FF request yg sebelumnya aku revisi ya, sekarang aku dapet ide yg lebih gimana gitu. Sedikit perubahan cast hehe. Yaudah cekidot aja ya :P
Eunji POV
Kecepatan berlariku semakin ku
tambah, takut aku akan tertinggal. Sedikit lagi aku akan sampai di tempat
bersekolah yang ku impi-impikan sejak dulu. Hari ini adalah pengumuman mengenai
siapa-siapa saja yang beruntung untuk bersekolah di Universitas paling
prestisius di Korea Selatan, Seoul Daehakkyo. Yang biasa dikenal orang sebagai
Seouldae atau Seoul National University. Aku memandang gerbang calon
Universitasku ini sekilas, lalu berlari lagi. Satu menit lagi, tepatnya jam 10
nanti, kertas berisi nama-nama siswa beruntung itu akan bisa dilihat. Mengingat
hal itu aku makin bersemangat dan mempercepat lariku. Aku harus bisa melihat
pengumuman itu, secepat yang aku bisa.
Aku pun sampai di depan papan
pengumuman. Puluhan orang ada di depannya, mencari apakah nama mereka termasuk
atau tidak. Aku menerobos kerumunan orang itu—yang pastinya bisa kulakukan
dengan mudah oleh tubuh kecilku ini—tanpa memedulikan desisan orang-orang yang
ku terobos. Ku lihat kertas itu dari bawah, bukannya dari atas, untuk
menghadapi resiko terburuk.
Semakin lama aku semakin terdesak
tapi aku tak kunjung menemukan namaku. Dengan cepat aku menelusuri setiap nama
dan mencari inisial namaku. Akhirnya, aku menemukannya !
Jung Eunji : Approved. Score : 97
Aku melihat namaku lama-lama di
kertas itu, tidak percaya dengan tulisan yang tertera disana. Aku kembali
memastikan, apakah itu benar namaku atau tidak.
Ternyata memang benar namaku. Ku
rasa tidak ada nama Jung Eunji lainnya disini. Aku melirik angka yang
menunjukkan peringkat di sebelah kiri namaku. Angka setelah 2 itu tertera
dengan jelas, membuatku tidak tahu harus berkata apa. Tubuhku serasa di
terbangkan ke langit seperti layang layang.
“AKU LULUS !!!!!!”
Aku kembali menerobos kerumunan
para calon mahasiswa itu sekali lagi. Rasa bahagiaku meluap-luap, membumbung
tinggi menembus ragaku. Sekarang, kata “Jung Eunji, Mahasiswi Arsitektur
Seouldae” bukan lagi sebuah mimpi. Ini adalah fakta yang benar-benar sulit dan
hampir tidak aku percayai.
Aku mengambil ponsel putih dari
saku celanaku dan menekan tombol 3, tombol speed dial untuk menghubungi adikku,
Minhee. Kabar baik harus cepat-cepat disampaikan, sebelum menjadi kabar buruk.
Aku pun menggenggam benda seukuran telapak tangan itu dan menempelkannya di
telingaku. Dengan senyuman yang masih terulas di wajahku, aku menunggu adikku
mengangkat telfonnya.
“Yeoboss—“
“MINHEE, AKU LULUS !! NILAIKU 97
!! AKU PERINGKAT 3 !!!”, kataku bahkan sebelum dia mengatakan apa-apa. Aku
berteriak teriak kegirangan di telfon. Mungkin adikku sudah menutup telinganya
sekarang karena teriakan ratusan desibel yang bisa ku keluarkan sekali nya aku
bahagia.
“YAAA EUNJI !! Aku tahu kau pasti
lulus tapi jangan membuat kerusakan dini pada gendang telingaku !”, kata adikku
tak mau kalah kerasnya. “Apa kata Eonni tadi? 97? 3? Wow, Chukkae Eonni. Doakan
saja dua tahun lagi aku akan jadi mahasiswi di sana”.
“Yeah, semoga”, kataku sambil
berjalan perlahan. “Lalu apa kau ada rencana untuk pergi ke suatu tempat hari
ini?”.
“Umm…” Aku tahu sekarang Minhee
pasti sedang mengingat-ingat jadwalnya yang tersusun begitu rapi di buku agenda
biru-putihnya. “Sepertinya tidak”.
“Oke, aku tunggu kau di Gilson
seperti biasa”.
“Gilson?”.
“Restoran Jepang favori kita,
masa kau lupa?”.
“Oh iya, aku ingat”, jawab
adikku.
“Secepat—“
BRAKK
Aku menabrak seseorang—atau aku
yang menabraknya?—hingga aku nyaris terjengkang. Ku rasakan ponselku yang tadi
ada di tanganku berpindah tempat ke jalanan beraspal di bawah kakiku.
“P..ponselku…” Aku sedikit
menunduk dan memandang ponsel ku yang layarnya retak seperempat bagian dengan
warna putih dan pelangi sepenuhnya itu dengan nanar dan kecewa. Kemudian aku
ambil benda putih yang sudah tidak menyala lagi itu dengan sedih, marah, dan
kesal. Aku berjongkok dan mengelus-elus layarnya yang retak sambil melihat
casing putihnya yang tergores. Logo
apple yang terdapat disana tergores, dan aku semakin menatapnya sedih. Ponsel
pemberian Appa-ku saat awal tahun ini sudah tak berbentuk seperti semula lagi.
Aku menatap orang di depanku, yang membuat wujud ponsel ini jadi hancur.
“Kau…”, ujarku sambil
menunjuknya. “Kau lihat apa yang kau perbuat?”, tanyaku sinis kemudian berdiri.
“Mianhae, jeongmal mianhaeyo
agasshi. Aku benar benar tidak sengaja, agasshi. Akan ku ganti”, kata namja itu
sambil merogoh dompetnya. Kemudian ia mencari cari sesuatu dan aku yang tidak
berniat lagi menunggunya, meninggalkannya.
“Agasshi, tunggu. Mungkin kau bisa memakai ini”, ujarnya sambil
menarik lenganku. Ia menyerahkan sebuah kartu ATM dan aku memandangnya heran.
“Kartu ATM?”, tanyaku. “Kau kira
semua cukup untuk mengganti ponselku? Bagaimana dengan pesan singkat yang ada
disana? Bagaimana dengan kontaknya? Bagaimana dengan—“
“Ambil saja”, katanya sambil
tersenyum. “Mungkin uangku tidak cukup untuk menggantinya, tapi setidaknya aku
sudah berniat untuk mengganti”.
Aku terpana dan memandangi kartu
kecil yang kini sudah terdapat di tanganku. Hatiku sibuk menimbang nimbang,
antara ingin menerimanya dengan tidak. Kalau tidak aku terima…aku tidak punya
cukup banyak uang sekarang. Maksudku, aku memang selalu punya cadangan uang,
tapi tidak cukup untuk memperbaiki iPhone putih ini.
“Kau yakin?”
“Pasti”, ujarnya. Aku mengangkat
bahu dan berjalan lagi, seraya meningat ingat ATM terdekat yang ada di sekitar
sini. Ternyata namja itu mengikutiku dan aku menghela nafas.
“Kenapa kau mengikutiku?”.
“Aku pemilik kartu ATM itu, jadi
aku harus bertanggung jawab atas segalanya”, kata nya. Cara bicara namja ini
mirip dengan cara bicara adikku yang sedikit konsevatif itu.
Tidak buruk, juga tidak baik.
~***~
“Kamsahamnida”, kataku saat
keluar dari ATM. Aku menyerahkan kartu itu kembali kepadanya dan memasukkan
uang 100.000 won yang baru ku ambil ke dalam tas ku.
“Cheonmanyo”, balasnya. “Berapa
yang kau ambil?”.
“Se….ratus ribu”, ujarku
takut-takut.
“Oh, kenapa kau tidak ambil
lebih?”.
Mwo? Enteng sekali dia berkata
seperti itu.
“A…aniyo. Tidak usah, sudah cukup
kok”, balasku. “Jeongmal kamsahamnida…err..siapa..siapa namamu?”.
“Lee Donghae”, katanya sambil
mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Jung Eunji”, balasku.
“Jung Eunji?”, tanyanya
memastikan.
“Iya, memangnya kenapa?”.
“Lulus ke Jurusan Arsitektur
dengan peringkat ketiga kan?”.
“Ah itu…”, jawabku salah tingkah.
“Kenapa kau tahu?”.
Namun ia hanya tersenyum tanpa
menjawab pertanyaanku. “Sebulan lagi aku akan menjadi senior mu”
“Oh…begitu”, kataku. “Kalau
begitu bagaimana kalau kita—“
MINHEE ! Astaga, aku baru ingat
janjiku dengan adikku. Aku baru saja akan mengajak Donghae pergi kemana, tiba
tiba aku ingat dengan Minhee. Jarak dari rumah ku ke Gilson cukup dekat, dan
pasti adikku sudah menunggu disana. Dan Minhee paling tidak bisa bertoleransi
dalam hal waktu.
“Maaf Donghae, aku lupa, aku ada
janji dengan adikku !”, kataku sambil segera bergegas. “Sampai ketemu…uh,
sebulan lagi?”, teriakku.
“Tunggu Eunji!”, serunya. Ia
memberikan sebuah kertas berisi beberapa angka kepadaku.
“Hubungi aku kalau kau perlu
sesuatu”, ujarnya. Aku menerima kertas itu dan memandanginya sejenak, kemudian
memasukkannya dalam tasku.
“Ah, gomawo Donghae-ssi”, kataku.
“Tapi aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa!”.
Ia melambaikan tangannya padaku
sambil tersenyum. “Sampai jumpa, Eunji”.
Aku meneruskan berlari dan saat
sudah jauh aku kembali melihat ke belakang. Ternyata Donghae sudah berjalan ke
lain arah. Aku diam-diam tersenyum mengingat apa yang baru saja dia lakukan.
Jarang sekali ada orang baik seperti dia.
Entah dia melihat senyuman ku
atau tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku berhutang begitu besar padanya.
~***~
Minhee POV
Aku menelusuri setiap rak rak
buku di sini sambil berusaha memutuskan buku mana yang akan aku beli. Di
tanganku sudah ada 3 buah buku—2 buah novel fantasi dan satu buah kamus Bahasa
Jepang setebal kasur—tapi aku belum juga puas, masih ingin membeli karya sastra
lainnya. Kebanyakan anak-anak sekolah menengah sepertiku tidak menyukai hal-hal
yang berbau imajinasi terlalu tinggi, melainkan novel novel remaja yang makin
lama makin aneh saja isinya. Meskipun novel fantasi juga aneh, tapi tetap saja,
novel fantasi adalah perwujudan dari imajinasi terlalu tinggi.
Sambil mengambil tas plastik
tempat menaruh buku, pandanganku masih tertuju pada novel-novel yang ada di
bagian fantasi. Setelah selesai menaruh buku ke dalam tas, aku segera berjalan
menuju rak tersebut dan mengambil satu buah novel yang bahkan belum sempat ku
baca judulnya, tapi tertarik dengan sampulnya. Di rak itu, novel itu hanya
terdapat satu buah. Jadi aku segera mengambilnya.
Namun bersamaan saat aku
mengambil buku itu, seseorang memegangnya juga. Dia seorang namja yang tidak ku
kenal. Dari wajahnya saja aku sudah bisa menilai kalau dia sepertinya sangat
unfriendly.
“Permisi, tapi aku duluan yang
mendapat buku ini”, ujarku berusaha sopan.
“Kau duluan?”, kata namja yang
kelihatannya beberapa tahun lebih tua dariku itu memastikan. “Jelas-jelas aku
duluan yang mengambilnya”.
“Tapi kau menyentuhnya saat aku
mengambil buku ini !”, kataku. Emosi ku sedikit naik saat berbicara dengannya.
“Aku yang mendapatkannya duluan,
titik !”.
“Aku !”
“Aku !”
“Tidak ada, kau terlambat!”,
ujarku sambil menarik buku itu dari tangannya. Tapi dia juga keras kepala, dia
mempertahankan buku itu. Aku berusaha semakin keras menarik buku itu dari
genggamannya dan tetap menjaga buku ini agar tidak rusak.
“Ish, apa urusanmu denganku?”,
ujarku.
“Aku tidak peduli, aku yang
pertama mendapatkannya !”.
“Percuma kau berdebat denganku,
aku pasti yang pertama mendapatkannya !”.
“Dasar bocah, aku yang duluan!”.
Kehabisan kesabaran, aku
menendang kakinya dan mengambil buku itu cepat cepat saat ia merintih
kesakitan. Tanpa kusadari, ternyata ada beberapa orang yang sedang melihat aksi
kami. Wajahku jadi memanas.
Tapi aku tidak menghiraukan itu,
aku segera berlari ke kassa untuk membayar semuanya.
Untungnya, kassa tersebut sepi.
Aku segera merogoh dompetku dan mengeluarkan uang lima puluh ribu won, saat
kasir tersebut sedang men-scan harga buku ku. Dalam hati aku sudah tidak sabar,
tapi aku berusaha tenang. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian lagi.
Saat si kasir tengah memasukkan
buku terakhir ku ke dalam plastik, namja itu muncul sekitar 5 meter di kiri ku
dengan tatapan kesal. Aku mencibir ke arahnya, dan menerima uang kembalian
dengan puas. Siapa cepat dia dapat.
Aku berjalan menuruni tangga, dan
namja itu masih juga mengikutiku. Aku berusaha berjalan dengan normal, seolah
olah tidak tahu dengan fakta kalau namja itu sedang mengikutiku. Aku heran,
kenapa dia tidak menunggu cetakan selanjutnya keluar saja? Atau dia juga bisa
memesan buku itu di internet, tidak perlu susah susah merebut buku itu dariku.
“Bodoh, kenapa kau masih
mengikutiku?”, ujarku pada namja itu.
“Aku sudah bilang, aku yang
pertama mendapat buku itu ! Dasar bocah curang !”
“Terserah apa katamu, pokoknya
aku sudah membayarnya dengan harga sembilan ribu lima ratus won dan berarti
buku itu sepenuhnya milikku, titik !”.
Aku mendengus kesal dan
meninggalkan toko buku itu. That boy has ruined my day. Aku berjalan ke tempat
Eonni sekarang, di luar butik yang ada di sebelah toko buku.
“Sudah dapat bukunya?”, tanya
Eunji eonni sambil memasukkan ponselnya yang baru di ambil dari tempat service
beberapa hari yang lalu.
“Yah, sudah”, jawawbku singkat.
Dia pun menyetop sebuah taksi dan kami berdua masuk ke dalamnya.
“Sepertinya ada yang berkeliaran
di benakmu”, tebak Eunji eonni saat ia melihat aku hanya menatap plastik tempat
buku buku ku berada dengan tatapan datar.
Aku mengangkat bahu dan
mengalihkan pandangan keluar jendela. Kemudian ku lirik lagi Eonni ku yang
sedang senyum senyum saat melihat ponselnya. Pasti namja yang menjatuhkan
ponselnya beberapa minggu yang lalu itu telah merebut hati Eonni. Aku menghela
nafas, merasa biasa saja dengan tingkah Eonni ku satu satunya itu.
Eunji eonni dan aku memiliki
banyak perbedaan. Mungkin dari luar orang sudah bisa menyangka kalau kami
bersaudara. Kami sama-sama memiliki iris mata berwarna hitam tanpa cela dan
rambut cokelat tua yang warna nya sama persis. Bedanya, Eunji eonni adalah
seorang yang modis, mengikuti perkembangan jaman, suka bersenang senang di luar
rumah, pintar melukis, dan ekspresif. Kalau aku? Kebalikannya. Aku seorang yang
terkesan bersikap sedikit apatis terhadap dunia, merasa memiliki dunia sendiri,
kutubuku, suka mengungkapkan perasaan ku lewat tulisan, dan seorang computer
addict. Aku juga tidak berpenampilan modis seperti Eunji eonni. Memang sih, aku
tidak memakai kacamata baca yang tebal, tapi sebagai gantinya aku memakai
contact lens. Dengan semua perbedaan antara aku dan Eunji eonni, aku tidak
pernah mencoba untuk mengubah diriku. Aku adalah aku, selama aku bisa bertahan
aku tidak akan berubah.
~***~
Eunji POV
Ini adalah hari ke tujuh ku
menjadi mahasiswi.
Sungguh, aku sangat menyukai
kehidupan di universitas. Disini para mahasiswa nya bersikap sangat menjunjung
tinggi sopan santun. Tapi mereka juga ramah. Dalam beberapa hari saja aku sudah
mendapatkan banyak teman. Yah, entahlah, mungkin karena ada sesuatu yang
menarik dalam diriku. Oke, aku akui, tidak semua orang seberuntung aku. Siapa
yang tidak ingin pintar matematika dan melukis? Siapa yeoja yang tak ingin
wajahnya cantik tanpa make up atau operasi plastik? Siapa yang tidak ingin bisa
keluar masuk butik ternama tiap minggu?
Aku merasa beruntung karenanya.
“Eunji, tunggu sebentar ya. Ada
sesuatu yang ingin aku cari di perpustakaan”, ujar Sunyoung, teman sebangku ku.
Aku mengangguk.
“Yasudah, aku tunggu di depan
perpustakaan”, ujarku. Aku pun bersandar di dinding luar perpustakaan sambil
memandangi orang orang yang lalu lalang. Ada beberapa orang yang menyapaku.
Meski aku tidak tahu siapa nama mereka, aku juga tetap membalasnya. Kadang ada
beberapa namja yang menegurku dan mengajakku pergi. Tapi semua aku tolak.
Biarkan saja mereka menganggapku sombong. Aku bahkan tidak kenal dengan mereka.
Dari arah tangga, aku melihat
Donghae Oppa yang sedang membawa buku buku tebal—yang kebanyakan berkaitan
dengan bisnis—dan darahku mulai berdesir. Belakangan ini aku lebih dekat
dengannya. Semenjak peristiwa saat dia menjatuhkan ponselku itu, kami jadi
sering membicarakan hal-hal seputar sekolah dan teman-teman di sini. Terutama
tentang penggemar rahasia kami yang selalu menyelipkan surat surat atau benda
benda manis ke loker kami. Aku tertawa saat mengetahui dia juga sama denganku,
mendapatkan surat surat dari anonym tiap hari di loker.
Ia pun menoleh ke arahku yang
sedang menatapnya. Aku tersenyum dan ia berjalan mendekat ke arahku.
“Hai Eunji”, sapanya. “Sedang apa
disini?”.
“Aku …menunggu Sunyoung”, ujarku.
“Kau sendiri?”.
“Hanya kebetulan lewat di sini
saja”, katanya.
Kami pun kembali diam.
Tiga puluh detik..
Aku memutuskan untuk memulai
pembicaraan.
“Jadi hari ini kau mendapat
berapa surat?”, tanyaku.
Ia hanya tertawa kecil dan
menatapku. Tawa itu membuat darahku berdesir lagi. “Tidak ku hitung”, katanya
ringan. “Kau sendiri?”.
“Aku tidak memeriksa lokerku”,
kataku. “Malas”.
“Ada-ada saja”, ujarnya. Aku pun
tersenyum.
“Apa hari Sabtu kau tidak akan
kemana-mana?”, tanyanya.
“Hmmm…sepertinya tidak”, jawabku
sambil memilin milin ujung kaus ku. “Memangnya kenapa?”.
“Bagaimana kalau kita pergi
menonton?”, usulnya. “Ada film baru di bioskop. Aku yang membayar tiketnya. Kau
mau?”.
Dia mengajakku pergi? Wow.
“Aku mau-mau saja”, kataku. “Jam
berapa kita akan bertemu?”.
“Aku akan menjemputmu jam 6
sore”, ujar Donghae oppa. “Rumahmu dimana?”.
Aku memberi tahu alamat rumahku
dan ia mencatatnya di ponsel nya. Aku tersenyum membayangkan sabtu malam nanti.
Nonton di bioskop, makan malam, dan mungkin….
Aih, aku telah dikendalikan
perasaanku sendiri. Perasaan aneh ini.
“Jangan sampai lupa”, katanya. Bagaimana
bisa aku lupa? pikirku.
“Aku janji aku tidak akan lupa”.
“Thanks, Eunji”. Ia pun
mengacak-acak rambutku sebentar dan sepertinya seluruh darah dan panas tubuhku
mengumpul di wajahku.
“Eh..i..iya. Sama-sama”, jawabku
terbata-bata.
“Kalau begitu aku harus pergi”,
kata Donghae oppa sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya.
“Sampai ketemu
lagi”.
“Sampai ketemu juga”, balasku. Ia
pun berjalan menjauh dariku, meninggalkan diriku yang masih tersenyum sendiri
disini. Kemudian ia melihat ke belakang dan tersenyum padaku.
Rasanya suhu udara mulai naik
beberapa derajat.
“Eunji?”, ujar seseorang sambil
melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar dari lamunanku
sendiri dan menatap Sunyoung yang kini sedang membawa beberapa buku di
tangannya.
“Oh, hai”, kataku berusaha
tenang. “Sudah dapat bukunya?”.
Sunyoung tersenyum kecut sambil
menghela nafas. “Kau melamunkannya lagi, kan?”.
“Siapa?”.
“Siapa lagi kalau bukan
Donghae-oppa-mu itu”, katanya sambil berjalan. Aku menyamakan langkah dengan
Sunyoung. Kami berjalan keluar dari sini.
“Dia mengajakku pergi Sabtu malam
nanti”, ujarku pelan-pelan.
“MWO???? KAU SERIUS???”, pekik
Sunyoung refleks. Kini beberapa orang melihat ke arah kami dan aku pura-pura
tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Hhhh, tidak usah berlebihan
begitu”, kataku saat kami sampai di lobi. “Memangnya kenapa kalau dia
mengajakku pergi? Dia hanya mengajakku pergi menonton, bukan ke tempat yang
romantis atau bagaimana”.
“Bisa saja dia menyiapkan sebuah
kejutan untukmu”, kata Sunyoung. “Kau tidak tahu kan apa yang ada di
pikirannya?”.
Aku mengangguk-angguk,
membenarkan kata-katanya. “Yah, mungkin saja”.
“Kau menyukainya?”, tanya Sunyoung
yang langsung menimbulkan pertanyaan di hatiku. Apakah ini sekedar suka biasa
yang jika dibiarkan akan hilang sendiri, atau rasa yang berkembang lebih besar
lagi jika aku mendiamkannya?
“Aku sendiri bingung”, jawabku.
“Kalau kau bingung dengan
perasaanmu sendiri, kemungkinan besar kau menyukainya”, kata Sunyoung sambil
tersenyum padaku.
“Aku meragukan pernyataanmu”,
balasku lagi.
“Terserah, tapi lambat laun kau
akan mengetahuinya”. Aku menunduk dan menatap sepatu kets chuck taylor ku
dengan tatapan tidak menarik.
“Aku harus pulang”, ujar Sunyoung.
“Sampai jumpa besok. Dan sukses untuk hari sabtu ya !”, katanya dengan cukup
keras. Aku menggeram pada Sunyoung yang sedang berjalan di trotoar sekarang,
sambil menahan hasrat untuk tersenyum. Ia pun mencibir ke arahku. Anak
itu…..kenapa perkataannya seperti mengetuk perasaanku sendiri, meminta jawaban
atas kebimbanganku?
~***~
“Minhee, menurutmu yang mana yang
bagus?”, kataku sambil menaruh beberapa baju di atas tempat tidurnya.
“Bagus untuk kemana?”, tanyanya
lagi. Matanya masih fokus pada sebuah buku mengenai pola kalimat dalam bahasa
Jepang.
“Ke bioskop. Dengan Donghae
oppa”, ujarku, yang sontak membuatnya menoleh.
“Donghae? Yang menjatuhkan
ponselmu waktu itu?”. Aku mengangguk.
“Untuk mu…sepertinya yang ini
dengan yang ini. Dengan celana pendek yang ini”, kata Minhee sambil menunjuk
sebuah kaus putih dan cardigan panjang hingga ke atas lutut warna biru muda,
juga celana pendek jeans berpinggang tinggi.
“Kau yakin?”, ujarku.
“Itu hanya pendapatku”.
Aku mengangkat baju itu dan
mencocokannya. “Pilihan yang bagus”, ujarku. Aku pun berjalan ke kamar dan
mengganti bajuku dengan kaus, cardigan, dan celana pendek tadi.
“Wow”, kataku sambil mematut diri
di depan kaca, memperhatikan diriku sendiri dari atas ke bawah. Cantik. Tinggal
merapikan rambut saja, pikirku. Aku pun menyisir rambutku dan menjepit poniku
dengan jepit rambut besar warna hitam putih.
Sekarang baru jam 5.45. Aku
menunggu dengan sabar di ruang tamu ku yang luas sambil memakaikan wedges warna
biru muda ini ke kakiku. Setelah itu, mataku menelusuri ruang tamu keluarga ini
sambil mengingat ingat lagi memori masa lalu. Ada memori yang membuatku
tersenyum saat mengingatnya, ada juga yang membuat dadaku terasa sesak karena
merindukannya.
Pandangan ku tertuju pada foto
keluarga yang lengkap. Ada Appa, Eomma, aku, dan Minhee. Foto itu diambil
sekitar empat tahun yang lalu, saat aku masih SMP. Minhee berada di paling
pinggir sebelah kiri, menggenggam tangan Appa sambil tertawa lebar. Aku,
menggenggam tangan Appa di sebelah kiri dan tangan Eomma di sebelah kanan.
Ekspresi kami semua sama, sedang tertawa. Ah, aku jadi rindu saat saat itu.
Saat dimana keluarga kami masih lengkap.
Tiga tahun yang lalu, Eomma dan
Appa bercerai. Aku kurang begitu tahu alasan mereka bercerai. Setiap mereka
berdua bertengkar, aku yang nekad saat itu mengajak adikku pergi keluar rumah
sampai mereka berdua mencari kami. Awal-awalnya mereka berdua memarahi kami,
tapi lama kelamaan karena mereka bosan, mereka hanya mendiamkan kami. Merasa
taktik kami—maksudku taktik ku—tidak berhasil, kami tidak menyerah. Mulai dari
pulang telat, sering pergi keluar rumah, mengabaikan mereka, pokoknya kami
menganggap rumah bukanlah “istana” kami lagi. Pada akhirnya, semua tidak ada
artinya. Mereka memang bukan tercipta untuk satu sama lain. Aku bisa
membayangkan rasa sakit yang mereka rasakan. Menikah selama 17 tahun dan
memiliki dua orang anak, bukan perkara mudah untuk dilupakan. Kini aku dan
Minhee menetap di rumah Appa, sedangkan Eomma ku sudah pindah ke Pyongyang.
Sesekali saat liburan, atau saat ada waktu, aku dan Minhee mengunjungi rumah
Eomma di Pyongyang, tapi Appa tidak pernah ikut. Aku mengerti alasannya. Jadi
hanya aku dan Minhee saja yang pergi.
Meskipun tugas Appa bertambah
satu—yaitu menjaga dan mengurus kami, tugas Eomma sebenarnya—setelah mereka
bercerai, Appa selalu berusaha meluangkan waktu untuk kami. Kalaupun tidak
bisa, aku juga paham. Sebagai pemilik restoran dan hotel yang sudah memiliki
berbagai cabang di Korea Selatan, tidak dipungkiri kalau Appa pasti sangat
sibuk. Walaupun begitu, Appa seringkali membuatkan kami makan malam yang super
lezat. Belum lagi beliau harus mengurus kami berdua—aku dan Minhee. Jadi aku
lebih memilih untuk selalu menurut perkataan Appa-ku, karena aku tahu beratnya
beban yang ia rasakan.
Aku mengabaikan rasa sesak yang
mendorong diriku untuk menangis dan memandang foto lainnya. Kebanyakan disini
adalah foto aku dan Minhee. Foto kami saat baru lahir, saat balita, saat
pertama masuk pre-school, sampai foto kelulusan ku yang baru saja dipajang
beberapa minggu yang lalu. Menelusuri dinding ruang tamu kami mungkin sama hal
nya dengan mengetahui sejarah dan perkembangan keluarga kami dari tahun ke
tahun.
Bel rumahku pun berdering dan aku
segera bangkit dari sofa ruang tamu. Aku melihat dari jendela dan tersenyum.
Donghae oppa sudah datang. Aku tersenyum dan membuka kan pintu untuknya.
Sejenak aku terpana dengan
penampilannya sekarang. Dengan kemeja hitam dan kaus abu abu serta celana jeans
hitam, aku tidak tahu kenapa aku bisa terpukau. Padahal sepertinya biasa saja.
“Hai Eunji. Kau cantik”, ujarnya.
“Lama menunggu? Maaf aku terlambat dua menit”. Aku tertawa kecil mendengar
permintaan maafnya, sekaligus tersanjung atas pujiannya.
“Tidak apa-apa”, kataku. “Dua menit
itu tidak lama, kok. Ayo, kita pergi sekarang”.
“Apa adikmu ada di rumah?”.
“Ada, dia sedang membaca di
kamarnya. Kenapa?”.
“Boleh aku bertemu dengannya?”.
Aku terdiam sejenak, kemudian masuk ke dalam rumah lagi.
“Ayo, masuk dulu”, kataku. “Akan
aku panggilkan”.
Donghae pun masuk dan aku segera
berjalan menuju kamar adikku. Aku mengetuk pintu kamarnya dan sesaat kemudian
ia membuka pintunya.
“Ada apa?”, tanyanya langsung.
Aku membawa nya ke ruang tamu, ke tempat Donghae berada sekarang. Minhee tampak
terkejut karena nya. Sekarang ia hanya memakai kaus rumah yang lusuh dengan
celana tiga perempat. Minhee menatapku heran.
“Kenalkan, ini adikku. Jung
Minhee”, kataku pada Donghae. Donghae mengulurkan tangan untuk menjabat tangan
Minhee dan Minhee menerimanya dengan sedikit ragu-ragu.
“Annyeonghaseyo, Donghae imnida”,
ujar Donghae pada adikku. Adikku terdiam sebentar, kemudian ia baru membuka
suara.
“Jung Minhee imnida,
bangaptaseumnida Donghae-ssi”, balas adikku sambil membungkuk.
“Oppa, panggil saja aku oppa”,
kata Donghae.
“Ne..Oppa”, ujar adikku sedikit
canggung. Aku tersenyum dan memandang mereka berdua.
“Ayo”, ujarku pada Donghae. “Dan
Minhee, jaga rumah baik-baik. Kalau Appa pulang dan menanyakanku, bilang aku
sedang pergi, oke?”.
“Arraseo”, kata adikku sambil
tersenyum. “Bersenang senang lah. Aku akan menjaga rumah disini”.
“Hati-hati Minhee”, ujar Donghae.
Kami pun melangkah keluar pagar dan ku dengar bunyi pintu di kunci di
belakangku.
“Ayo, duduk di sini”, kata nya
sambil mulai menyalakan sepeda motornya. Aku duduk di belakangnya dengan posisi
menyamping. Agak canggung, tapi aku berharap kami lama-lama saja di jalan.
Setelah kami memakai helm, sepeda
motor yang membawa kami berdua ini mulai menembus jalanan Seoul yang cukup
padat di malam minggu. Lampu lampu jalan mulai hidup dan menerangi jalanan yang
ada di bawahnya. Pusat pertokoan, restoran, hotel, dan semua bangunan di sini
mulai berlomba lomba menerangi langit yang mulai gelap dengan lampu ber watt
besar yang berwarna warni. Aku tersenyum diam diam, memandang kota Seoul yang
gemerlap di malam hari.
“Minhee”, kata Donghae pelan.
“Ya?”.
“Jangan sampai kau jatuh dari
motor dan membuatku dipenjara”. Aku tertawa kecil menanggapinya.
“Jadi?”.
“Berpegangan lah”, katanya. Aku
pun memegang bagian samping kemejanya dengan erat. Tuhan, jangan biarkan kami
cepat sampai, batinku.
Aku jadi teringat kata Sunyoung
beberapa hari yang lalu.
“Kalau kau bingung dengan perasaanmu sendiri, kemungkinan besar kau
menyukainya”
Mungkinkah aku menyukainya?
90 persen dari perasaan dan
benakku mengatakan ya.
Oh God.
~***~
“Kau suka film nya kan?”, tanya
Donghae padaku saat kami beranjak dari kursi bioskop.
“Suka”, jawabku. Aku diam diam
tersenyum.
Jam menunjukkan pukul setengah
sembilan malam. Aku dan Donghae pun keluar dari bioskop bersama pengunjung
lainnya. Film yang kami tonton tadi adalah Hello Strangers, yang cukup
menyegarkan pikiran kami karena bergenre romantic comedy. Tiba-tiba Donghae
meraih tanganku dan menggenggamnya, diantara kerumunan pengunjung yang baru
keluar.
“Jangan sampai kau hilang di
sini. Tidak lucu jadinya”, katanya sambil masih berjalan. Aku tersenyum dan
mendapati fakta kalau dia mengkhawatirkanku. Mungkinkah?
Kami pun menuruni tangga menuju
halaman bioskop. Saat itu, beberapa pengunjung menabrakku dan menyebabkanku
sedikit oleng. Kehilangan keseimbangan. Di saat aku akan jatuh, aku refleks
memeluk Donghae yang ada di sampingku. Ia juga secara tidak sadar menahanku
agar tidak jatuh.
“Hati-hati”, ujar Donghae. “Aku
tidak ingin kau jatuh berguling-guling disini. Membuatku malu”. Aku tersenyum
dan mendorongnya menjauh, melepaskan pelukanku.
Kami pun naik ke atas motor dan
ia segera menjalankan motornya, menuju rumahku. Aku memberi petunjuk arah
karena ia lupa dengan jalannya. Jalanan sekarang padat merayap. Untungnya kami
naik sepeda motor, jadi bisa menyelinap di celah-celah satu kendaraan dengan
kendaraan lainnya.
Dua puluh menit kemudian, kami
sampai di rumahku. Aku turun dan membuka helmku, memberi lagi ke pemiliknya.
“Gomawo untuk hari ini”, ujarku
sambil tersenyum. “Sampai ketemu—“
“Tunggu, Eunji”, potongnya. “Apa
kau merasa senang?”.
“Tentu saja aku merasa senang”,
jawabku.
“Maksudku, apa kau merasa senang
menghabiskan waktu denganku?”.
“Pastinya”, kataku mantap.
“Kenapa?”.
“Apa kau ingin terus seperti
ini?”.
“Itu….”, jawabku ragu-ragu.
“Kalau iya, kenapa, dan kalau tidak, kenapa?”.
“Kalau iya aku juga sama
senangnya denganmu. Kalau tidak…”
“Kau mau bicara apa sih?”,
ujarku, tidak tahu kemana arah pembicaraannya.
Ia menghela nafas habis-habis dan
menatapku tepat di bola mataku. Aku merasa gugup tapi tidak mampu juga untuk
melihat ke arah lain. Kemudian ia tersenyum sambil meraih salah satu tanganku
dan menggenggamnya.
“Eunji-ah..”.
To Be Continued ~
RCL nya ditunggu ya ^^
Mianhae ru sempet bacanya...
BalasHapusAku lebih ska yg skrg ini FF nya..
Lebih buat penasaran...
Ada apa sbnrnya Donghae dgn Minhee?
Enak bgt ya si Eunji jadi yeoja perfect gtu... Hua mauu...
Huahahaha tunggu aja nanti ;)
BalasHapus