aku berbuat macam macam teriak saja sekencang kencangnya sampai tetanggaku terbangun”.
Sunyoung tersenyum sedikit dan menatap Kyuhyun yang juga sedang tersenyum. “Boleh lah, untuk malam ini saja ya?”.
Kyuhyun menggandeng tangan Sunyoung dan berjalan menyusuri trotoar. Pertamanya Sunyoung agak canggung menerima perlakuan Kyuhyun  tapi lama lama ia terbiasa. Motor, mobil, dan kendaraan lainnya bersuara dari jalan raya, dan mereka berdua menganggapnya seperti tidak ada. Mereka sendiri hanya diam, sampai mereka tiba di sebuah rumah yang benar benar megah. Bertingkat dua dan warnanya mencolok, dengan pagar hitam tinggi yang membatasi rumah itu dengan jalan raya.
“Wow”, kata Sunyoung kagum. “Hebat. Apa pekerjaan kedua orang tuamu?”.
Kyuhyun paling tidak suka ditanya hal hal seperti itu. Memangnya kalau dia tau pekerjaan orangtuanya, ia akan meminta rumah itu juga pada orang tuanya? Tidak kan?
“Gomen, kalau kau tidak mau memberi tahu”, kata Sunyoung mengikuti Kyuhyun yang sedang menutup pagar.
“Pokoknya kedua orangtuaku tidak bekerja yang aneh-aneh. Mereka ada diluar negri dan kurasa itu saja yang perlu kau ketahui”, ujar Kyuhyun dingin. Sunyoung makin merasa bersalah karena pernyataan Kyuhyun tadi.
“Gomennasai, Kyuhyun-ssi. Aku benar benar minta maaf”.
“Abaikan saja”, kata Kyuhyun. Sunyoung pun masuk ke dalam rumah Kyuhyun yang sepi, mungkin suara jarum jatuh saja akan terdengar disini. Rumahnya didominasi dengan warna cokelat dan krem. Lampu lampu masih menyala dengan terang di sudut sudut ruangan. Berbagai pajangan dan guci guci mahal berjajar rapi di ruang tamunya. Hal ini mengindikasikan kalau keluarga Kyuhyun memang benar benar berada. Ia mulai merasa was-was dan takut Kyuhyun akan berbuat yang macam-macam, saking sepinya suasana di rumahnya tersebut.
“Jangan takut begitu. Aku tidak akan berbuat yang macam-macam”, ujar Kyuhyun seakan menebak pikiran Sunyoung. Sunyoung hanya diam dan berjalan menaiki tangga, menyamakan langkahnya dengan Kyuhyun.
“Silakan masuk”, kata Kyuhyun sambil membuka sebuah pintu berwarna putih, yang menjadi jalan masuk ke kamarnya. Sunyoung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Luas sekali, itu yang pertama ada dalam batinnya. Kamar ber cat biru tua itu hanya berisi sebuah tempat tidur, sebuah lemari baju, sebuah meja belajar, dan sebuah rak buku. Yang menarik perhatian Sunyoung adalah rak buku yang berisi ratusan judul buku—mulai dari Ensiklopedia setebal kasur sampai komik yang tipis—dan sebuah meja belajar yang diatasnya terdapat seperangkat komputer dan dua buah laptop keluaran terbaru yang harganya selangit. Sunyoung hampir mendecak kagum melihat laptop itu. Sebagai seorang yang selalu mengikuti perkembangan gadget gadget terbaru, Sunyoung pasti tau berapa kisaran harga laptop tersebut.
“Kau mau tidur dimana?”, tanya Kyuhyun.
“Hm..terserahmu saja. Dimana kau mau sajalah”, ujar Sunyoung. Ia juga tahu diri, tidak mungkin ia meminta tidur di atas tempat tidur King Size nya.
“Kalau begitu disini saja”, kata Kyuhyun sambil menepuk nepuk kasurnya sendiri. “Tenang, aku pasti memegang janjiku”.
Sunyoung berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggirnya. Ia menghela nafas berat seraya menjatuhkan tas nya ke lantai. Tiba tiba ponselnya berbunyi nyaring dan ia segera mengambilnya dari saku celana.
Orangtuanya menelfon. Hah, Sunyoung merasa miris mengetahui kalau orang tua nya (pura-pura) khawatir padanya.
Sunyoung menunggu telfon tersebut berhenti. Kemudian setelah berhenti, ia cepat cepat mematikan ponselnya dan membantingnya asal ke lantai. Air matanya mulai jatuh lagi tanpa bisa ia bendung. Kyuhyun yang akan berjalan keluar berbalik lagi ke arah kasurnya dan mendengar Sunyoung menangis.
“Sunyoung-ssi….”, kata Kyuhyun pelan, lalu duduk di sebelah Sunyoung. Ia merangkul Sunyoung perlahan, dan memastikan ia tidak melawan. Dan ternyata memang tidak.
“Kau bisa bercerita padaku”, ujar Kyuhyun berusaha meyakinkan Sunyoung. Sunyoung hanya diam dan mengumpulkan suaranya untuk bercerita pada Kyuhyun. Akhirnya ia menumpahkan segala keluh kesah dan perasaannya di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun mendengarkan semua cerita Sunyoung dengan baik, dari A sampai Z. Sunyoung masih menangis, bahkan ia sampai sesenggukan. Kyuhyun mendekap Sunyoung perlahan dan membiarkan gadis itu menangis di bahunya. Walaupun hanya mendengarkan cerita Sunyoung, Kyuhyun seperti merasakan apa yang dirasakan gadis itu. Ia membayangkan bagaimana bila kedua orangtuanya itu bertengkar dan tidak memperdulikannya. Kyuhyun seperti sudah mengenal Sunyoung selama bertahun tahun, padahal ia baru mengenalnya satu jam yang lalu. Ia merasa seperti orang yang selalu mengerti perasaan Sunyoung. Aneh, padahal waktu satu jam tidak akan cukup untuk semua itu.
“Sunyoung…mungkin saat ini kehidupanmu sedang ada di bawah. Tenang saja, Tuhan tidak akan membiarkanmu terus terusan di bawah. Sama seperti roda, tidak mungkin ia tidak bergerak kan? Kalau roda tidak bergerak pasti apa yang ada di atasnya tidak akan berjalan. Sama seperti hidupmu. Kuncinya hanya sabar, kalau kau sabar pasti Tuhan akan membuat kehidupanmu jauh lebih baik dari sekarang. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Kau harus percaya padaku, oke?”.
Perkataan Kyuhyun seakan menghipnotis Sunyoung. Buktinya Sunyoung terdiam, menghentikan tangisnya dan menatap Kyuhyun. Kyuhyun menghapus air mata Sunyoung yang masih tertinggal di pipinya dengan punggung tangan dan tersenyum pada Sunyoung. Sunyoung menatap wajah Kyuhyun yang hanya beberapa senti di depannya. Ia pun tersenyum balik dan hal itu membuat  Kyuhyun lega. Akhirnya, usahanya untuk membuat Sunyoung tersenyum berhasil.
“Arigato, arigato gozaimasu Kyuhyun”, kata Sunyoung tulus. “Terima kasih atas saranmu, aku sangat menghargainya”.
Kyuhyun mengelus elus punggung Sunyoung perlahan. “Sekarang kau pulang lah. Mereka pasti khawatir denganmu”.
“Aku tidak mau”, kata Sunyoung. “Mereka hanya pura pura khawatir padaku”.
“Tidak boleh berkata seperti itu, Sunyoung-ssi. Mereka pasti benar benar khawatir. Sejahat jahatnya orangtua di dunia ini pasti tidak ada yang ingin anaknya celaka kan? Ayolah Sunyoung, kau—“
“Aku hadir di dunia karena ketidak sengajaan, ingat?”, kata Sunyoung. Memang, saat muda orang tua Sunyoung suka berhura hura. Sampai suatu ketika ibu Sunyoung mendapati dirinya hamil. Mereka pun menikah di usia muda, yaitu pada saat usia ibunya 22 tahun. Sunyoung seperti merasa bersalah dengan kehadiran dirinya. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan dirinya sepenuhnya. Setengahnya adalah kesalahan orangtuanya juga, sebenarnya.
“Walaupun begitu, pasti mereka tidak mau melihat anak mereka satu satunya ini menderita dan terluka kan?”.
“Kalau begitu kenapa mereka selalu bertengkar? Bukankah itu juga membuat diriku menderita?”. Air mata Sunyoung kembali merebak.
“Mereka hanya terbawa emosi, Sunyoung”.
“Ya, mereka terbawa emosi selama bertahun tahun”, ledek Sunyoung. “Ayolah Kyu”.
“Yasudahlah, kau boleh pulang besok pagi. Ingat?”.
“Tapi aku boleh berteman denganmu kan?”.
“Kenapa harus?”.
“Aku..aku tidak punya teman”, kata Sunyoung lemah. “Mungkin kau bisa jadi teman baikku”.
“Mungkin saja”, balas Kyuhyun sambil tersenyum. Senyum yang tiba tiba membuat Sunyoung menjadi gugup. “Apa sih yang tidak mungkin di dunia?”.
Sunyoung sedikit tertawa mendengar perkataannya. Duh, tertawa itu enak sekali, batinnya. Sunyoung juga jarang tertawa. Ia lebih memilih diam kalau ada sesuatu yang menyenangkan. Hanya, baru beberapa detik ini saja ia memilih tertawa untuk mengekspresikan dirinya.
“Aku senang kalau kau tertawa”, kata Kyuhyun.
“Hah? Kenapa?”.
“Kau terlihat seribu kali lebih baik dari sebelumnya. Aku suka itu”.
“A..ah..gomawo”, balas Sunyoung. Ia merasa wajahnya memanas mendengar kata-kata itu.
“Malam ini aku biarkan kau disini, besok pagi kau harus pulang, arraseo?”.
“Ne..ne”, jawab Sunyoung.
“Oh iya, aku belum tahu umurmu dan hal hal secara garis besar tentangmu. Maukah kau menceritakannya?”.
Sunyoung menarik nafas cukup dalam dan menghembuskannya lagi. “Umurku 15 tahun. Sekarang aku bersekolah di Tadashi High School, masih kelas satu. Aku hampir tidak punya teman. Aku…aku kurang bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang lain, sehingga mereka menjauhiku. Aku sih tenang-tenang saja, kan aku masih bisa bersenang senang tanpa mereka. Karena itulah aku menyibukkan diri dengan membaca di rumah. Aku suka sekali membaca, buku itu…seperti teman terbaikku”, jelas Sunyoung panjang.
“Benarkah? Aku juga suka membaca”, tambah Kyuhyun. Sunyoung menatapnya tidak percaya dan tersenyum.
“Membaca apa? Majalah dewasa, huh?”.
“Heh, bukan !”, bantah Kyuhyun. “Aku suka sekali membaca novel. Semua jenis novel, aku suka. Terutama yang bertema misteri. Kau sendiri?”.
“Aku suka semua jenis buku. Dari ensiklopedi, novel, komik, buku biografi, buku pengetahuan, sampai majalah, aku suka”.
“Jadi selain membaca, apa hobimu?”.
“Aku suka menulis !”, kata Sunyoung semangat. “Menulis adalah dunia yang tepat untukku. Karena banyak membaca buku pengetahuanku jadi bertambah luas. Jadi aku menyalurkannya ke dunia tulis menulis”. Kyuhyun tersenyum mendengar perkataannya. “Bagaimana denganmu?”.
“Kalau aku…aku suka sekali dengan dunia teknologi”, jawabnya mantap. “Lain kali akan ku ajarkan kau menjadi hacker white hat. Kau tertarik?”.
“Sangat!”, kata Sunyoung seakan sudah lupa dengan kesedihannya. “Gomawo, Kyuhyun-ssi. Dari dulu aku belajar untuk menjadi hacker, baik black hat maupun white hat”. Hacker white hat adalah seorang hacker yang menggunakan kemampuannya untuk sesuatu yang baik, bukan untuk mencelakakan seseorang. Dan kini Sunyoung sudah punya seseorang yang bersedia mengajarinya.
“Sekarang tidurlah. Besok kau harus pulang, arra?”.
“Ne, ne. Pasti, aku akan pulang. Tenang saja”. Sunyoung pun tersenyum. Setidaknya hari ini ada sebuah keadilan.
Ia pun berbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya, berusaha mengakhiri harinya yang panjang. Dalam hati ia berharap, ketika matahari terbit keesokan hari semua ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir dengan membuka mata.
A few weeks later…
Sunyoung memencet bel yang berada di sebelah pintu rumah Kyuhyun berkali kali, namun Kyuhyun tak kunjung keluar. Sunyoung pun pasrah dan terus terus membunyikan bel. Lama sekali anak itu, batin Sunyoung.
“YAAA TUNGGU SEBENTAR!”, terdengar teriakan  Kyuhyun dari dalam. Sunyoung pun tersenyum. Akhirnya, anak itu menjawab juga. Ia pun menunggu dengan manis di depan pintu dan memilin milin rok kotak kotak hitam yang merupakan seragam sekolahnya.
Setelah cukup lama menunggu, Kyuhyun membukakan pintu dan tersenyum. “Oh, hai Sunyoung. Maaf lama menunggu. Tadi aku sedang menelfon seseorang”. Kyuhyun pun berbalik arah dan berjalan ke arah dalam rumahnya. Sunyoung mengikuti Kyuhyun dan menutup pintu kembali. Ia selalu heran, kenapa orangtua Kyuhyun tidak pernah ada di rumah? Apakah mereka benar benar sibuk?
“Kau mau?”, kata Kyuhyun sambil menyodorkan sepiring spaghetti di hadapan Sunyoung. Mata Sunyoung berbinar binar menatap spaghetti dengan saus bolognise dan keju yang melimpah di atasnya. Ia merasa akan menghabiskan semuanya dalam satu suapan.
“Mau, aku mau sekali !”, ujarnya bersemangat. Mereka pun duduk bersebelahan di kursi meja makan. Sunyoung mengambil garpu dan langsung melahap spaghetti tersebut dengan rakus. Kyuhyun memperhatikan gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu dengan heran. Kenapa ia bisa makan secepat itu? Apa dia benar benar lapar?
“Kau lapar sekali ya, Youngi-ah?”, tanya Kyuhyun sambil memasukkan satu gulung spaghetti ke dalam mulutnya. Sunyoung hanya mengangguk dan meneruskan mengunyah. Porsi spaghetti yang besar bukan masalah bagi Sunyoung yang sekarang sedang kelaparan, seperti belum makan selama tiga hari. Kyuhyun membiarkan Sunyoung seperti itu, toh ia juga tidak lapar.
“Apakah rasanya enak?”, kata Kyuhyun lagi.
“Ne !”, jawab Sunyoung. “Kau yang memasaknya?”.
“Pasti lah”, kata Kyuhyun.
“Bukankah kau tidak bisa memasak?”.
Kyuhyun mendorong bahu Sunyoung pelan dan tertawa kecil. “Kali ini aku bisa”.
Sunyoung hanya diam dan ia melanjutkan memakan spaghettinya. Ia menghirup salah satu spaghetti dengan mulutnya, dan merasa spaghetti itu tidak bisa ditarik. Ia pun mengangkat pertengahan spaghetti tersebut dan mendapati Kyuhyun sedang memakan ujung yang satunya. Sunyoung segera memotong spaghetti itu cepat dan memakannya lagi. Bagaimana kalau tadi ia tidak memutuskan spaghettinya? Pasti akan…..
Sunyoung menepis pemikiran itu. Setelah piring tersebut kosong melompong, Sunyoung meraih gelas berisi air putih di dalamnya dan meneguknya langsung sampai habis.
“Sunyoung, itu gelas ku…”, kata Kyuhyun membuat air hampir memasuki tenggorokan Sunyoung. Sunyoung hanya menelan air tersebut dan menatap Kyuhyun.
“Lantas?”, katanya santai.
“Ani, lupakan saja”, balas Kyuhyun. Sunyoung hanya menghela nafas dan mengingat janjinya dengan Kyuhyun hari ini.
“Ayo, ajarkan aku menjadi seorang hacker”, ujar Sunyoung sambil berjalan menaiki tangga. Kyuhyun menyamakan langkahnya dan tersenyum pada Sunyoung.
“Kau harus berjanji tidak menggunakan ilmu mu untuk hal hal buruk seperti yang dilakukan hacker black hat”, kata Kyuhyun sambil membuka pintu kamarnya.
“Hmm..aku tidak janji”, kata Sunyoung. Pikiran pikiran licik terlintas di kepalanya. Rasanya senang sekali ia bisa menghack email para musuhnya di sekolah, membajak akun jejaring sosial orang orang yang tidak ia suka, atau bahkan mengetahui data pribadi orang orang yang membuatnya penasaran.
“Kenapa? Bukankah kau maunya menjadi hacker white hat?”, tanya Kyuhyun heran.
“Yah, kita lihat saja nanti”, ujar Sunyoung tidak sabaran. Baginya,hacker  black hat dan white hat itu sama saja. Kan sama-sama hacker, bukankah begitu?
Flashback : Off
Sunyoung tersenyum sendiri mengingat hal itu. Tersenyum dipaksakan, sebenarnya. Ia harus berterima kasih kepada Kyuhyun. Sekarang membajak email, menembus proteksi akun akun paling rahasia, menghidupkan laptop tanpa menggunakan tombol power, dan mengetahui password opening saat membuka laptop bukan perkara sulit baginya. Dalam waktu sepuluh menit, hal itu bisa beres dengan keahlian Sunyoung.
“Dulu Kyuhyun menyuruhku untuk menggunakan ilmu hacker ku untuk hal hal baik, tapi dia sendiri?”, batin Sunyoung miris. Ia menggeleng gelengkan kepala mengingat hal itu lagi. Sebuah kenangan pahit, memang. Kenangan pahit yang mencambuknya, seakan memberinya pelajaran. Sunyoung lagi lagi tersenyum. Ia harus berterimakasih beratus ratus kali pada Kyuhyun.
Langkahnya yang gontai, menyiratkan betapa hampanya dirinya sekarang. Sunyoung merasa ia tidak diinginkan lagi hidup di dunia ini. Ia merasa semua orang akan senang kalau ia tidak lagi hidup. Ia merasa semua orang meninggalkannya perlahan lahan, membuatnya terperangkap dalam dunianya sendiri. Sunyoung tidak bisa lepas dari jeratan pilu dan rindu, semua kesunyian dan rasa frustasi seakan menguncinya. Namun Sunyoung kembali ingat. Ia hanya boleh menangis saat diperlukan saja. Ia pun tersenyum meratapi hidupnya yang berantakan sekarang. Pikirannya kembali menembus dunia masa lalu, masa masa yang paling berkesan dan berbekas dalam hatinya.
Flashback : On
“Kyu, bisa tolong ajarkan aku yang ini?”, kata Sunyoung sambil menunjuk ke sebuah soal yang dari tadi pagi belum ia temukan solusinya. Ia memutar mutar pensilnya dan mengerutkan dahi. Soal matematika macam apa ini? pikirnya.
“Oh itu”, jawab Kyuhyun enteng. “Ini sih gampang. Masa kau tidak bisa?”.
“Aku tahu kau pintar”, ujar Sunyoung sambil memajukan bibirnya. Kyuhyun tertawa melihat tingkah Sunyoung dan menjelaskan secara runtut penyelesaian dari soal itu. Mulai dari rumus awal, angka mana yang di masukkan, sampai ke urutan terakhir. Dengan jelas dan panjang lebar, tentunya. Tapi tidak membuat Sunyoung mengantuk. Biasanya dengan mendengarkan penjelasan sensei nya di sekolah mengenai pelajaran matematika, membuat kelopak mata Sunyoung seperti ditiban batu, berat sekali.
“Ooh, begitu”, kata Sunyoung pendek setelah Kyuhyun berhenti memberikan penjelasan. “Aku mengerti”.
“Aku hebat kan?”, kata Kyuhyun bangga. Sunyoung purapura membuang muka, dan beberapa detik kemudian suara tawa Kyuhyun yang khas terdengar. Tawa itu menular. Sunyoung pun ikut tertawa. Beberapa detik saja tertawa sudah membuat hati Sunyoung membaik. Walaupun tadi pagi orang tua nya saling melontarkan kata kata paling kasar dan kotor yang pernah didengarnya, Sunyoung tidak peduli. Toh lama lama mereka akan bercerai, dan hal itu sejuta kali lebih baik daripada mendengar ocehan dan makian mereka di dalam rumah itu.
Suara berdenting membuat Kyuhyun menoleh ke arah laptop yang dibiarkannya saja terbuka. Ada email masuk, batinnya. Ia segera beranjak ke depan laptopnya dan membuka email masuk tersebut. Sunyoung duduk di sebelahnya dan ikut menatap layar laptop juga.
“Kau janji ya jangan memberi tahu isi email ini pada siapa-siapa?”, kata Kyuhyun sebelum membuka emailnya.
“Memangnya kenapa?”, tanya Sunyoung heran.
Kyuhyun tidak menjawab. Ia membiarkan tulisan di layar laptopnya yang menjawab. Sunyoung membacanya dan terkesiap. Ia melongo, hampir tidak percaya bahwa Kyuhyun adalah seorang hacker andal dan tidak di ragukan.
From : S. Paul <steven_paul@gmail.com>
To : Black Lusavore <black.lusavore@yahoo.com>
Subject : A new project
Permintaan untuk menembus jaringan perusahaan elektronik di Perth, Australia. Tolong copy semua rancangan produk mereka dan kirimkan secepatnya. Bayaran $25.000, DP sudah dikirimkan 25 %. Reply untuk menerima dan mendapatkan rincian tugas lebih lanjut.
“Jadi…kau…”.
“Biar aku yang menjelaskannya”, kata Kyuhyun, membuat Sunyoung terdiam. “Aku adalah seorang hacker. Dari kecil orangtua kandung ku sudah mengenalkanku pada komputer dan teknologi. Lama kelamaan aku tertarik dan makin mendalaminya. Hingga suatu saat ayahku menitipkanku sebuah flashdisk berisi file-file. Ia bilang, aku tidak boleh menghapusnya. Aku menurutinya, dan aku membuka satu persatu file itu. Ada beberapa file yang berisi bahasa pemograman, cara untuk menembus sistem jaringan, dan berbagai macam file yang berhubungan dengan dunia teknologi. Aku yang baru berusia 9 tahun mempelajari ilmu hacker dan pemograman jauh lebih dalam lagi, karena aku juga sangat senang dengan dunia itu”.
“Hingga suatu saat kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat. Aku pindah ke Jepang, ke tempat bibiku. Tapi bibiku seringkali bekerja keluar negri dan jarang pulang dan memberiku uang. Aku bertekad untuk menjadi seorang hacker white hat, tapi karena tergoda dengan iming iming uang aku pun berubah menjadi hacker black hat. Aku seringkali diminta untuk menembus jaringan jaringan perusahaan yang sebetulnya sangat rahasia, dengan bayaran yang tidak sedikit. Jadi..yah, sampai sekarang aku adalah seorang hacker black hat. Sudah empat tahun ini aku menjadi seorang hacker”.
Sunyoung pun tau alasan kenapa rumah Kyuhyun bisa sebegini megahnya. Ternyata itu, karena kemampuannya. Sebenarnya Sunyoung kagum, tapi ia juga merasa aneh. Seharusnya Kyuhyun  menggunakan ilmu nya untuk hal-hal baik, bukan hal-hal curang seperti ini. Tapi Sunyoung berpikir, pasti ia akan berbuat hal yang sama seperti yang dilakukan Kyuhyun bila mendapat kesempatan seperti itu.
“Dan aku adalah buronan. Sudah banyak polisi yang melacak keberadaanku tapi sampai sekarang aku tidak ditemukan. Dan aku berharap untuk tidak ditemukan”.
Kyuhyun pun menekan tombol reply dan mengetik dengan cepat, membuat balasan kepada orang yang bernama Steven Paul itu. “Aku..aku tidak tahu harus bilang apa”, kata Sunyoung lemah. “Di satu sisi aku kagum dengan kegigihanmu. Tapi disatu sisi aku juga menyayangkan kenapa kau malah berbuat curang untuk mendapatkan uang”.
“Aku tidak berbuat curang !”, kata Kyuhyun cukup keras. “Kau tahu apa sih tentang aku?”.
“Aku tahu, kau itu suka sekali bermain games, tidak bisa memasak, pintar matematika, labil, dan—“
“Cukup !”, kata Kyuhyun terdengar emosi. Sunyoung terdiam melihat Kyuhyun yang menatapnya tajam. “Kau tidak usah ikut campur dengan caraku. Ini caraku untuk mendapatkan uang. Kau juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan jika kau punya keahlian seperti ku kan?”.
Ia membaca pikiranku, batin Sunyoung. “Mian, mianhae. Kau mau memaafkanku?”.
Namun Kyuhyun hanya diam. Sunyoung makin merasa bersalah dengan aksi diam Kyuhyun. Akhirnya ia mengambil tas nya dan beranjak pulang. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang. Dunia seakan menjerumuskannya ke dalam lubang kepedihan hati yang paling dalam. Dan Sunyoung harus terperangkap disana, tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia ingin sekali menangis, menumpahkan rasa sesak di dadanya yang kian membuncah. Namun ia tidak bisa. Dalam hatinya sudah tertanam kalau dia adalah seseorang yang tegar, dan menangis di saat yang paling diperlukan saja.
Kenyataan itu membuat luka di hatinya semakin mendalam. Orangtuanya sudah menyiksa batinnya dengan  teriakan ratusan desibel yang tiap hari melengking di dalam rumah nya yang sederhana itu, dan Sunyoung tidak bisa berbuat apa-apa karena ia menganggap dirinya masih kecil, tidak boleh iku campur dalam urusan mereka. Namun disisi lain, Sunyoung juga merasa ia memiliki hak untuk disayangi sebagai anak, bukannya disiksa batin setiap hari. Ia berusaha tersenyum untuk menyembuhkan luka hatinya. Sunyoung berprinsip untuk bahagia dengan tersenyum, bukan tersenyum karena bahagia.
Sekarang Kyuhyun, sahabat satu-satunya Sunyoung pun ikut menambah kepedihan luka di hatinya. Sunyoung merasa bodoh, sangat bodoh, melontarkan kata-kata tadi. Ia menatap rumah Kyuhyun yang sekarang berjarak 100  meter di belakangnya dan tersenyum miris. Sunyoung sangat suka bersahabat dengan Kyuhyun yang cuek dan suka membantah, sangat suka. Sampai sebuah perasaan yang tidak pernah di rasakannya muncul dalam hatinya, membuat Sunyoung selalu terbayang bayang dengan Kyuhyun sepanjang hari. Beginikah rasanya mencintai seseorang? batin Sunyoung. Ia selalu bertanya tanya tentang hal itu. Sepanjang hidupnya ia belum pernah merasakan jatuh cinta, dan sekali ia merasakannya semua terasa sakit, pilu.
Untuk apa aku hidup? kalimat itu terlintas di benaknya, seiring dengan jatuhnya setetes demi setetes air hujan yang tidak mampu  dibendung oleh awan lagi. Kadang perasaannya juga sama seperti awan. Jika awan sudah tidak mampu membendung uap air, ia akan menumpahkannya ke bumi sebagai hujan. Sama seperti perasaan Sunyoung. Sudah lama ia menahan perasaannya, dan kali ini ia menyerah. Ia menumpahkan semuanya dalam tangisan yang ditahannya sejak lama. Tangisannya benar benar pilu, menyiratkan semua perasaan yang tak pernah diungkapkan. Semua terasa menyakitkan.
“Tuhan, bantu aku agar terus hidup”, gumamnya.
~***~
Sesampainya dirumah, Sunyoung heran mengapa banyak sekali orang berdatangan di rumahnya.  Di lihatnya sebuah peti putih suci seukuran manusia dengan salib di ujung nya, dan nafas Sunyoung seperti tercekat. Paru parunya sepertinya enggan menerima oksigen lagi. Ia buru buru berlari ke arah peti tersebut tanpa menghiraukan sekujur tubuhnya yang basah.
“AYAH !”, teriaknya begitu  keras sambil memandang isi peti mati berwarna putih suci itu. Air mata muncul lagi, dan jatuh dengan deras dari kedua bola mata Sunyoung. “Ayah, bangun, jangan bercanda padaku !!”.
Beberapa kenalan Ibu dan Ayah mengelus elus pundak Sunyoung  dan ikut menangis bersamanya. Ibu juga memeluk Sunyoung dengan erat, erat sekali, sampai ia bisa merasakan hembusan nafas wanita yang sudah mengandung dan membesarkannya di kepalanya. Sunyoung menangis sejadi jadinya. Ini semua terlalu berat untuk di terimanya. Terlalu berat. Ia tidak percaya terakhir kalinya melihat wajah Ayah adalah pagi tadi. Sunyoung menangis dan membiarkan tubuhnya lunglai, jatuh perlahan lahan ke lantai. Dunia benar benar tidak berpihak kepadanya. Semua beban seperti mengahantamnya dan menertawai Sunyoung yang sedang menangis.
“KENAPA? TUHAN, KENAPA KAU AMBIL AYAHKU? KENAPA??!!”, jerit Sunyoung sekeras mungkin, meluapkan semua isi hatinya.
“Youngi-ah…”, panggil ibunya. Wanita itu memeluk putri satu satunya begitu erat dan mencium keningnya. “Dia sudah pergi nak. Relakan dia…”.
“Kenapa harus sekarang? KENAPA? Kenapa ia pergi ketika aku belum tahu rasanya disayangi kedua orangtuaku? YA TUHAN, KENAPA?”, kata Sunyoung dengan air mata yang berlinang terus menerus.
“Youngi-ah, semua sudah ada yang mengatur”, kata ibunya perlahan. Sunyoung menghapus air matanya dan memeluk ibunya lagi. Beberapa kerabat pun ikut menangis terharu melihat kejadian di depan mereka. Hari ini benar benar hari penuh tangis. Hari yang sudah direncanakan Tuhan untuk jadi hari yang paling menyedihkan bagi Sunyoung.
Ayahnya sudah tidak ada. Sekarang apa? Bagaimana ia bisa hidup?
Kyuhyun pun menjauhinya.
Semua terasa mengubur Sunyoung sedalam mungkin. Sampai ia lupa bagaimana rasanya bahagia.
Flashback : Off
Sunyoung tersenyum, padahal air matanya mengalir dan jatuh ke atas gundukan tanah merah yang hampir berubah menjadi putih karena butiran salju yang menerpa. Tidak ia pedulikan derasnya salju yang jatuh ke pundaknya dan mencair disana. Yang ia rasakan hanyalah rindu, saat menatap nisan ayahnya.
“Park Tae Woo. 12/07/1955 – 25/11/2003”
Tulisan di nisan tesebut makin membuat hati Sunyoung remuk redam. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa rindu kepada ayah tercintanya yang sudah meninggalkannya bahkan sebelum ia lulus SMA. Tapi Sunyoung tahu, semua sudah ada yang mengatur. Dan kematian Ayahnya pasti sudah di atur oleh yang di atas.
Salahkan aku kalau aku berharap takdir bisa diubah? batinnya sambil melihat ke arah langit yang terus terusan menjatuhkan salju dengan angkuhnya.
Flashback : On
Sudah enam bulan lebih sejak kematian ayahnya dan aksi berdiam diri dengan Kyuhyun. Ibu Sunyoung bertekad akan pindah dari kota ini dan menetap di Seoul, di kota kelahirannya, tepatnya di rumah adik Ibunya. Sunyoung menerima saja semua perkataan ibunya. Ia terlalu lelah untuk membantah. Semua beban di pundaknya malah tidak menyurutkan niat belajarnya. Malah ia semakin giat belajar, untuk bisa mencari kerja suatu saat nanti. Dan semua ada hasilnya. Saat kenaikan kelas Sunyoung mendapat predikat juara umum. Dengan bangga ia tersenyum dan berjalan di koridor dengan ibunya setelah penerimaan rapor. Tidak ia hiraukan bisik bisik orang iri yang membicarakannya di belakang. Persetan dengan mereka semua, batin Sunyoung. Yang penting aku mendapatkan semua ini dengan kerja keras.
Bulan demi bulan berlalu. Akhirnya tiba lah tanggal itu. 25 November 2004, satu  tahun semenjak kepergian Ayahnya. Sunyoung tersenyum saat menyentuh makam ayahnya. Ia tidak ingin mengecewakan Ayahnya dengan hanya bermuram durja tiap hari. Sekejam apapun ayahnya, Park Tae Woo tetap ayah satu satunya yang sangat di cintainya.
“Ayah, apakah ayah senang disana? Apakah impian ayah bisa tercapai di sana? Oh iya, Ayah, ceritakan dong padaku bagaimana rasanya, senang atau tidak? Apa Ayah mendapat tempat tidur paling nyaman di sana? Ayah, disana ada telefon tidak, aku kangen sekali dengan Ayah. Kalau ada hubungi aku, ya? Akan aku angkat, selalu. Ayah, apakah disana Ayah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya? Kalau iya bagaimana kalau Ayah bagi denganku? Aku sudah lupa dengan rasa bahagia Ayah. Ayah, jawab aku, jangan diam saja. Aku kangen Ayah”, kata Sunyoung sambil tersenyum. Ibuku menatap Sunyoung sambil menangis, dan mengelus makam suaminya dengan lembut. Sunyoung membiarkan air matanya jatuh dalam senyuman yang terbentuk di wajahnya.
Ayah, jangan lupakan kami ya? batinnya pilu.
~***~
Sehari sebelum Sunyoung pindah ke Seoul, ia benar benar nekad untuk pergi ke rumah Kyuhyun. Sunyoung menekan bel rumahnya dengan mantap dan takut takut menghadapi resiko apa saja yang akan diterimanya. Semoga aku berhasil. Ia mengelus elus amplop krem yang terselip di antara kedua tangannya.
Namun rasa kecewanya meluap-luap ketika mendapati yang membukakan pintu bukanlah sesosok Cho Kyuhyun yang jauh lebih tinggi darinya. Melainkan bibinya, yang menatap Sunyoung heran. Sunyoung menelan rasa kecewanya dan tersenyum.
“Ada apa nak?”, tanya bibinya.
“A..aku..aku teman Kyuhyun. Aku ada keperluan dengan Kyuhyun. Apa dia ada?”.
“Ah…gomen, dia sedang pergi menginap. Dua hari lagi ia akan pulang. Ada apa?”.
Sunyoung menyerahkan amplop krem itu dan tersenyum. “Aku menitipkan ini saja. Tolong berikan kalau dia sudah pulang. Arigatou”, kata Sunyoung sambil membungkuk 90 derajat. Sunyoung pergi berjalan meninggalkan rumah itu dengan pilu. Itu adalah terakhir kali ia mengunjungi rumah itu. Dan mungkin ia tidak akan pernah kembali lagi kesana. Terlalu sakit rasanya.
Dan Sunyoung membiarkan perasaan cintanya terkubur dalam dalam. Ia yakin saking dalamnya perasaan itu terkubur, perasaan itu tidak mungkin lagi mencuat muncul ke permukaan. Ia sudah bertekad untuk melupakan semuanya, semua hal yang Kyuhyun lakukan padanya, semua canda dan tawa Kyuhyun, dan saat ketika pertama mereka bertemu…
~***~
Sunyoung keluar dari tempat ia menimba ilmu selama 3 tahun ini dengan bangga. Lulus dengan IP 3,7 adalah sebuah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan predikat Sarjana Ekonomi yang baru disandangnya, Sunyoung tersenyum dan menatap langit musim semi yang begitu menyejukkan pandangannya. Semilir angin meniup rambutnya ke atas. Sunyoung merasa semua kerja kerasnya berbuah hasil yang sangat memuaskan. Ia akan melamar kerja dan menghidupi Ibunya. Ya, ia akan berusaha. Berusaha membuat hidupnya berarti, membuat hidupnya berharga. Meskipun novel novel Sunyoung sudah beredar, ia masih merasa harus menghidupi ibunya lebih keras lagi.
Dan perasaan Sunyoung  pada Kyuhyun sepertinya sudah terhapuskan. Selama 8 tahun ini ia berusaha melupakan Kyuhyun, dan sedikit demi sedikit ia melupakannya. Sunyoung kembali tersenyum mengingat saat pertama kali mereka bertemu. Sungguh aneh. Tapi tidak mungkin ia lupa. Semua sudah direncanakan seperti itu, dan tugas Sunyoung hanyalah : menerimanya.
Flashback : Off
Sunyoung beranjak dari makam Ayahnya dan berjalan ke luar pemakaman. Ia melangkah ke sebuah rumah yang hampir tidak mungkin ia lupakan. Bahkan ia masih ingat dengan jelas jalan masuk ke rumah itu. Rumah Kyuhyun, yang sekarang masih dihuni bibinya. Kyuhyun? Ia sudah berada di balik jeruji besi, dengan tuduhan menyalahgunakan teknologi. Sunyoung lagi lagi tersenyum.
“Kau bilang kau tidak akan terlacak. Buktinya sekarang kau ada di penjara…”, kata Sunyoung sambil tertawa kecil. Ia memegang pagar itu dan menatap ke halaman yang terbentang di dalamnya. Sungguh, ia merindukan rumah itu. Dan segala yang terdapat di rumah itu, termasuk penghuninya.
“Kyuhyun…kembalilah padaku..jebal..”, pintanya sambil menangis dan terduduk di depan tembok pagar yang sudah dipenuhi salju. Sunyoung terus membiarkan air mata pilu itu membasahi pipinya dan mantel yang ia kenakan. “Aku mencintaimu…”, gumamnya. Ia pun terisak dengan kuat dan yakin tidak ada orang yang mendengarnya karena suara salju yang menimpa semua yang dihampirinya.
“Aku juga”.
Sunyoung menoleh ke arah suara dan terbelalak. Seorang laki laki yang tinggi, yang sangat ia kenali kini berdiri di samping dirinya yang sedang terduduk. Ia menatap nya begitu lama, sampai ia tidak bisa berkata apa-apa. Terlalu sulit untuk di percaya.
“Kyuhyun….”.
“Hai, Sunyoung. Delapan tahun tak berjumpa. Aku merindukanmu”, katanya santai. Sunyoung langsung berdiri dan memeluknya, seakan tidak mau melepaskannya lagi, selamanya. Ia terisak di bahu Kyuhyun dan membiarkan air matanya terus jatuh.
“Aku sangat  merindukanmu, hacker”, kata Sunyoung sambil menekankan satu kata terakhir. Kyuhyun hanya tertawa mendengar perkataan gadis yang sudah delapan tahun tidak ia temui ini.
“Kenapa kau bisa ada disini?”, tanya Sunyoung heran, mengingat seharusnya Kyuhyun masih mendekam di penjara.
“Aku mendapat remisi karena aku tidak bermacam-macam di penjara. Jadi aku bisa pulang awal bulan ini”, kata Kyuhyun, masih memeluk Sunyoung.
“Kau bilang apa tadi? Kau mencintaiku?”, tanya Kyuhyun langsung. Sunyoung langsung membeku dan melepaskan pelukannya dari Kyuhyun.
“Aku juga mencintaimu”, kata Kyuhyun tanpa membiarkan Sunyoung menjawab. Sunyoung tersenyum mendengar pernyataan Kyuhyun. Semua perasaan gundahnya seakan runtuh, semua digantikan dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya karena perkataan itu. Saking bahagianya Sunyoung memeluk Kyuhyun lagi, meluapkan rasa bahagianya.
“Aku menunggumu selama 8 tahun Kyu. 8 tahun, bayangkan? Aku sampai lupa caranya bahagia. Semenjak kepergian ayahku dan aksi diam diaman yang kau lakukan…aku merasa dunia semakin menyudutkanku. Tapi..tapi..ternyata benar yang kau bilang”, jelas Sunyoung mengingat ingat lagi perkataan Kyuhyun delapan tahun yang lalu. “Sekarang roda kehidupanku sudah bergerak, karena aku sendiri yang berusaha menggerakkannya dengan Tuhan yang selalu ada di sisiku. Terimakasih Kyu, aku…aku benar benar mengingat semua saran yang kau berikan padaku”.
Kyuhyun tersenyum dan menyibakkan salju dari rambut gadis berusia 23 tahun itu. “Aku juga berterimakasih padamu. Surat yang kau tinggalkan masih ku simpan, tidak ku buang. Setiap aku merindukanmu, aku melihat lagi surat yang kau berikan dan tulisan tanganmu. Semua cukup bagiku”.
Sunyoung menatap salju yang semakin menebal dan mengusap-usapkan kedua tangannya yang ditutupi sarung tangan wol hitam. “Bagaimana, aku bisa jadi  penulis kan? Kau pasti bisa menilai hasil tulisanku dari surat itu”.
Kyuhyun tertawa kecil dan mendorong Sunyoung pelan. “Aku selalu disisimu. Aku mendukung semua usaha baikmu, kok”.
“G..gomawo..”, kata Sunyoung begitu perlahan. “Aku harap semua ini bukan mimpi”.
Dan kenyataannya, semua memang bukan mimpi . Sunyoung melihat ke arah langit yang cukup gelap, tidak menghiraukan butiran salju yang menimpa wajahnya. Begitu pula Kyuhyun. Semua terasa seperti  mimpi. Mimpi yang sangat indah, mimpi yang nyata. Mimpi yang menjelaskan arti cinta dan kehidupan, dan bagaimana hidup memperlakukanmu sebagai mana kau memperlakukannya.

Sabtu, 03 Desember 2011

10 hal/masalah yang mengganjal


10 random words I wanna say right now :
1.       I’M TIRED. REALLY REALLY TIRED. Belajar itu bikin capek, apalagi ada 17 ujian selama kurang lebih tiga minggu. 3 ujian dari tanggal 24-26 November (Ujian Negara, mapelnya IPA, Math, dan Bahasa Inggris. Anyway, soalnya full English :-/ :-/) Trus PRA UN alias Pra Ujian Nasional Provinsi dari tanggal 28/11 – 1/12 , mapelnya Bahasa Indonesia, Math, IPA, Bahasa Inggris. Soal ujiannya dari kelas 7 sampai kelas 9 SEMESTER 2. Bayangin deh gimana cara belajar IPA nya. Otak terbelit kesana kemari ngelihat jutaan/ribuan/ratusan angka dan tulisan di hadapanku. Trus tanggal 12/12 – 16/12 ada ujian semester. Setelah itu FREE. Gaada PR. Gaada tugas. Surga bgt.

2.       Ms. Trollop (silakan cari apa arti trollop di kamus) benar benar bikin…..geregetan. Her behavior is so..ew, I don’t know the suitable word for it. Maybe it’s like a shit or something disgusting. I wanna punch a chair or a table to her face, then she’ll be crying for 8347838478236481640 years. Rasanya balas dendam itu kayaknya enak, tapiiiii sayang sekali balas dendam itu…tidak boleh.

3.       Melihat orang pake gadget terbaru itu memang bikin air liur menetes. Gak sampe menetes sih sebenarnya. Tapi ya semacam itulah. Dan kalo perkembangan gadget ini terus terusan kita ikutin, uangnya mana? -__-

4.       LCD hp ku PECAH/RUSAK. Gatau kok bisa rusak, padahal gaada jatuh atau gimana. Pas hari kamis 1 Desember kemarin, aku letakkin hp sekarat itu di meja belajar, trus teman2 ku pada main di rumah aku kan. Pas mereka pulang, aku ambil hp aku lagi, ternyata kondisinya udah mengenaskan. Layarnya 7/8 warna putih dengan garis2 warna warni di bagian 1/8 lainnya. Cuma LCD nya aja rusak. Untung dalamnya gak ikutan rusak. Meskipun gitu, memperbaiki hp aku perlu waktu kurang lebih 1 minggu T.T

5.       SENANG BANGET pas tau baterai laptop gak bocor lagi. Jadi berapa minggu yang lalu laptop aku gak mau ter-cas, rupanya batrenya bocor. Selama beberapa minggu itu ya aku pake laptop tanpa baterai, tapi dihubungkan sama chargernya, jadi bisa tetap hidup. Trus hari kamis (malam jumat, tepatnya), pas aku lagi nulis ff, DUARRR (?) lampu mati. Ke?sal. Laptop langsung mati, dan UNTUNGNYA ff ku masih tersimpan karna ada sistem (?) recovery di Microsoft Word. Karena semangat tak tertahankan (?) untuk nulis ff ini muncul, iseng2 aku pake baterai laptop aku yang teronggok di meja belajar dan disela2 tumpukan kertas/buku. Untung masih ada sisa baterainya 80%. Jadi aku aturlah screen brightness laptop aku seredup mungkin supaya hemat baterai, dan ngelanjutin bikin ff. Pas lampu hidup, entah kenapa aku coba buat nyambungin chargernya dan….BIP (?) ajaibnya ada tulisan 80% (Plugged in, charging). Sebelumnya kan tulisannya gini : 80% (plugged in, not charging). Langsung melonjak2 gembira (?) pas ngeliat tulisan itu ^o^ Akhirnya laptopku kembali seperti semulaaaa

6.       Keuangan aku lagi krisis banget. Istilahnya, aku gak bisa nabung sebanyak kelas 7 atau 8 dulu. Tergodaaaa banget liat jajanan berderet2 pas aku keluar sekolah. Es krim, pangsit, pop ice, nugget, bakso tusuk, sandwich, kebab………oh no. Benar2 menggoda iman (?) Dan karna gabisa nabung itu aku jadi susah sendiri. Mau beli novel baru aja harus hemat setengah mati TT

7.       Pengen banget beli buku Seoul Vivor ! Entah udah ada di Gramedia kota Padang atau belum, aku gak tau. Yang aku tau harganya 51.000, dan gak mungkin aku minta lagi ke orangtua ku kan. So…aku harus menahan selera (lagi). Huh.

8.       Aku udah pre order album Super Junior – Mr. Simple versi Jepang, sama A-cha :’D Okelah, aku ELF gagal. Baru beli album a-cha bulan November padahal rilisnya SEPTEMBER -___- Dan album Mr. Simple versi Jepang yang aku order pun yang normal edition ._. Nasib gak bisa nabung ya gini deh.

9.       Seseorang datang menyeruak (?) lagi dalam ingatanku. Pas aku ngelihat buku latihan matematikanya yang udah basah karna hujan itu di meja belajar ku….aku langsung ngerasa bingung. Pengen aku buang, tapi sayang, ada tulisan dia yang jelek+amburadul itu. Tapi kalo buku itu terus2an ada disana, gunanya sama aku apa? Rasanya kurang realistis kalo kita terus2an ingat sama seseorang yang bahkan mungkin gak tau keberadaan kita di sekolah. Okelah, dia tau aku anak 9e, aku tau dia anak 9a. Aku sering ngeliat dia ketawa diantara kerumunan temen2nya, dan dia bahkan gak pernah melirik ke aku. So aku ambil bukunya yang udah lepek itu, dengan sekuat tenaga aku robek2 jadi jutaan potong, trus aku buang ke parit yang ada di depan rumah aku, yang kebetulan arus airnya deras. Say goodbye for his book, deh. Tapi tadi aku benar2…kangen mungkin, ngeliat dia main bola di lapangan. Jadi inget LPI lagi, jadi inget pas kelas aku nonton panas2an di GOR, jadi inget pas………….. :))’:

10.   Tadi SMP 1 ngadain acara tahunannya, pawai keliling kota Padang membawa spanduk, untuk peringatan hari guru sama tahun baru Islam.  Agak lebih garing dari tahun lalu. Tahun lalu rameee banget rasanya. Kita teriak2 di sepanjang jalan sambil bawa spanduk trus sinar matahari jam setengah 8 pagi yang sehat membuat kita keringatan. Tapi sekarang? No more teriak2, jadi  kesannya agak garing. Beralih ke topik lain. Singkatan nama dari kelas aku kan ZOMBIE (Zona sembilan E), jadi dua orang dari kelas kami (Ainul sama Ayu) berperan sebagai Zombie gitu. Mereka pake kaos yang udah dilumuri (?) sama cat air warna merah sama hitam, trus muka mereka di kasih cat air warna merah sama hitam juga. Trus jilbab mereka di ikat ke atas, disimpul, dan tadaaaa terbentuklah campuran Zombie dan Pocong (?). Seru deh, kelas kami jadi pusat perhatian. Mana tampang si Ayu sok misterius lagi -___-  Udah berdandan ala zombie, mereka ikut dong pawai keliling kota. Malahan ada pengendara sepeda motor yang ketawa liat aksi Ainul sama Ayu :D Seneng lah, pastinya. Sampe2 banyak orang yang minta foto sama mereka, serasa artis -__-
right to left : cita, me, nadiya, inge, yofi

ayu ._.

right to left : nadiya, ainul, velyns

left : ainul. right : ayu

fira, qatrin, and pak johan ._.

left to right : caca, nadiya, cita, me

nadiya and velyns

left to right : cita, ninin, nadiya, velyns, fira, qatrin

left to right : fanny, ainul, ninin

yg berdarah2 : ainul.  yg lg pose piss : ayya

random...

belakang, dari kiri ke kanan : qatrin, velyns, sita, fira, yofi, inge, nadiya, me, cita, tifa ayu.
yg lg pada jongkok, kri ke kanan : fanny, ainul, dina, ninin, nisa, caca ._.

left to right : ayu, me, cita

cita and me .____.

abede and nadiya

aufa and qatrin

left : ainul, right : ayu

left to right : nadiya, dina, inge, me, yofi, diva, cita, fita

taken by : ayya


Maybe cuma itu aja. Berhubung kesepuluh hal itu udah bikin otakku mumet sebaiknya kita akhiri aja sampai sini ya. Annyeonghi gyeseyo ^^