Sabtu, 04 Februari 2012

[Fanfiction] Take Me With You [Part 2/?]

Buat amalia eonni, maaf ya aku lama nge post ff nya. Sekarang aku udh kelas 9, bentar lagi mau UN jadi makin banyak kesibukannya :( Tapi mudah2an eonni puas sama ff ini. Langsung aja yah..


Eunji POV 

"Gomawo untuk hari ini”, ujarku sambil tersenyum. “Sampai ketemu—“

“Tunggu, Eunji”, potongnya. “Apa kau merasa senang?”.

“Tentu saja aku merasa senang”, jawabku.

“Maksudku, apa kau merasa senang menghabiskan waktu denganku?”.

“Pastinya”, kataku mantap. “Kenapa?”.

“Apa kau ingin terus seperti ini?”.

“Kalau iya aku juga sama senangnya denganmu. Kalau tidak…”“Kau mau bicara apa sih?”, ujarku, tidak tahu kemana arah pembicaraannya.

Ia menghela nafas habis-habis dan menatapku tepat di bola mataku. Aku merasa gugup tapi tidak mampu juga untuk melihat ke arah lain. Kemudian ia tersenyum sambil meraih salah satu tanganku dan menggenggamnya.

“Eunji-ah, saranghae”

“A..a..apa?”.

“Eunji-ah, saranghae. Apa masih kurang jelas?”.

“M..maksud..mu?”.

“Aku mencintaimu”.

Jiwaku seperti melayang dari ragaku, mendengar kata-kata tadi. Aku meragukan kalau kata kata tadi benar benar keluar dari mulutnya. Aku mencintaimu…kata kata itu sudah pernah diucapkan beberapa namja kepadaku tapi…baru kali ini aku merasa akan melayang.

“Kau sungguh-sungguh?”. Ia mengangguk pelan.

“Would you be my girlfriend?”, katanya. Aku hampir melongo mendengar perkataannya. Dia serius?

“Kau.. serius?”.

“Sekalipun aku mabuk aku tidak akan mengucapkan kalimat itu sembarangan”. Aku tersenyum dan sedikit menunduk, memandang jalan di bawah kakiku.

“Aku menerimanya jika kau mengucapkan ‘Jung Eunji, saranghae’ sebanyak seratus kali”, ujarku dengan ekspresi serius.

“Baiklah, itu hanya hal kecil.”, katanya santai. “Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji…”.

“Stop-stop”, kataku menghentikannya. “Kau melakukannnya atau tidak pun aku tetap menerimamu. Jangan ambil serius perkataanku tadi. Aku hanya bercanda, untuk membuktikan kesungguhanmu”.

Ia tertawa kecil bersamaku. Donghae pun meraih punggungku dengan tangan nya dan mendekatkannya ke dirinya sendiri. Ia memelukku. Erat.

“Saranghae”, ujarnya sambil melepaskan pelukan kami. Aku tersenyum dan sedikit tersipu. Aku punya seorang namjachingu !

“Me too”, balasku.

“Masuklah, Eunji. Sudah hampir jam sembilan. Orangtuamu pasti cemas”, usul Donghae.

“M..mereka sedang pergi keluar kota”, balasku sedikit  tergagap. “Terima kasih banyak untuk hari ini, Donghae”.

“Sama-sama”, ujarnya. “Aku mau memastikan sekali lagi. Kau benar benar merasa senang?”. Aku mengangguk.

“Kau serius dan sungguh sungguh memaknainya?”.

“Jangan meniru kata-kataku !”, ujarku sambil sedikit tertawa. “Tentu saja. Aku heran kenapa kau bisa mempunyai perasaan yang sama denganku”.

Ia tersenyum dan mengacak acak rambutku. “Dasar, Jung Eunji”, katanya. “By the way sekarang sudah malam. Masuklah ke rumahmu”.

“Kau juga, pulanglah. Jangan sampai kau terlalu malam saat tiba di rumah”, ujarku.

“Baiklah, Tuan Putri”, kata Donghae dan aku tersenyum kecil. “Sampai jumpa”.

“Ne. Sampai jumpa. Hati-hati di jalan ! Aku tidak mau kau terluka”, kataku sambil melambaikan tangan. 

Donghae pun tersenyum dan makin lama siluetnya makin menghilang ditelan jalan raya yang ramai.

Aku masuk ke dalam rumah dengan senyum yang masih mengembang di wajahku. Begini ya rasanya bahagia kalau cinta kita terbalas? Aku baru tahu kali ini.

Benar, aku baru tahu.

Aku memandang ke seluruh penjuru rumahku yang luas dan sepi itu. Ah, Appa belum pulang. Padahal sekarang hari Sabtu. Biasanya Appa pulang sekitar jam 7 dan langsung memasakkan makanan untuk kami. Tapi sekarang beliau belum pulang. Aku pun berjalan menuju kamar adikku di lantai satu dan membuka pintunya.

“Minhee ! Kau tau apa yang—“

“Aku sudah lihat tadi”, ujarnya, yang membuatku sedikit pucat.

“Melihat apa…?”.

“Melihat kau dengan Donghae di depan rumah”, katanya santai, sambil menekan-nekan layar tablet di hadapannya, entah apa yang dia lihat.

“K..kau melihatnya?”, tanya ku takut-takut. Minhee hanya mengangguk.

Aku menghembuskan nafas berat. “Jangan bilang ke siapa-siapa. Biarkan orang tahu sendiri”.

“Namjachingu mu itu kelihatannya baik”, kata Minhee berpendapat.

“Yeah, memang baik”, balasku sambil duduk di tepi ranjangnya yang dilapisi seprai warna cokelat muda. “Dan handsome juga”.

Minhee hanya tertawa kecil mendengar kalimat terakhirku. “Aku lapar. Bisa kita ke dapur sekarang?”.
Aku berdiri dan mengangguk kepada Minhee yang menaruh tabletnya di atas ranjang. “Yah, ayo kita buat sesuatu seperti yang Appa buat”.

Bakat masak memasak Appa diwariskan ke adikku, bukan aku. Meskipun aku juga bisa memasak tapi tidak sehebat adikku yang introvert dan kutubuku itu. Yah, bisa dibilang Minhee adalah fotokopi dari Appa. Mulai dari golongan darah nya yang sama-sama A, sama-sama berbakat memasak, sama sama memiliki lesung pipi yang dalam, alis yang tebal, dan sama sama kutubuku, dan berbagai macam sifat lainnya baik secara terlihat maupun tidak terlihat.

“Bagaimana dengan ini?”, kata Minhee sambil memegang sebuah wadah berisi udang beku dengan es batu di sekitarnya.

“Terserahmu”, kataku. “Berikan aku sesuatu yang enak, maka aku akan memakannya”.

Ia menghela nafas dan berjalan menuju lemari makanan, untuk mengambil beberapa bahan lainnya. Aku naik ke lantai dua, tepatnya menuju kamarku, untuk berganti baju. Hari ini melelahkan, sekaligus menyenangkan. Aku yakin semuanya berjalan seimbang, karena dominan pada suatu hal itu tidak baik, begitu pula sebaliknya.

Seperti hidupku sekarang.

~***~

Minhee POV

Musim gugur telah datang.

Ini adalah musim favoritku dari keempat musim lainnya. Tiap hari aku bisa melihat daun daun berwarna kecoklatan itu gugur dari tempat asal dia hidup, bertaburan di jalan raya. Setiap tahun aku selalu mengabadikan momen momen musim gugur dan menempelkan foto fotonya di sebuah buku. Entah kenapa aku lebih terpesona pada musim gugur padahal musim semi juga tak kalah indahnya.

Sore ini aku berniat untuk berjalan jalan ke luar rumah. Mengirup udara di luar rumah dengan penuh perasaan pada hari pertama musim gugur adalah kebiasaanku entah sejak kapan. Aku pun meninggalkan kamarku dan berjalan melintasi ruang tengah dan ruang tamu.

Aku berjalan di tepi jalan raya kompleks perumahan yang cukup lebar ini. Udara cukup dingin. Aku makin merapatkan jaket tebal biru muda ku dan tersenyum. Sehelai daun kering mendarat di rambutku dan aku menjatuhkannya ke jalan. Banyak daun daun lain yang bernasib sama seperti yang tadi aku jatuhkan.

Kaki ini pun membawa ku melangkah ke arah sebuah taman yang terletak sekitar lima ratus meter dari rumahku. Taman itu kecil, sederhana, tapi tertata rapi. Ada air mancur kecil di tengah tengah taman itu. Bangku bangku taman yang terbuat dari kayu pun tersusun rapi. Lampu taman yang kecil tapi bisa memberikan sinar yang sangat terang pun terletak di setiap sudut taman dan di sebelah bangku taman. Pepohonan yang rindang dan deretan rumput yang dibentuk dengan rapi mengelilingi taman ini, membuat suasananya asri. Beberapa pedagang makanan ringan juga ada disini, tapi tentunya tidak mengotori lingkungan taman. Aku senang dengan keadaan taman yang  seperti ini.

Cukup banyak orang yang menghabiskan sore harinya disini. Beberapa orangtua terlihat sedang membawa anaknya jalan-jalan di sini. Aku menelan ludah dan mengalihkan pandangan. Sampai kapan aku harus merasa seperti ini? Merasa sesak saat melihat orangtua dengan anaknya yang bahagia, bisa bercanda bersama dan membandingkan dengan keluargaku?

Walaupun kedua orangtuaku tidak berperang hebat, aku sebagai anak tetap merasa sedih. Kecewa.
Aku melupakan topik itu dan duduk di sebuah kursi taman. Dengan memandangi taman ini saja sudah membuat pikiran ku segar kembali. Angin bertiup sepoi sepoi, membelai rambut cokelatku dan membuatnya sedikit berantakan.

Tiba tiba aku merasa kakiku disentuh oleh sesuatu yang…berbulu? Dan juga hangat?

“KYAA !”.

Aku hampir melompat saat mengetahui seekor anak kucing sedang bersandar menempel di kakiku. Aku pun turun dari kursi dan berjongkok di sebelah kucing itu. Warna kucing itu abu-abu dengan sedikit belang hitam di ekornya. Ukurannya yang mini membuatku gemas. Aku mengelus kepalanya yang lembut dan ia mengeong.

“Kau lapar?”, tanyaku. Padahal, jelas jelas dia tidak akan berkata iya atau tidak. Anak kucing itu mengeong.

“Itu ku anggap sebagai ya”, tambahku. Aku pun menggendongnya dan berjalan menuju penjual sosis di dekat sebuah pohon. Mungkin ini bisa membantu, pikirku.

“Ahjussi, sosisnya dua”, kataku pada si penjual. Ia pun menaruh dua tusuk sosis di atas pan dan membolak balikannya. Sementara itu aku sibuk mengelus elus bulu kucing yang lembut itu. Ia malah mengeong dan aku sedikit tersenyum. Aku berpikir, apa dia memiliki majikan? Kalau iya, jahat sekali majikannya, membiarkannya lepas dan tersesat disini.

“Gomawo”, kataku sambil menerima sebuah plastik dari ahjussi tersebut. Aku pun berjalan ke sebuah bangku taman terdekat dan duduk disana, bersama kucing tadi. Ia duduk tenang, hanya sesekali mengeong tapi tidak berkeliaran.

“Ini”, ujarku sambil memberikan sebuah sosis kepadanya. Aku memegang tusuknya dan menyodorkannya ke kucing tanpa nama itu. Ia merebutnya dan segera memakannya dengan lahap. Aku sedikit tertawa melihat tingkahnya yang rakus itu.

“Aigo~ Kau tidak pernah diberi makan oleh majikanmu ya?”, tanyaku yang membuatnya mengeong. Setelah beberapa menit, sebuah sosis habis di lahapnya sendiri. Aku yang sedang memakan sosis pun mendengarnya mengeong, sepertinya artinya sama dengan ‘aku lapar, aku butuh makan lagi’.

“Baiklah, baiklah”, ujarku sambil menyerahkan sosis yang baru ku makan setengah itu padanya. Kucing abu abu itu segera memakannya, dan aku hanya memandangnya sambil tersenyum. Kasihan, pasti dai sangat lapar.

“Cloud !”, pekik seseorang sambil berlutut di samping bangku taman dan mengelus elus kucing abu-abu itu. 

“Untung saja aku menemukanmu”. Namja itu pun melihat ke arah ku dan aku merasa familiar dengan wajahnya.

Dia kan yang di toko buku waktu itu….

“KAU?!?”, kata kami bersamaan. Aku segera berdiri dan berjalan menjauh. Tapi kucing itu…Aku melirik lagi ke arah kucing yang sedang mengeong ngeong di atas tangan namja itu.

“A..aku..aku..hm..terimakasih sudah menemukan kucing ku”, ujar namja itu. Ia tersenyum ke arahku dan aku balas tersenyum. “Terimakasih juga karna sudah memberinya makan. Darimana kau tahu kalau sosis makanan favoritnya?”.

Eh?”, kataku tidak percaya. “Yang benar? Kalau begitu….”. Aku tidak melanjutkan kata-kata.

“Cho Kyuhyun”, ujarnya sambil mengulurkan tangan padaku. Aku menatapnya sebentar dan menjabat tangannya.

“Jung Minhee”, balasku. “Senang berkenalan denganmu”. Ia hanya tersenyum singkat ke arahku.

“Ayo kita berjalan-jalan dulu di sekitar sini”, ajaknya. Aku pun berjalan ke sebelahnya dan kucing itu terus mengeong dan melihat ke arahku.

“Sepertinya dia menyukaimu”, kata Kyuhyun dan memberikan kucing itu kepadaku. Aku menerimanya dan mengelus elus punggungnya yang ditutupi oleh bulu halus berwarna abu-abu. Memang ini bukan kucing mahal, tapi terawat.

“Siapa nama kucing ini?”.

“Cloud”, jawab Kyuhyun singkat. “Seperti namanya, kucing ini berwarna seperti awan yang akan menandakan hujan”.

“Aneh”, kataku. “Apa tidak ada yang lebih kreatif…”.

“Huh”, ujarnya seperti mengejek. “Kayak kau kreatif saja”.

Aku pun terdiam dan memandangi rumah rumah yang berjejer rapi dengan berbagai macam warna. Umumnya rumah disini dilindungi pagar besi, tapi ada juga yang hanya dipagari dengan rumput rumput dan bunga. Aah, aku suka tinggal disini…

“Apa kau tinggal di sini?”, kataku membuka pembicaraan.

“Umm…ya. Aku baru pindah ke sini kemarin”, jawabnya. Aku menatap wajahnya yang menyiratkan kesan dingin itu. Sepertinya dia masih menyebalkan seperti beberapa minggu yang lalu…

“Aku juga tinggal disini”, ujarku pelan.

“Benarkah?”. Aku mengangguk sambil sedikit tersenyum.

“Perumahan ini benar benar asri dan indah”, ujarnya memberi pendapat. “Sebelum pindah ke sini aku tinggal di perumahan yang warga nya tidak mau menjaga kebersihan. Ya..kau tahu sendiri lah, bagaimana keadaannya”.

“Oh ya?”, kataku. “Disini peraturan mengenai kebersihan memang benar benar di jalankan. Yang tidak menjalankan dikenai denda. Tapi beginilah hasilnya, setimpal”.

Ia mengangguk angguk mengerti. Kami masih terus berjalan. Sekarang kami berbelok ke kiri, ke arah rumahku.

“Minhee awas !!”, pekik Kyuhyun sambil melingkarkan tangannya di punggungku dan menarikku ke arahnya, sampai kami berdua hampir terjatuh. Aku tersadar dari lamunanku dan langsung menutup telinga saat bunyi klakson berdesibel tinggi itu menusuk telingaku. Mobil itu berjalan berlawanan arah dengan kami, dan aku mencibir ke arah mobil hitam itu saat ia menjauh.

“Hampir….”, ujarku. Aku menatap tangannya yang masih menyentuh lenganku, dan dengan cepat ia melepaskannya. “Gomawo atas……pertolonganmu”.

“Cheonman. Lain kali jangan melamun sambil berjalan. Atau jangan berjalan sambil melamun”, katanya.

“Iya iya”,  kataku sedikit sebal.

“Kau mau kemana?”, tanyanya.

“Aku…tentu saja pulang ke rumah”, ujarku.

“Ternyata rumah kita searah”, tambahnya. Aku langsung meliriknya, dan dia balas melirikku.

“Sepertinya akan menjadi hal yang menyenangkan sekaligus…bencana”, ujarku dengan kata terakhir yang sedikit dipelankan.

Kyuhyun mengangkat bahu, tidak mau ambil pusing dengan perkataanku. “Yah, terserahmu lah”.
Aku tersenyum lebar sambil mengelus elus punggung Cloud. “Kucing yang lucu”, ujarku. Cloud mengeong seolah setuju dengan perkataanku.

“Aku menemukannya di pinggir jalan waktu itu”, terang Kyuhyun. “Di dalam sebuah kardus. Karena kasihan aku pelihara saja dia”.

“Tapi meskipun kucing jalanan, bulunya halus”, ujarku.

“Siapa dulu yang merawatnya”, timpalnya yang membuatku memajukan bibir.

“Kau masih bersekolah?”, tanyaku. It looks like a stupid question.

“Pabo, tentu saja iya”, jawabnya dengan sedikit penekanan. “Kau sendiri? Apa kau sudah bersekolah? 
Dengan tinggi mu yang seperti anak TK ini…”

“Yak !! Jangan singgung-singgung tinggi badanku !”, kataku. “Sekarang aku kelas 11, puas?”.

“Sama”, ujarnya singkat. “Aku baru mulai sekolah minggu depan. Yah….derita anak pindahan..”.

“Dimana sekolah baru mu?”.

“Aku lupa namanya, tapi sekolah itu terletak di depan sebuah bank besar”, katanya.

“Aku juga bersekolah disana !”, ujarku. “Gangnam High School. Ingat itu”.

“Aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar mengingatnya”, katanya dengan gaya santai yang membuatku sedikit kesal. “Aku sudah bosan terus terusan pindah sekolah”.

Aku mengangguk angguk dan berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua bergaya minimalis, dengan 
warna merah, abu abu, biru, dan hitam yang mendominasinya. “Ini rumahku”, ujarku. “Rumahmu dimana?”.

“Ini rumahmu?”, ulangnya. Ia pun menoleh ke seberang rumahku, tepatnya ke rumah yang berada di sebelah rumah seberang rumahku. Sepertinya itu rumahnya. “Mengerikan..”.

“Justru harusnya aku yang bilang begitu !”, ujarku. “Ini kucingmu”. Aku menyerahkan Cloud ke tangan Kyuhyun dan kucing itu mengeong.

“Aneh, dia tidak mau berpisah denganmu”, katanya.

“Apakah aku begitu menarik?”, ujarku langsung, tanpa berpikir dulu.
Kyuhyun menampakkan ekspresi aneh di wajahnya. “Tidak akan pernah”. 3 kata itu membuatku refleks memukul lengannya, namun ia hanya tertawa kecil.

“Huh, yasudah”, ujarku. “Sampai jumpa lagi Kyu”.

“Sampai jumpa juga Minhee”, katanya. Kyuhyun tersenyum ke arahku dan melambaikan tangan, sementara aku, yang berada di balik pagar balas tersenyum. Perlahan ia menjauh, dan masuk ke sebuah rumah yang luas dan asri di seberang rumah di sebelahku.

~***~

Aku membuka lokerku yang kecil dan terbuat dari besi itu dengan malas, kemudian mengambil sebuah buku ekonomi dan matematika yang cukup berat. Pelajaran hari ini sangat membosankan. Sepanjang pelajaran tadi aku terus menguap hingga tertidur pada 20 menit menjelang istirahat. Sekarang, waktu istirahat makan siang selama 1 jam akan aku manfaatkan dengan baik. Perpustakaan adalah tempat yang tepat untukku.
Setelah mengambil buku aku menutup pintu loker. Terkejut rasanya saat melihat seseorang tengah berdiri di depanku, hingga aku nyaris menjatuhkan tumpukan bukuku ke lantai.

“K..kyuhyun…”, kataku terkejut.Aish, kenapa aku jadi terkejut begini? Kan cuma Kyuhyun~

“Oh, hai”, jawabnya.

“Masih kaku seperti sebelumnya”, ujarku sambil mengunci pintu loker dingin itu. Aku pun bersandar di loker sambil memperhatikannya.

Ia membuka lokernya tanpa menghiraukanku. Kemudian setumpuk amplop pun tumpah ke koridor tempat kami berdiri sekarang, dan aku menganga. Bukan hanya amplop, melainkan cokelat juga termasuk.

“Kau bisa membuat para yeoja itu berhenti mengirimi benda benda seperti inI?”, ujarnya. Aku memajukan bibir dan mengangkat bahu.

“Entahlah”, kataku malas. Ia memasukkan kembali semua benda benda itu tanpa melihatnya sedikitpun. 

“Memacari salah satu diantara mereka?”.

“Huh, apa gunanya”, ujar Kyuhyun. Ia mengambil buku Fisika dan beberapa buku tulis kemudian melirikku dari atas ke bawah.

“Kenapa kau masih bertahan—“

“Kyuhyun sunbae”, ujar seorang yeoja yang tidak ku kenal. Yeoja itu melirikku sekilas, kemudian memberikan sebuah amplop kepada Kyuhyun.

“Apa ini?”, tanya Kyuhyun.

“Sunbae tidak akan mengetahuinya kalau tidak membukanya”, kata yeoja itu sambil tersenyum. “Gomawo sunbae, aku rasa hanya itu saja”.

“Ne, cheonman”, ujar Kyuhyun sambil memasang ekspresi datar. Yeoja itu memandangku dengan tatapan sinis sejenak dan kemudian ia berlalu. Aku mencibir saat dia berbalik.

“Apa-apaan dia”, kataku. “Menganggapku…...saingannya?”.

“Mungkin”, kata Kyuhyun. Ia memasukkan amplop tadi ke lokernya tanpa membacanya dahulu. Tiba tiba gerakannya terhenti dan ia menatapku seperti baru saja memenangkan undian 10 juta won. Aku balas menatapnya bingung.

“Aku tahu !!”, serunya.

“Tahu apa?”.

“Sekarang kau adalah yeojachingu ku”.

“MWO???!”.

To Be Continued

RCL appreciated. Thank youu~~~~

2 komentar:

  1. Ceritanya makin seru saeng... :)
    aku jg bentar lagi UN soalnya udh kls 12.. Hhe..
    Aku ngebayangin kucingnya lucu deh...
    Kyuhyun ma Minhee jadian aja tuh :D

    BalasHapus
  2. makasih eonni~~ aku kira bakal ngebosenin ^^
    Samaan dong, aku jg lg sibuk bgt nih sama sekolah :(
    Hm...kalo ttg Kyu sama Minhee liat aja nanti yah ;)

    BalasHapus