Eunji POV
"Gomawo untuk hari ini”, ujarku
sambil tersenyum. “Sampai ketemu—“
“Tunggu, Eunji”, potongnya. “Apa
kau merasa senang?”.
“Tentu saja aku merasa senang”,
jawabku.
“Maksudku, apa kau merasa senang
menghabiskan waktu denganku?”.
“Pastinya”, kataku mantap.
“Kenapa?”.
“Apa kau ingin terus seperti
ini?”.
“Kalau iya aku juga sama
senangnya denganmu. Kalau tidak…”“Kau mau bicara apa sih?”,
ujarku, tidak tahu kemana arah pembicaraannya.
Ia menghela nafas habis-habis dan
menatapku tepat di bola mataku. Aku merasa gugup tapi tidak mampu juga untuk
melihat ke arah lain. Kemudian ia tersenyum sambil meraih salah satu tanganku
dan menggenggamnya.
“Eunji-ah, saranghae”
“A..a..apa?”.
“Eunji-ah, saranghae. Apa masih
kurang jelas?”.
“M..maksud..mu?”.
“Aku mencintaimu”.
Jiwaku seperti melayang dari
ragaku, mendengar kata-kata tadi. Aku meragukan kalau kata kata tadi benar
benar keluar dari mulutnya. Aku mencintaimu…kata kata itu sudah pernah
diucapkan beberapa namja kepadaku tapi…baru kali ini aku merasa akan melayang.
“Kau sungguh-sungguh?”. Ia
mengangguk pelan.
“Would you be my girlfriend?”,
katanya. Aku hampir melongo mendengar perkataannya. Dia serius?
“Kau.. serius?”.
“Sekalipun aku mabuk aku tidak
akan mengucapkan kalimat itu sembarangan”. Aku tersenyum dan sedikit menunduk,
memandang jalan di bawah kakiku.
“Aku menerimanya jika kau
mengucapkan ‘Jung Eunji, saranghae’ sebanyak seratus kali”, ujarku dengan
ekspresi serius.
“Baiklah, itu hanya hal kecil.”,
katanya santai. “Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji
saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae.
Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji saranghae. Jung Eunji
saranghae. Jung Eunji…”.
“Stop-stop”, kataku
menghentikannya. “Kau melakukannnya atau tidak pun aku tetap menerimamu. Jangan
ambil serius perkataanku tadi. Aku hanya bercanda, untuk membuktikan
kesungguhanmu”.
Ia tertawa kecil bersamaku.
Donghae pun meraih punggungku dengan tangan nya dan mendekatkannya ke dirinya
sendiri. Ia memelukku. Erat.
“Saranghae”, ujarnya sambil
melepaskan pelukan kami. Aku tersenyum dan sedikit tersipu. Aku punya seorang
namjachingu !
“Me too”, balasku.
“Masuklah, Eunji. Sudah hampir
jam sembilan. Orangtuamu pasti cemas”, usul Donghae.
“M..mereka sedang pergi keluar
kota”, balasku sedikit tergagap. “Terima
kasih banyak untuk hari ini, Donghae”.
“Sama-sama”, ujarnya. “Aku mau
memastikan sekali lagi. Kau benar benar merasa senang?”. Aku mengangguk.
“Kau serius dan sungguh sungguh
memaknainya?”.
“Jangan meniru kata-kataku !”,
ujarku sambil sedikit tertawa. “Tentu saja. Aku heran kenapa kau bisa mempunyai
perasaan yang sama denganku”.
Ia tersenyum dan mengacak acak
rambutku. “Dasar, Jung Eunji”, katanya. “By the way sekarang sudah malam.
Masuklah ke rumahmu”.
“Kau juga, pulanglah. Jangan
sampai kau terlalu malam saat tiba di rumah”, ujarku.
“Baiklah, Tuan Putri”, kata
Donghae dan aku tersenyum kecil. “Sampai jumpa”.
“Ne. Sampai jumpa. Hati-hati di
jalan ! Aku tidak mau kau terluka”, kataku sambil melambaikan tangan.
Donghae
pun tersenyum dan makin lama siluetnya makin menghilang ditelan jalan raya yang
ramai.
Aku masuk ke dalam rumah dengan
senyum yang masih mengembang di wajahku. Begini ya rasanya bahagia kalau cinta
kita terbalas? Aku baru tahu kali ini.
Benar, aku baru tahu.
Aku memandang ke seluruh penjuru
rumahku yang luas dan sepi itu. Ah, Appa belum pulang. Padahal sekarang hari
Sabtu. Biasanya Appa pulang sekitar jam 7 dan langsung memasakkan makanan untuk
kami. Tapi sekarang beliau belum pulang. Aku pun berjalan menuju kamar adikku
di lantai satu dan membuka pintunya.
“Minhee ! Kau tau apa yang—“
“Aku sudah lihat tadi”, ujarnya,
yang membuatku sedikit pucat.
“Melihat apa…?”.
“Melihat kau dengan Donghae di
depan rumah”, katanya santai, sambil menekan-nekan layar tablet di hadapannya,
entah apa yang dia lihat.
“K..kau melihatnya?”, tanya ku
takut-takut. Minhee hanya mengangguk.
Aku menghembuskan nafas berat.
“Jangan bilang ke siapa-siapa. Biarkan orang tahu sendiri”.
“Namjachingu mu itu kelihatannya
baik”, kata Minhee berpendapat.
“Yeah, memang baik”, balasku
sambil duduk di tepi ranjangnya yang dilapisi seprai warna cokelat muda. “Dan
handsome juga”.
Minhee hanya tertawa kecil
mendengar kalimat terakhirku. “Aku lapar. Bisa kita ke dapur sekarang?”.
Aku berdiri dan mengangguk kepada
Minhee yang menaruh tabletnya di atas ranjang. “Yah, ayo kita buat sesuatu
seperti yang Appa buat”.
Bakat masak memasak Appa
diwariskan ke adikku, bukan aku. Meskipun aku juga bisa memasak tapi tidak
sehebat adikku yang introvert dan kutubuku itu. Yah, bisa dibilang Minhee
adalah fotokopi dari Appa. Mulai dari golongan darah nya yang sama-sama A,
sama-sama berbakat memasak, sama sama memiliki lesung pipi yang dalam, alis
yang tebal, dan sama sama kutubuku, dan berbagai macam sifat lainnya baik
secara terlihat maupun tidak terlihat.
“Bagaimana dengan ini?”, kata
Minhee sambil memegang sebuah wadah berisi udang beku dengan es batu di
sekitarnya.
“Terserahmu”, kataku. “Berikan
aku sesuatu yang enak, maka aku akan memakannya”.
Ia menghela nafas dan berjalan
menuju lemari makanan, untuk mengambil beberapa bahan lainnya. Aku naik ke
lantai dua, tepatnya menuju kamarku, untuk berganti baju. Hari ini melelahkan,
sekaligus menyenangkan. Aku yakin semuanya berjalan seimbang, karena dominan
pada suatu hal itu tidak baik, begitu pula sebaliknya.
Seperti hidupku sekarang.
~***~
Minhee POV
Musim gugur telah datang.
Ini adalah musim favoritku dari
keempat musim lainnya. Tiap hari aku bisa melihat daun daun berwarna kecoklatan
itu gugur dari tempat asal dia hidup, bertaburan di jalan raya. Setiap tahun
aku selalu mengabadikan momen momen musim gugur dan menempelkan foto fotonya di
sebuah buku. Entah kenapa aku lebih terpesona pada musim gugur padahal musim
semi juga tak kalah indahnya.
Sore ini aku berniat untuk
berjalan jalan ke luar rumah. Mengirup udara di luar rumah dengan penuh
perasaan pada hari pertama musim gugur adalah kebiasaanku entah sejak kapan.
Aku pun meninggalkan kamarku dan berjalan melintasi ruang tengah dan ruang
tamu.
Aku berjalan di tepi jalan raya
kompleks perumahan yang cukup lebar ini. Udara cukup dingin. Aku makin
merapatkan jaket tebal biru muda ku dan tersenyum. Sehelai daun kering mendarat
di rambutku dan aku menjatuhkannya ke jalan. Banyak daun daun lain yang
bernasib sama seperti yang tadi aku jatuhkan.
Kaki ini pun membawa ku melangkah
ke arah sebuah taman yang terletak sekitar lima ratus meter dari rumahku. Taman
itu kecil, sederhana, tapi tertata rapi. Ada air mancur kecil di tengah tengah
taman itu. Bangku bangku taman yang terbuat dari kayu pun tersusun rapi. Lampu
taman yang kecil tapi bisa memberikan sinar yang sangat terang pun terletak di
setiap sudut taman dan di sebelah bangku taman. Pepohonan yang rindang dan deretan
rumput yang dibentuk dengan rapi mengelilingi taman ini, membuat suasananya
asri. Beberapa pedagang makanan ringan juga ada disini, tapi tentunya tidak
mengotori lingkungan taman. Aku senang dengan keadaan taman yang seperti ini.
Cukup banyak orang yang
menghabiskan sore harinya disini. Beberapa orangtua terlihat sedang membawa
anaknya jalan-jalan di sini. Aku menelan ludah dan mengalihkan pandangan.
Sampai kapan aku harus merasa seperti ini? Merasa sesak saat melihat orangtua
dengan anaknya yang bahagia, bisa bercanda bersama dan membandingkan dengan
keluargaku?
Walaupun kedua orangtuaku tidak
berperang hebat, aku sebagai anak tetap merasa sedih. Kecewa.
Aku melupakan topik itu dan duduk
di sebuah kursi taman. Dengan memandangi taman ini saja sudah membuat pikiran
ku segar kembali. Angin bertiup sepoi sepoi, membelai rambut cokelatku dan
membuatnya sedikit berantakan.
Tiba tiba aku merasa kakiku
disentuh oleh sesuatu yang…berbulu? Dan juga hangat?
“KYAA !”.
Aku hampir melompat saat
mengetahui seekor anak kucing sedang bersandar menempel di kakiku. Aku pun
turun dari kursi dan berjongkok di sebelah kucing itu. Warna kucing itu abu-abu
dengan sedikit belang hitam di ekornya. Ukurannya yang mini membuatku gemas.
Aku mengelus kepalanya yang lembut dan ia mengeong.
“Kau lapar?”, tanyaku. Padahal,
jelas jelas dia tidak akan berkata iya atau tidak. Anak kucing itu mengeong.
“Itu ku anggap sebagai ya”,
tambahku. Aku pun menggendongnya dan berjalan menuju penjual sosis di dekat
sebuah pohon. Mungkin ini bisa membantu, pikirku.
“Ahjussi, sosisnya dua”, kataku
pada si penjual. Ia pun menaruh dua tusuk sosis di atas pan dan membolak
balikannya. Sementara itu aku sibuk mengelus elus bulu kucing yang lembut itu.
Ia malah mengeong dan aku sedikit tersenyum. Aku berpikir, apa dia memiliki
majikan? Kalau iya, jahat sekali majikannya, membiarkannya lepas dan tersesat
disini.
“Gomawo”, kataku sambil menerima
sebuah plastik dari ahjussi tersebut. Aku pun berjalan ke sebuah bangku taman
terdekat dan duduk disana, bersama kucing tadi. Ia duduk tenang, hanya sesekali
mengeong tapi tidak berkeliaran.
“Ini”, ujarku sambil memberikan
sebuah sosis kepadanya. Aku memegang tusuknya dan menyodorkannya ke kucing
tanpa nama itu. Ia merebutnya dan segera memakannya dengan lahap. Aku sedikit
tertawa melihat tingkahnya yang rakus itu.
“Aigo~ Kau tidak pernah diberi
makan oleh majikanmu ya?”, tanyaku yang membuatnya mengeong. Setelah beberapa
menit, sebuah sosis habis di lahapnya sendiri. Aku yang sedang memakan sosis
pun mendengarnya mengeong, sepertinya artinya sama dengan ‘aku lapar, aku butuh
makan lagi’.
“Baiklah, baiklah”, ujarku sambil
menyerahkan sosis yang baru ku makan setengah itu padanya. Kucing abu abu itu
segera memakannya, dan aku hanya memandangnya sambil tersenyum. Kasihan, pasti
dai sangat lapar.
“Cloud !”, pekik seseorang sambil
berlutut di samping bangku taman dan mengelus elus kucing abu-abu itu.
“Untung
saja aku menemukanmu”. Namja itu pun melihat ke arah ku dan aku merasa familiar
dengan wajahnya.
Dia kan yang di toko buku waktu
itu….
“KAU?!?”, kata kami bersamaan.
Aku segera berdiri dan berjalan menjauh. Tapi kucing itu…Aku melirik lagi ke
arah kucing yang sedang mengeong ngeong di atas tangan namja itu.
“A..aku..aku..hm..terimakasih
sudah menemukan kucing ku”, ujar namja itu. Ia tersenyum ke arahku dan aku
balas tersenyum. “Terimakasih juga karna sudah memberinya makan. Darimana kau
tahu kalau sosis makanan favoritnya?”.
Eh?”, kataku tidak percaya.
“Yang benar? Kalau begitu….”. Aku tidak melanjutkan kata-kata.
“Cho Kyuhyun”, ujarnya sambil
mengulurkan tangan padaku. Aku menatapnya sebentar dan menjabat tangannya.
“Jung Minhee”, balasku. “Senang
berkenalan denganmu”. Ia hanya tersenyum singkat ke arahku.
“Ayo kita berjalan-jalan dulu di
sekitar sini”, ajaknya. Aku pun berjalan ke sebelahnya dan kucing itu terus
mengeong dan melihat ke arahku.
“Sepertinya dia menyukaimu”, kata
Kyuhyun dan memberikan kucing itu kepadaku. Aku menerimanya dan mengelus elus
punggungnya yang ditutupi oleh bulu halus berwarna abu-abu. Memang ini bukan
kucing mahal, tapi terawat.
“Siapa nama kucing ini?”.
“Cloud”, jawab Kyuhyun singkat.
“Seperti namanya, kucing ini berwarna seperti awan yang akan menandakan hujan”.
“Aneh”, kataku. “Apa tidak ada
yang lebih kreatif…”.
“Huh”, ujarnya seperti mengejek.
“Kayak kau kreatif saja”.
Aku pun terdiam dan memandangi
rumah rumah yang berjejer rapi dengan berbagai macam warna. Umumnya rumah
disini dilindungi pagar besi, tapi ada juga yang hanya dipagari dengan rumput
rumput dan bunga. Aah, aku suka tinggal disini…
“Apa kau tinggal di sini?”,
kataku membuka pembicaraan.
“Umm…ya. Aku baru pindah ke sini
kemarin”, jawabnya. Aku menatap wajahnya yang menyiratkan kesan dingin itu.
Sepertinya dia masih menyebalkan seperti beberapa minggu yang lalu…
“Aku juga tinggal disini”, ujarku
pelan.
“Benarkah?”. Aku mengangguk
sambil sedikit tersenyum.
“Perumahan ini benar benar asri
dan indah”, ujarnya memberi pendapat. “Sebelum pindah ke sini aku tinggal di
perumahan yang warga nya tidak mau menjaga kebersihan. Ya..kau tahu sendiri
lah, bagaimana keadaannya”.
“Oh ya?”, kataku. “Disini
peraturan mengenai kebersihan memang benar benar di jalankan. Yang tidak
menjalankan dikenai denda. Tapi beginilah hasilnya, setimpal”.
Ia mengangguk angguk mengerti.
Kami masih terus berjalan. Sekarang kami berbelok ke kiri, ke arah rumahku.
“Minhee awas !!”, pekik Kyuhyun
sambil melingkarkan tangannya di punggungku dan menarikku ke arahnya, sampai
kami berdua hampir terjatuh. Aku tersadar dari lamunanku dan langsung menutup
telinga saat bunyi klakson berdesibel tinggi itu menusuk telingaku. Mobil itu
berjalan berlawanan arah dengan kami, dan aku mencibir ke arah mobil hitam itu
saat ia menjauh.
“Hampir….”, ujarku. Aku menatap
tangannya yang masih menyentuh lenganku, dan dengan cepat ia melepaskannya.
“Gomawo atas……pertolonganmu”.
“Cheonman. Lain kali jangan
melamun sambil berjalan. Atau jangan berjalan sambil melamun”, katanya.
“Iya iya”, kataku sedikit sebal.
“Kau mau kemana?”, tanyanya.
“Aku…tentu saja pulang ke rumah”,
ujarku.
“Ternyata rumah kita searah”,
tambahnya. Aku langsung meliriknya, dan dia balas melirikku.
“Sepertinya akan menjadi hal yang
menyenangkan sekaligus…bencana”, ujarku dengan kata terakhir yang sedikit
dipelankan.
Kyuhyun mengangkat bahu, tidak
mau ambil pusing dengan perkataanku. “Yah, terserahmu lah”.
Aku tersenyum lebar sambil
mengelus elus punggung Cloud. “Kucing yang lucu”, ujarku. Cloud mengeong seolah
setuju dengan perkataanku.
“Aku menemukannya di pinggir
jalan waktu itu”, terang Kyuhyun. “Di dalam sebuah kardus. Karena kasihan aku
pelihara saja dia”.
“Tapi meskipun kucing jalanan,
bulunya halus”, ujarku.
“Siapa dulu yang merawatnya”,
timpalnya yang membuatku memajukan bibir.
“Kau masih bersekolah?”, tanyaku.
It looks like a stupid question.
“Pabo, tentu saja iya”, jawabnya
dengan sedikit penekanan. “Kau sendiri? Apa kau sudah bersekolah?
Dengan tinggi
mu yang seperti anak TK ini…”
“Yak !! Jangan singgung-singgung
tinggi badanku !”, kataku. “Sekarang aku kelas 11, puas?”.
“Sama”, ujarnya singkat. “Aku
baru mulai sekolah minggu depan. Yah….derita anak pindahan..”.
“Dimana sekolah baru mu?”.
“Aku lupa namanya, tapi sekolah
itu terletak di depan sebuah bank besar”, katanya.
“Aku juga bersekolah disana !”,
ujarku. “Gangnam High School. Ingat itu”.
“Aku tidak punya banyak waktu
untuk sekedar mengingatnya”, katanya dengan gaya santai yang membuatku sedikit
kesal. “Aku sudah bosan terus terusan pindah sekolah”.
Aku mengangguk angguk dan
berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua bergaya minimalis, dengan
warna
merah, abu abu, biru, dan hitam yang mendominasinya. “Ini rumahku”, ujarku.
“Rumahmu dimana?”.
“Ini rumahmu?”, ulangnya. Ia pun
menoleh ke seberang rumahku, tepatnya ke rumah yang berada di sebelah rumah
seberang rumahku. Sepertinya itu rumahnya. “Mengerikan..”.
“Justru harusnya aku yang bilang
begitu !”, ujarku. “Ini kucingmu”. Aku menyerahkan Cloud ke tangan Kyuhyun dan
kucing itu mengeong.
“Aneh, dia tidak mau berpisah
denganmu”, katanya.
“Apakah aku begitu menarik?”,
ujarku langsung, tanpa berpikir dulu.
Kyuhyun menampakkan ekspresi aneh
di wajahnya. “Tidak akan pernah”. 3 kata itu membuatku refleks memukul
lengannya, namun ia hanya tertawa kecil.
“Huh, yasudah”, ujarku. “Sampai
jumpa lagi Kyu”.
“Sampai jumpa juga Minhee”,
katanya. Kyuhyun tersenyum ke arahku dan melambaikan tangan, sementara aku,
yang berada di balik pagar balas tersenyum. Perlahan ia menjauh, dan masuk ke
sebuah rumah yang luas dan asri di seberang rumah di sebelahku.
~***~
Aku membuka lokerku yang kecil
dan terbuat dari besi itu dengan malas, kemudian mengambil sebuah buku ekonomi
dan matematika yang cukup berat. Pelajaran hari ini sangat membosankan.
Sepanjang pelajaran tadi aku terus menguap hingga tertidur pada 20 menit
menjelang istirahat. Sekarang, waktu istirahat makan siang selama 1 jam akan
aku manfaatkan dengan baik. Perpustakaan adalah tempat yang tepat untukku.
Setelah mengambil buku aku
menutup pintu loker. Terkejut rasanya saat melihat seseorang tengah berdiri di
depanku, hingga aku nyaris menjatuhkan tumpukan bukuku ke lantai.
“K..kyuhyun…”, kataku terkejut.Aish, kenapa aku jadi terkejut begini? Kan cuma Kyuhyun~
“Oh, hai”, jawabnya.
“Masih kaku seperti sebelumnya”,
ujarku sambil mengunci pintu loker dingin itu. Aku pun bersandar di loker
sambil memperhatikannya.
Ia membuka lokernya tanpa
menghiraukanku. Kemudian setumpuk amplop pun tumpah ke koridor tempat kami
berdiri sekarang, dan aku menganga. Bukan hanya amplop, melainkan cokelat juga
termasuk.
“Kau bisa membuat para yeoja itu
berhenti mengirimi benda benda seperti inI?”, ujarnya. Aku memajukan bibir dan
mengangkat bahu.
“Entahlah”, kataku malas. Ia
memasukkan kembali semua benda benda itu tanpa melihatnya sedikitpun.
“Memacari
salah satu diantara mereka?”.
“Huh, apa gunanya”, ujar Kyuhyun.
Ia mengambil buku Fisika dan beberapa buku tulis kemudian melirikku dari atas
ke bawah.
“Kenapa kau masih bertahan—“
“Kyuhyun sunbae”, ujar seorang
yeoja yang tidak ku kenal. Yeoja itu melirikku sekilas, kemudian memberikan
sebuah amplop kepada Kyuhyun.
“Apa ini?”, tanya Kyuhyun.
“Sunbae tidak akan mengetahuinya
kalau tidak membukanya”, kata yeoja itu sambil tersenyum. “Gomawo sunbae, aku
rasa hanya itu saja”.
“Ne, cheonman”, ujar Kyuhyun
sambil memasang ekspresi datar. Yeoja itu memandangku dengan tatapan sinis
sejenak dan kemudian ia berlalu. Aku mencibir saat dia berbalik.
“Apa-apaan dia”, kataku.
“Menganggapku…...saingannya?”.
“Mungkin”, kata Kyuhyun. Ia
memasukkan amplop tadi ke lokernya tanpa membacanya dahulu. Tiba tiba
gerakannya terhenti dan ia menatapku seperti baru saja memenangkan undian 10
juta won. Aku balas menatapnya bingung.
“Aku tahu !!”, serunya.
“Tahu apa?”.
“Sekarang kau adalah yeojachingu
ku”.
To Be Continued
RCL appreciated. Thank youu~~~~
Ceritanya makin seru saeng... :)
BalasHapusaku jg bentar lagi UN soalnya udh kls 12.. Hhe..
Aku ngebayangin kucingnya lucu deh...
Kyuhyun ma Minhee jadian aja tuh :D
makasih eonni~~ aku kira bakal ngebosenin ^^
BalasHapusSamaan dong, aku jg lg sibuk bgt nih sama sekolah :(
Hm...kalo ttg Kyu sama Minhee liat aja nanti yah ;)