Sabtu, 28 Januari 2012

[Fanfiction] Take Me With You (part 1/?)

Hai cemuaaah !! *kiss* *plak


FF request yg sebelumnya aku revisi ya, sekarang aku dapet ide yg lebih gimana gitu. Sedikit perubahan cast hehe. Yaudah cekidot aja ya :P





Eunji POV

Kecepatan berlariku semakin ku tambah, takut aku akan tertinggal. Sedikit lagi aku akan sampai di tempat bersekolah yang ku impi-impikan sejak dulu. Hari ini adalah pengumuman mengenai siapa-siapa saja yang beruntung untuk bersekolah di Universitas paling prestisius di Korea Selatan, Seoul Daehakkyo. Yang biasa dikenal orang sebagai Seouldae atau Seoul National University. Aku memandang gerbang calon Universitasku ini sekilas, lalu berlari lagi. Satu menit lagi, tepatnya jam 10 nanti, kertas berisi nama-nama siswa beruntung itu akan bisa dilihat. Mengingat hal itu aku makin bersemangat dan mempercepat lariku. Aku harus bisa melihat pengumuman itu, secepat yang aku bisa.

Aku pun sampai di depan papan pengumuman. Puluhan orang ada di depannya, mencari apakah nama mereka termasuk atau tidak. Aku menerobos kerumunan orang itu—yang pastinya bisa kulakukan dengan mudah oleh tubuh kecilku ini—tanpa memedulikan desisan orang-orang yang ku terobos. Ku lihat kertas itu dari bawah, bukannya dari atas, untuk menghadapi resiko terburuk.

Semakin lama aku semakin terdesak tapi aku tak kunjung menemukan namaku. Dengan cepat aku menelusuri setiap nama dan mencari inisial namaku. Akhirnya, aku menemukannya !

Jung Eunji : Approved. Score : 97

Aku melihat namaku lama-lama di kertas itu, tidak percaya dengan tulisan yang tertera disana. Aku kembali memastikan, apakah itu benar namaku atau tidak.
Ternyata memang benar namaku. Ku rasa tidak ada nama Jung Eunji lainnya disini. Aku melirik angka yang menunjukkan peringkat di sebelah kiri namaku. Angka setelah 2 itu tertera dengan jelas, membuatku tidak tahu harus berkata apa. Tubuhku serasa di terbangkan ke langit seperti layang layang.

“AKU LULUS !!!!!!”

Aku kembali menerobos kerumunan para calon mahasiswa itu sekali lagi. Rasa bahagiaku meluap-luap, membumbung tinggi menembus ragaku. Sekarang, kata “Jung Eunji, Mahasiswi Arsitektur Seouldae” bukan lagi sebuah mimpi. Ini adalah fakta yang benar-benar sulit dan hampir tidak aku percayai.

Aku mengambil ponsel putih dari saku celanaku dan menekan tombol 3, tombol speed dial untuk menghubungi adikku, Minhee. Kabar baik harus cepat-cepat disampaikan, sebelum menjadi kabar buruk. Aku pun menggenggam benda seukuran telapak tangan itu dan menempelkannya di telingaku. Dengan senyuman yang masih terulas di wajahku, aku menunggu adikku mengangkat telfonnya.

“Yeoboss—“

“MINHEE, AKU LULUS !! NILAIKU 97 !! AKU PERINGKAT 3 !!!”, kataku bahkan sebelum dia mengatakan apa-apa. Aku berteriak teriak kegirangan di telfon. Mungkin adikku sudah menutup telinganya sekarang karena teriakan ratusan desibel yang bisa ku keluarkan sekali nya aku bahagia.

“YAAA EUNJI !! Aku tahu kau pasti lulus tapi jangan membuat kerusakan dini pada gendang telingaku !”, kata adikku tak mau kalah kerasnya. “Apa kata Eonni tadi? 97? 3? Wow, Chukkae Eonni. Doakan saja dua tahun lagi aku akan jadi mahasiswi di sana”.

“Yeah, semoga”, kataku sambil berjalan perlahan. “Lalu apa kau ada rencana untuk pergi ke suatu tempat hari ini?”.

“Umm…” Aku tahu sekarang Minhee pasti sedang mengingat-ingat jadwalnya yang tersusun begitu rapi di buku agenda biru-putihnya. “Sepertinya tidak”.

“Oke, aku tunggu kau di Gilson seperti biasa”.

“Gilson?”.

“Restoran Jepang favori kita, masa kau lupa?”.

“Oh iya, aku ingat”, jawab adikku.

“Secepat—“

BRAKK

Aku menabrak seseorang—atau aku yang menabraknya?—hingga aku nyaris terjengkang. Ku rasakan ponselku yang tadi ada di tanganku berpindah tempat ke jalanan beraspal di bawah kakiku.

“P..ponselku…” Aku sedikit menunduk dan memandang ponsel ku yang layarnya retak seperempat bagian dengan warna putih dan pelangi sepenuhnya itu dengan nanar dan kecewa. Kemudian aku ambil benda putih yang sudah tidak menyala lagi itu dengan sedih, marah, dan kesal. Aku berjongkok dan mengelus-elus layarnya yang retak sambil melihat casing  putihnya yang tergores. Logo apple yang terdapat disana tergores, dan aku semakin menatapnya sedih. Ponsel pemberian Appa-ku saat awal tahun ini sudah tak berbentuk seperti semula lagi. Aku menatap orang di depanku, yang membuat wujud ponsel ini jadi hancur.

“Kau…”, ujarku sambil menunjuknya. “Kau lihat apa yang kau perbuat?”, tanyaku sinis kemudian berdiri.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo agasshi. Aku benar benar tidak sengaja, agasshi. Akan ku ganti”, kata namja itu sambil merogoh dompetnya. Kemudian ia mencari cari sesuatu dan aku yang tidak berniat lagi menunggunya, meninggalkannya.

“Agasshi, tunggu.  Mungkin kau bisa memakai ini”, ujarnya sambil menarik lenganku. Ia menyerahkan sebuah kartu ATM dan aku memandangnya heran.

“Kartu ATM?”, tanyaku. “Kau kira semua cukup untuk mengganti ponselku? Bagaimana dengan pesan singkat yang ada disana? Bagaimana dengan kontaknya? Bagaimana dengan—“

“Ambil saja”, katanya sambil tersenyum. “Mungkin uangku tidak cukup untuk menggantinya, tapi setidaknya aku sudah berniat untuk mengganti”.

Aku terpana dan memandangi kartu kecil yang kini sudah terdapat di tanganku. Hatiku sibuk menimbang nimbang, antara ingin menerimanya dengan tidak. Kalau tidak aku terima…aku tidak punya cukup banyak uang sekarang. Maksudku, aku memang selalu punya cadangan uang, tapi tidak cukup untuk memperbaiki iPhone putih ini.

“Kau yakin?”

“Pasti”, ujarnya. Aku mengangkat bahu dan berjalan lagi, seraya meningat ingat ATM terdekat yang ada di sekitar sini. Ternyata namja itu mengikutiku dan aku menghela nafas.

“Kenapa kau mengikutiku?”.

“Aku pemilik kartu ATM itu, jadi aku harus bertanggung jawab atas segalanya”, kata nya. Cara bicara namja ini mirip dengan cara bicara adikku yang sedikit konsevatif itu.

Tidak buruk, juga tidak baik.

~***~

“Kamsahamnida”, kataku saat keluar dari ATM. Aku menyerahkan kartu itu kembali kepadanya dan memasukkan uang 100.000 won yang baru ku ambil ke dalam tas ku.

“Cheonmanyo”, balasnya. “Berapa yang kau ambil?”.

“Se….ratus ribu”, ujarku takut-takut.

“Oh, kenapa kau tidak ambil lebih?”.

Mwo? Enteng sekali dia berkata seperti itu.

“A…aniyo. Tidak usah, sudah cukup kok”, balasku. “Jeongmal kamsahamnida…err..siapa..siapa namamu?”.

“Lee Donghae”, katanya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Jung Eunji”, balasku.

“Jung Eunji?”, tanyanya memastikan.

“Iya, memangnya kenapa?”.

“Lulus ke Jurusan Arsitektur dengan peringkat ketiga kan?”.

“Ah itu…”, jawabku salah tingkah. “Kenapa kau tahu?”.
Namun ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. “Sebulan lagi aku akan menjadi senior mu”

“Oh…begitu”, kataku. “Kalau begitu bagaimana kalau kita—“
MINHEE ! Astaga, aku baru ingat janjiku dengan adikku. Aku baru saja akan mengajak Donghae pergi kemana, tiba tiba aku ingat dengan Minhee. Jarak dari rumah ku ke Gilson cukup dekat, dan pasti adikku sudah menunggu disana. Dan Minhee paling tidak bisa bertoleransi dalam hal waktu.

“Maaf Donghae, aku lupa, aku ada janji dengan adikku !”, kataku sambil segera bergegas. “Sampai ketemu…uh, sebulan lagi?”, teriakku.

“Tunggu Eunji!”, serunya. Ia memberikan sebuah kertas berisi beberapa angka kepadaku.

“Hubungi aku kalau kau perlu sesuatu”, ujarnya. Aku menerima kertas itu dan memandanginya sejenak, kemudian memasukkannya dalam tasku.

“Ah, gomawo Donghae-ssi”, kataku. “Tapi aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa!”.

Ia melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. “Sampai jumpa, Eunji”.

Aku meneruskan berlari dan saat sudah jauh aku kembali melihat ke belakang. Ternyata Donghae sudah berjalan ke lain arah. Aku diam-diam tersenyum mengingat apa yang baru saja dia lakukan. Jarang sekali ada orang baik seperti dia.

Entah dia melihat senyuman ku atau tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku berhutang begitu besar padanya.

~***~

Minhee POV

Aku menelusuri setiap rak rak buku di sini sambil berusaha memutuskan buku mana yang akan aku beli. Di tanganku sudah ada 3 buah buku—2 buah novel fantasi dan satu buah kamus Bahasa Jepang setebal kasur—tapi aku belum juga puas, masih ingin membeli karya sastra lainnya. Kebanyakan anak-anak sekolah menengah sepertiku tidak menyukai hal-hal yang berbau imajinasi terlalu tinggi, melainkan novel novel remaja yang makin lama makin aneh saja isinya. Meskipun novel fantasi juga aneh, tapi tetap saja, novel fantasi adalah perwujudan dari imajinasi terlalu tinggi.

Sambil mengambil tas plastik tempat menaruh buku, pandanganku masih tertuju pada novel-novel yang ada di bagian fantasi. Setelah selesai menaruh buku ke dalam tas, aku segera berjalan menuju rak tersebut dan mengambil satu buah novel yang bahkan belum sempat ku baca judulnya, tapi tertarik dengan sampulnya. Di rak itu, novel itu hanya terdapat satu buah. Jadi aku segera mengambilnya.

Namun bersamaan saat aku mengambil buku itu, seseorang memegangnya juga. Dia seorang namja yang tidak ku kenal. Dari wajahnya saja aku sudah bisa menilai kalau dia sepertinya sangat unfriendly.

“Permisi, tapi aku duluan yang mendapat buku ini”, ujarku berusaha sopan.

“Kau duluan?”, kata namja yang kelihatannya beberapa tahun lebih tua dariku itu memastikan. “Jelas-jelas aku duluan yang mengambilnya”.

“Tapi kau menyentuhnya saat aku mengambil buku ini !”, kataku. Emosi ku sedikit naik saat berbicara dengannya.

“Aku yang mendapatkannya duluan, titik !”.

“Aku !”

“Aku !”

“Tidak ada, kau terlambat!”, ujarku sambil menarik buku itu dari tangannya. Tapi dia juga keras kepala, dia mempertahankan buku itu. Aku berusaha semakin keras menarik buku itu dari genggamannya dan tetap menjaga buku ini agar tidak rusak.

“Ish, apa urusanmu denganku?”, ujarku.

“Aku tidak peduli, aku yang pertama mendapatkannya !”.

“Percuma kau berdebat denganku, aku pasti yang pertama mendapatkannya !”.

“Dasar bocah, aku yang duluan!”.
Kehabisan kesabaran, aku menendang kakinya dan mengambil buku itu cepat cepat saat ia merintih kesakitan. Tanpa kusadari, ternyata ada beberapa orang yang sedang melihat aksi kami. Wajahku jadi memanas.

Tapi aku tidak menghiraukan itu, aku segera berlari ke kassa untuk membayar semuanya.

Untungnya, kassa tersebut sepi. Aku segera merogoh dompetku dan mengeluarkan uang lima puluh ribu won, saat kasir tersebut sedang men-scan harga buku ku. Dalam hati aku sudah tidak sabar, tapi aku berusaha tenang. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian lagi.

Saat si kasir tengah memasukkan buku terakhir ku ke dalam plastik, namja itu muncul sekitar 5 meter di kiri ku dengan tatapan kesal. Aku mencibir ke arahnya, dan menerima uang kembalian dengan puas. Siapa cepat dia dapat.

Aku berjalan menuruni tangga, dan namja itu masih juga mengikutiku. Aku berusaha berjalan dengan normal, seolah olah tidak tahu dengan fakta kalau namja itu sedang mengikutiku. Aku heran, kenapa dia tidak menunggu cetakan selanjutnya keluar saja? Atau dia juga bisa memesan buku itu di internet, tidak perlu susah susah merebut buku itu dariku.

“Bodoh, kenapa kau masih mengikutiku?”, ujarku pada namja itu.

“Aku sudah bilang, aku yang pertama mendapat buku itu ! Dasar bocah curang !”

“Terserah apa katamu, pokoknya aku sudah membayarnya dengan harga sembilan ribu lima ratus won dan berarti buku itu sepenuhnya milikku, titik !”.

Aku mendengus kesal dan meninggalkan toko buku itu. That boy has ruined my day. Aku berjalan ke tempat Eonni sekarang, di luar butik yang ada di sebelah toko buku.

“Sudah dapat bukunya?”, tanya Eunji eonni sambil memasukkan ponselnya yang baru di ambil dari tempat service beberapa hari yang lalu.

“Yah, sudah”, jawawbku singkat. Dia pun menyetop sebuah taksi dan kami berdua masuk ke dalamnya.

“Sepertinya ada yang berkeliaran di benakmu”, tebak Eunji eonni saat ia melihat aku hanya menatap plastik tempat buku buku ku berada dengan tatapan datar.

Aku mengangkat bahu dan mengalihkan pandangan keluar jendela. Kemudian ku lirik lagi Eonni ku yang sedang senyum senyum saat melihat ponselnya. Pasti namja yang menjatuhkan ponselnya beberapa minggu yang lalu itu telah merebut hati Eonni. Aku menghela nafas, merasa biasa saja dengan tingkah Eonni ku satu satunya itu.

Eunji eonni dan aku memiliki banyak perbedaan. Mungkin dari luar orang sudah bisa menyangka kalau kami bersaudara. Kami sama-sama memiliki iris mata berwarna hitam tanpa cela dan rambut cokelat tua yang warna nya sama persis. Bedanya, Eunji eonni adalah seorang yang modis, mengikuti perkembangan jaman, suka bersenang senang di luar rumah, pintar melukis, dan ekspresif. Kalau aku? Kebalikannya. Aku seorang yang terkesan bersikap sedikit apatis terhadap dunia, merasa memiliki dunia sendiri, kutubuku, suka mengungkapkan perasaan ku lewat tulisan, dan seorang computer addict. Aku juga tidak berpenampilan modis seperti Eunji eonni. Memang sih, aku tidak memakai kacamata baca yang tebal, tapi sebagai gantinya aku memakai contact lens. Dengan semua perbedaan antara aku dan Eunji eonni, aku tidak pernah mencoba untuk mengubah diriku. Aku adalah aku, selama aku bisa bertahan aku tidak akan berubah.

~***~

Eunji POV

Ini adalah hari ke tujuh ku menjadi mahasiswi.

Sungguh, aku sangat menyukai kehidupan di universitas. Disini para mahasiswa nya bersikap sangat menjunjung tinggi sopan santun. Tapi mereka juga ramah. Dalam beberapa hari saja aku sudah mendapatkan banyak teman. Yah, entahlah, mungkin karena ada sesuatu yang menarik dalam diriku. Oke, aku akui, tidak semua orang seberuntung aku. Siapa yang tidak ingin pintar matematika dan melukis? Siapa yeoja yang tak ingin wajahnya cantik tanpa make up atau operasi plastik? Siapa yang tidak ingin bisa keluar masuk butik ternama tiap minggu?

Aku merasa beruntung karenanya.

“Eunji, tunggu sebentar ya. Ada sesuatu yang ingin aku cari di perpustakaan”, ujar Sunyoung, teman sebangku ku. Aku mengangguk.

“Yasudah, aku tunggu di depan perpustakaan”, ujarku. Aku pun bersandar di dinding luar perpustakaan sambil memandangi orang orang yang lalu lalang. Ada beberapa orang yang menyapaku. Meski aku tidak tahu siapa nama mereka, aku juga tetap membalasnya. Kadang ada beberapa namja yang menegurku dan mengajakku pergi. Tapi semua aku tolak. Biarkan saja mereka menganggapku sombong. Aku bahkan tidak kenal dengan mereka.

Dari arah tangga, aku melihat Donghae Oppa yang sedang membawa buku buku tebal—yang kebanyakan berkaitan dengan bisnis—dan darahku mulai berdesir. Belakangan ini aku lebih dekat dengannya. Semenjak peristiwa saat dia menjatuhkan ponselku itu, kami jadi sering membicarakan hal-hal seputar sekolah dan teman-teman di sini. Terutama tentang penggemar rahasia kami yang selalu menyelipkan surat surat atau benda benda manis ke loker kami. Aku tertawa saat mengetahui dia juga sama denganku, mendapatkan surat surat dari anonym tiap hari di loker.

Ia pun menoleh ke arahku yang sedang menatapnya. Aku tersenyum dan ia berjalan mendekat ke arahku.

“Hai Eunji”, sapanya. “Sedang apa disini?”.

“Aku …menunggu Sunyoung”, ujarku. “Kau sendiri?”.

“Hanya kebetulan lewat di sini saja”, katanya.

Kami pun kembali diam.

Tiga puluh detik..

Aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.

“Jadi hari ini kau mendapat berapa surat?”, tanyaku.

Ia hanya tertawa kecil dan menatapku. Tawa itu membuat darahku berdesir lagi. “Tidak ku hitung”, katanya ringan. “Kau sendiri?”.

“Aku tidak memeriksa lokerku”, kataku. “Malas”.

“Ada-ada saja”, ujarnya. Aku pun tersenyum.

“Apa hari Sabtu kau tidak akan kemana-mana?”, tanyanya.

“Hmmm…sepertinya tidak”, jawabku sambil memilin milin ujung kaus ku. “Memangnya kenapa?”.

“Bagaimana kalau kita pergi menonton?”, usulnya. “Ada film baru di bioskop. Aku yang membayar tiketnya. Kau mau?”.

Dia mengajakku pergi? Wow.

“Aku mau-mau saja”, kataku. “Jam berapa kita akan bertemu?”.

“Aku akan menjemputmu jam 6 sore”, ujar Donghae oppa. “Rumahmu dimana?”.

Aku memberi tahu alamat rumahku dan ia mencatatnya di ponsel nya. Aku tersenyum membayangkan sabtu malam nanti. Nonton di bioskop, makan malam, dan mungkin….

Aih, aku telah dikendalikan perasaanku sendiri. Perasaan aneh ini.

“Jangan sampai lupa”, katanya. Bagaimana bisa aku lupa? pikirku.

“Aku janji aku tidak akan lupa”.

“Thanks, Eunji”. Ia pun mengacak-acak rambutku sebentar dan sepertinya seluruh darah dan panas tubuhku mengumpul di wajahku.

“Eh..i..iya. Sama-sama”, jawabku terbata-bata.

“Kalau begitu aku harus pergi”, kata Donghae oppa sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya. 

“Sampai ketemu lagi”.

“Sampai ketemu juga”, balasku. Ia pun berjalan menjauh dariku, meninggalkan diriku yang masih tersenyum sendiri disini. Kemudian ia melihat ke belakang dan tersenyum padaku.

Rasanya suhu udara mulai naik beberapa derajat.

“Eunji?”, ujar seseorang sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar dari lamunanku sendiri dan menatap Sunyoung yang kini sedang membawa beberapa buku di tangannya.

“Oh, hai”, kataku berusaha tenang. “Sudah dapat bukunya?”.

Sunyoung tersenyum kecut sambil menghela nafas. “Kau melamunkannya lagi, kan?”.

“Siapa?”.

“Siapa lagi kalau bukan Donghae-oppa-mu itu”, katanya sambil berjalan. Aku menyamakan langkah dengan Sunyoung. Kami berjalan keluar dari sini.

“Dia mengajakku pergi Sabtu malam nanti”, ujarku pelan-pelan.

“MWO???? KAU SERIUS???”, pekik Sunyoung refleks. Kini beberapa orang melihat ke arah kami dan aku pura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Hhhh, tidak usah berlebihan begitu”, kataku saat kami sampai di lobi. “Memangnya kenapa kalau dia mengajakku pergi? Dia hanya mengajakku pergi menonton, bukan ke tempat yang romantis atau bagaimana”.

“Bisa saja dia menyiapkan sebuah kejutan untukmu”, kata Sunyoung. “Kau tidak tahu kan apa yang ada di pikirannya?”.

Aku mengangguk-angguk, membenarkan kata-katanya. “Yah, mungkin saja”.

“Kau menyukainya?”, tanya Sunyoung yang langsung menimbulkan pertanyaan di hatiku. Apakah ini sekedar suka biasa yang jika dibiarkan akan hilang sendiri, atau rasa yang berkembang lebih besar lagi jika aku mendiamkannya?

“Aku sendiri bingung”, jawabku.

“Kalau kau bingung dengan perasaanmu sendiri, kemungkinan besar kau menyukainya”, kata Sunyoung sambil tersenyum padaku.

“Aku meragukan pernyataanmu”, balasku lagi.

“Terserah, tapi lambat laun kau akan mengetahuinya”. Aku menunduk dan menatap sepatu kets chuck taylor ku dengan tatapan tidak menarik.

“Aku harus pulang”, ujar Sunyoung. “Sampai jumpa besok. Dan sukses untuk hari sabtu ya !”, katanya dengan cukup keras. Aku menggeram pada Sunyoung yang sedang berjalan di trotoar sekarang, sambil menahan hasrat untuk tersenyum. Ia pun mencibir ke arahku. Anak itu…..kenapa perkataannya seperti mengetuk perasaanku sendiri, meminta jawaban atas kebimbanganku?

~***~

Minhee, menurutmu yang mana yang bagus?”, kataku sambil menaruh beberapa baju di atas tempat tidurnya.

“Bagus untuk kemana?”, tanyanya lagi. Matanya masih fokus pada sebuah buku mengenai pola kalimat dalam bahasa Jepang.

“Ke bioskop. Dengan Donghae oppa”, ujarku, yang sontak membuatnya menoleh.

“Donghae? Yang menjatuhkan ponselmu waktu itu?”. Aku mengangguk.

“Untuk mu…sepertinya yang ini dengan yang ini. Dengan celana pendek yang ini”, kata Minhee sambil menunjuk sebuah kaus putih dan cardigan panjang hingga ke atas lutut warna biru muda, juga celana pendek jeans berpinggang tinggi.

“Kau yakin?”, ujarku.

“Itu hanya pendapatku”.

Aku mengangkat baju itu dan mencocokannya. “Pilihan yang bagus”, ujarku. Aku pun berjalan ke kamar dan mengganti bajuku dengan kaus, cardigan, dan celana pendek tadi.

“Wow”, kataku sambil mematut diri di depan kaca, memperhatikan diriku sendiri dari atas ke bawah. Cantik. Tinggal merapikan rambut saja, pikirku. Aku pun menyisir rambutku dan menjepit poniku dengan jepit rambut besar warna hitam putih.

Sekarang baru jam 5.45. Aku menunggu dengan sabar di ruang tamu ku yang luas sambil memakaikan wedges warna biru muda ini ke kakiku. Setelah itu, mataku menelusuri ruang tamu keluarga ini sambil mengingat ingat lagi memori masa lalu. Ada memori yang membuatku tersenyum saat mengingatnya, ada juga yang membuat dadaku terasa sesak karena merindukannya.

Pandangan ku tertuju pada foto keluarga yang lengkap. Ada Appa, Eomma, aku, dan Minhee. Foto itu diambil sekitar empat tahun yang lalu, saat aku masih SMP. Minhee berada di paling pinggir sebelah kiri, menggenggam tangan Appa sambil tertawa lebar. Aku, menggenggam tangan Appa di sebelah kiri dan tangan Eomma di sebelah kanan. Ekspresi kami semua sama, sedang tertawa. Ah, aku jadi rindu saat saat itu. Saat dimana keluarga kami masih lengkap.

Tiga tahun yang lalu, Eomma dan Appa bercerai. Aku kurang begitu tahu alasan mereka bercerai. Setiap mereka berdua bertengkar, aku yang nekad saat itu mengajak adikku pergi keluar rumah sampai mereka berdua mencari kami. Awal-awalnya mereka berdua memarahi kami, tapi lama kelamaan karena mereka bosan, mereka hanya mendiamkan kami. Merasa taktik kami—maksudku taktik ku—tidak berhasil, kami tidak menyerah. Mulai dari pulang telat, sering pergi keluar rumah, mengabaikan mereka, pokoknya kami menganggap rumah bukanlah “istana” kami lagi. Pada akhirnya, semua tidak ada artinya. Mereka memang bukan tercipta untuk satu sama lain. Aku bisa membayangkan rasa sakit yang mereka rasakan. Menikah selama 17 tahun dan memiliki dua orang anak, bukan perkara mudah untuk dilupakan. Kini aku dan Minhee menetap di rumah Appa, sedangkan Eomma ku sudah pindah ke Pyongyang. Sesekali saat liburan, atau saat ada waktu, aku dan Minhee mengunjungi rumah Eomma di Pyongyang, tapi Appa tidak pernah ikut. Aku mengerti alasannya. Jadi hanya aku dan Minhee saja yang pergi.

Meskipun tugas Appa bertambah satu—yaitu menjaga dan mengurus kami, tugas Eomma sebenarnya—setelah mereka bercerai, Appa selalu berusaha meluangkan waktu untuk kami. Kalaupun tidak bisa, aku juga paham. Sebagai pemilik restoran dan hotel yang sudah memiliki berbagai cabang di Korea Selatan, tidak dipungkiri kalau Appa pasti sangat sibuk. Walaupun begitu, Appa seringkali membuatkan kami makan malam yang super lezat. Belum lagi beliau harus mengurus kami berdua—aku dan Minhee. Jadi aku lebih memilih untuk selalu menurut perkataan Appa-ku, karena aku tahu beratnya beban yang ia rasakan.
Aku mengabaikan rasa sesak yang mendorong diriku untuk menangis dan memandang foto lainnya. Kebanyakan disini adalah foto aku dan Minhee. Foto kami saat baru lahir, saat balita, saat pertama masuk pre-school, sampai foto kelulusan ku yang baru saja dipajang beberapa minggu yang lalu. Menelusuri dinding ruang tamu kami mungkin sama hal nya dengan mengetahui sejarah dan perkembangan keluarga kami dari tahun ke tahun.

Bel rumahku pun berdering dan aku segera bangkit dari sofa ruang tamu. Aku melihat dari jendela dan tersenyum. Donghae oppa sudah datang. Aku tersenyum dan membuka kan pintu untuknya.
Sejenak aku terpana dengan penampilannya sekarang. Dengan kemeja hitam dan kaus abu abu serta celana jeans hitam, aku tidak tahu kenapa aku bisa terpukau. Padahal sepertinya biasa saja.

“Hai Eunji. Kau cantik”, ujarnya. “Lama menunggu? Maaf aku terlambat dua menit”. Aku tertawa kecil mendengar permintaan maafnya, sekaligus tersanjung atas pujiannya.

“Tidak apa-apa”, kataku. “Dua menit itu tidak lama, kok. Ayo, kita pergi sekarang”.

“Apa adikmu ada di rumah?”.

“Ada, dia sedang membaca di kamarnya. Kenapa?”.

“Boleh aku bertemu dengannya?”. Aku terdiam sejenak, kemudian masuk ke dalam rumah lagi.

“Ayo, masuk dulu”, kataku. “Akan aku panggilkan”.
Donghae pun masuk dan aku segera berjalan menuju kamar adikku. Aku mengetuk pintu kamarnya dan sesaat kemudian ia membuka pintunya.

“Ada apa?”, tanyanya langsung. Aku membawa nya ke ruang tamu, ke tempat Donghae berada sekarang. Minhee tampak terkejut karena nya. Sekarang ia hanya memakai kaus rumah yang lusuh dengan celana tiga perempat. Minhee menatapku heran.

“Kenalkan, ini adikku. Jung Minhee”, kataku pada Donghae. Donghae mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Minhee dan Minhee menerimanya dengan sedikit ragu-ragu.

“Annyeonghaseyo, Donghae imnida”, ujar Donghae pada adikku. Adikku terdiam sebentar, kemudian ia baru membuka suara.

“Jung Minhee imnida, bangaptaseumnida Donghae-ssi”, balas adikku sambil membungkuk.

“Oppa, panggil saja aku oppa”, kata Donghae.

“Ne..Oppa”, ujar adikku sedikit canggung. Aku tersenyum dan memandang mereka berdua.

“Ayo”, ujarku pada Donghae. “Dan Minhee, jaga rumah baik-baik. Kalau Appa pulang dan menanyakanku, bilang aku sedang pergi, oke?”.

“Arraseo”, kata adikku sambil tersenyum. “Bersenang senang lah. Aku akan menjaga rumah disini”.

“Hati-hati Minhee”, ujar Donghae. Kami pun melangkah keluar pagar dan ku dengar bunyi pintu di kunci di belakangku.

“Ayo, duduk di sini”, kata nya sambil mulai menyalakan sepeda motornya. Aku duduk di belakangnya dengan posisi menyamping. Agak canggung, tapi aku berharap kami lama-lama saja di jalan.

Setelah kami memakai helm, sepeda motor yang membawa kami berdua ini mulai menembus jalanan Seoul yang cukup padat di malam minggu. Lampu lampu jalan mulai hidup dan menerangi jalanan yang ada di bawahnya. Pusat pertokoan, restoran, hotel, dan semua bangunan di sini mulai berlomba lomba menerangi langit yang mulai gelap dengan lampu ber watt besar yang berwarna warni. Aku tersenyum diam diam, memandang kota Seoul yang gemerlap di malam hari.

“Minhee”, kata Donghae pelan.

“Ya?”.

“Jangan sampai kau jatuh dari motor dan membuatku dipenjara”. Aku tertawa kecil menanggapinya.

“Jadi?”.

“Berpegangan lah”, katanya. Aku pun memegang bagian samping kemejanya dengan erat. Tuhan, jangan biarkan kami cepat sampai, batinku.

Aku jadi teringat kata Sunyoung beberapa hari yang lalu.

“Kalau kau bingung dengan perasaanmu sendiri, kemungkinan besar kau menyukainya”

Mungkinkah aku menyukainya?

90 persen dari perasaan dan benakku mengatakan ya.

Oh God.

~***~

“Kau suka film nya kan?”, tanya Donghae padaku saat kami beranjak dari kursi bioskop.

“Suka”, jawabku. Aku diam diam tersenyum.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku dan Donghae pun keluar dari bioskop bersama pengunjung lainnya. Film yang kami tonton tadi adalah Hello Strangers, yang cukup menyegarkan pikiran kami karena bergenre romantic comedy. Tiba-tiba Donghae meraih tanganku dan menggenggamnya, diantara kerumunan pengunjung yang baru keluar.

“Jangan sampai kau hilang di sini. Tidak lucu jadinya”, katanya sambil masih berjalan. Aku tersenyum dan mendapati fakta kalau dia mengkhawatirkanku. Mungkinkah?

Kami pun menuruni tangga menuju halaman bioskop. Saat itu, beberapa pengunjung menabrakku dan menyebabkanku sedikit oleng. Kehilangan keseimbangan. Di saat aku akan jatuh, aku refleks memeluk Donghae yang ada di sampingku. Ia juga secara tidak sadar menahanku agar tidak jatuh.

“Hati-hati”, ujar Donghae. “Aku tidak ingin kau jatuh berguling-guling disini. Membuatku malu”. Aku tersenyum dan mendorongnya menjauh, melepaskan pelukanku.

Kami pun naik ke atas motor dan ia segera menjalankan motornya, menuju rumahku. Aku memberi petunjuk arah karena ia lupa dengan jalannya. Jalanan sekarang padat merayap. Untungnya kami naik sepeda motor, jadi bisa menyelinap di celah-celah satu kendaraan dengan kendaraan lainnya.

Dua puluh menit kemudian, kami sampai di rumahku. Aku turun dan membuka helmku, memberi lagi ke pemiliknya.

“Gomawo untuk hari ini”, ujarku sambil tersenyum. “Sampai ketemu—“

“Tunggu, Eunji”, potongnya. “Apa kau merasa senang?”.

“Tentu saja aku merasa senang”, jawabku.

“Maksudku, apa kau merasa senang menghabiskan waktu denganku?”.

“Pastinya”, kataku mantap. “Kenapa?”.
“Apa kau ingin terus seperti ini?”.

“Itu….”, jawabku ragu-ragu. “Kalau iya, kenapa, dan kalau tidak, kenapa?”.

“Kalau iya aku juga sama senangnya denganmu. Kalau tidak…”

“Kau mau bicara apa sih?”, ujarku, tidak tahu kemana arah pembicaraannya.
Ia menghela nafas habis-habis dan menatapku tepat di bola mataku. Aku merasa gugup tapi tidak mampu juga untuk melihat ke arah lain. Kemudian ia tersenyum sambil meraih salah satu tanganku dan menggenggamnya.


“Eunji-ah..”. 



To Be Continued ~


RCL nya ditunggu ya ^^

2 komentar:

  1. Mianhae ru sempet bacanya...
    Aku lebih ska yg skrg ini FF nya..
    Lebih buat penasaran...
    Ada apa sbnrnya Donghae dgn Minhee?
    Enak bgt ya si Eunji jadi yeoja perfect gtu... Hua mauu...

    BalasHapus