Rabu, 29 Februari 2012

[Fanfiction] Take Me With You (part 3/?)



Eunji POV

Aku dan Donghae keluar dari toko buku sambil menjinjing sebuah kantung plastik besar dan berat. Buku buku referensi untuk tugasku memang banyak. Sedikit sedikit lama lama jadi bukit. Satu buku memang ringan tapi kalau ditumpuk banyak-banyak berat juga.

“Mau ku bantu?”, kata Donghae sambil berusaha mengambil kantung plastik itu dari tanganku.

“Ah..ani, tidak usah. Aku bisa sendiri”, jawabku. Padahal dalam hati aku ingin beban ini dibagi dua agar lebih ringan.

“Gwaenchana, aku saja yang membawa”. Ia pun mengambil beberapa buah buku yang cukup tebal dan memasukkannya dalam tasnya.

“Gomawo”, kataku singkat. Donghae hanya tersenyum padaku.

 “Jadi…bagaimana? Masih mendapat surat penggemar?”, kataku mengawali pembicaraan. Donghae tertawa kecil menanggapiku.

“Kenapa? Kau cemburu?”, ia membalasnya dengan pertanyaan. Aku menggeleng.

“Ani…aku hanya bertanya”.

“Ada sih…tapi tidak sebanyak sebelum kita punya hubungan”, jawabnya.

“Ah, apa mereka tidak tahu kalau kau tidak single lagi?”.

“Tahu. Tapi mereka pura-pura tidak tahu”.

“Aneh”, ujarku. Kabar tentang aku dan Donghae yang menjalin hubungan memang cepat sekali menyebar, entah dengan media apa. Bagaimana tidak, namja paling populer bersanding dengan yeoja yang tak kalah populer juga. Such a hot gossip, right?

Oke, oke. Tadi itu hanya bercanda. Aku tidak bermaksud menyombongkan diri tapi begitu lah kenyataannya.

“Apa kau juga masih mendapat surat dari ‘penggemar’ mu?”, tanya Donghae sambil memandang langit siang menjelang sore yang menaungi kami sekarang.

“Um…hanya beberapa”, kataku jujur.

“Baguslah kalau begitu”, ujarnya. “Aku takut kau akan…berpindah haluan?”.

“Yak ! Kau bicara apa !”, kataku sambil memukul pelan bahunya. Ia hanya tersenyum sambil mengacak acak rambutku.

“Bagaimana kabar adikmu?”, tanya Donghae.

“Minhee...sekarang dia punya teman baru”.

“Memangnya sebelumnya dia  tidak punya teman?”.

“Punya, tapi tidak terlalu banyak”, jawabku. “Sekarang dia jadi sering menghabiskan waktu dengan temannya itu. Kebetulan ia tinggal di seberang rumahku”.

“Oh ya? Namja? Atau yeoja?”.

“Namja. Namanya Kyuhyun. Kelihatannya dia baik. Mereka berdua cocok sekali. Sama sama kutu buku, sama sama suka main game pula”, terangku panjang.

“Apa mereka seumuran?”.

“Ah, iya. Mereka sama sama kelas 11 sekarang”.

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya dan kami terus berjalan. Kebetulan toko buku dan rumahku tidak terlalu  jauh jaraknya hingga kami memutuskan untuk jalan kaki saja.
Kami pun menyebrang jalan dan ia meraih tanganku untuk menggenggamnya. Aku melirik Donghae sejenak dan tersenyum malu. Ia ikut tersenyum dan kembali menatap jalanan, mencari celah celah dan waktu yang tepat untuk kami menyebrang.

“Ayo, sekarang”, ujar Donghae. Aku mengangguk dan berjalan bersamanya.

Dari sudut mataku, aku melihat sepeda motor yang jaraknya sangat dekat denganku, hampir menabrakku. Aku mati-matian ingin melakukan gerak refleks agar menjauh tapi tidak, otakku ingkar melakukannya. Aku pun membelalakkan mataku saat sepeda motor itu….

BRAK

“Eunji !”

~***~

Minhee POV

“APA?”, ujarku terkejut saat Donghae oppa menelfon. “Oke, oke, aku akan segera ke sana. 15 menit lagi aku akan sampai”.

Aku begitu terkejut saat mendengar Eunji eonni tertabrak sepeda motor saat akan menyebrang. Ku hentikan bacaanku dan segera memakai baju yang pantas secepat kilat. Kemudian membuka pintu kamar dengan tergesa gesa dan segera keluar rumah, tak lupa mengunci pintunya. Dengan secepat yang ku bisa aku berlari menyusuri jalan keluar menuju jalan raya. Aku tidak boleh terlambat. Ini sangat sangat mengerikan hingga aku nyaris meneteskan air mataku.

Sampai di jalan raya aku segera menyetop taksi, dan memberitahukan rumah sakit tempat Eonni berada sekarang. Aku duduk dengan gelisah, ditambah pula jalanan sore yang macet membuat kegelisahanku membuncah. Aku ingin cepat sampai, doa ku dalam hati.

~***~

“Donghae oppa !”, kataku di ujung telfon. “Oppa dimana? Aku sudah di luar rumah sakit !”.

“Di depan ruang UGD”, jawab Donghae oppa. Aku berlari melewati jalan masuk rumah sakit yang luas dan tidak menghiraukan lelahnya kakiku. Aku harus sampai, segera. Meskipun aku tidak ingat dimana ruang UGD.

Setelah aku mencari cari ruang UGD, aku menemukannya dan mendapati Donghae oppa sedang berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Aku segera menghampirinya dan ia terkejut melihatku.

“Minhee”, ujarnya. “Akhirnya kau datang”.

“Mana eonni?”, tanyaku dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

“Masih di dalam”, jawab Donghae oppa sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Memangnya kenapa eonni bisa tertabrak? Apa Oppa tidak melihatnya?”, tanyaku lagi.

“Dia…”Donghae oppa terlihat lelah, ia menaruh kedua telapak tangannya di wajahnya dan menghela nafas berat. “Aku tidak tahu, Minhee, aku mohon jangan salahkan aku. Kami sedang menyebrang waktu itu, dan saat itu aku sedang melihat ke arah berlawanan. Saat ada sepeda motor dia tidak menghindar atau bagaimana, malah terdiam, dan aku..aku..aku tidak sempat…”

“Terdiam?”, kataku. “Aneh sekali. Bukankah dengan gerak refleks seharusnya eonni menghindar atau bagaimana…”.

“Itu yang aku tidak tahu”, kata Donghae oppa. “Minhee, apa kau mau memaafkanku atas keteledoranku?”.

“Aku…”, kataku lalu terdiam. “Aku tidak tahu oppa. Lebih baik oppa minta maaf saja pada Eunji eonni”.

“Baiklah—“

Pintu UGD pun terbuka dan kami berdua serentak melihat ke dalam. Dokter itu mempersilahkan kami masuk, dan kami pun masuk ke dalam ruangan berbau obat obatan campur darah itu.

Aku melihat Eunji eonni terbaring lemah disana, tak tersirat senyuman di wajahnya seperti yang biasa ia lakukan. Aku sedikit terisak dan mengenggam tangan eonni. Aku takut akan terjadi apa-apa. Aku takut Eonni tidak akan bertemu denganku lagi besok. Aku takut, aku cemas, aku mengkhawatirkan saudara ku satu satunya ini.

“Pasien ini mengalami luka cukup dalam di bagian kepalanya, namun tidak terlalu parah. Hanya perlu pemulihan dan waktu istirahat sekitar satu minggu lebih”, jelas dokter yang menangani Eunji eonni. Aku menghela nafas lega, karena Eunji eonni tidak menderita sesuatu yang lebih parah.

“Seminggu?”, kataku lagi.

“Ya, seminggu sampai dua minggu”, ujar dokter itu meyakinkan ku.

“Tapi dokter..”, Donghae oppa mulai berbicara. “Biasanya jika orang menyadari kalau dia akan di tabrak, dia akan refleks menghindar. Tapi Eunji…aneh sekali. Dia hanya diam di tempat..”.
Dokter itu sedikit terkejut dengan pernyataan Donghae oppa. Aku sendiri menatap keduanya bingung.

“Benarkah?”. Donghae oppa mengangguk.

“Coba saja datangi bagian neurologi, mungkin kalian akan mendapat penjelasan yang lebih lanjut”, kata Dokter itu yang langsung membuatku bergidik ngeri. “Saya tinggal dulu”.
Pintu pun tertutup dan hampa langsung menyelimuti ruangan ini. Aku menggenggam tangan Eonni, berharap dia bangun dan langsung tertawa melihat eskpresiku yang sedang separuh menangis ini. Tapi tidak, dia tidak terbangun.

Sementara itu Donghae oppa mengelus kepala Eonni yang ditutupi perban separuhnya dengan tatapan penuh penyesalan dan penuh harap. Ia menundukkan kepala, mungkin menahan tangisnya. Aku jadi ingin mempercepat waktu, ke waktu dimana Eonni sudah sembuh dan bisa tertawa lagi.

“Oppa..”, ujarku. Donghae oppa pun melirik ke arahku. “Oppa tidak salah. Jangan terlalu dipikirkan, oppa. Lebih baik kita berharap dan berdoa supaya Eonni cepat sembuh”.
Donghae oppa kembali menghembuskan nafas berat, seakan berusaha menunjukkan isi pikirannya sekarang. 

“Aku juga berharap begitu, Minhee”.

Ya, berharap. Hanya itu yang bisa kami lakukan sekarang.

“By the way…kenapa dokter tadi menyarankan untuk memeriksakan Eonni ke bagian neurologi?”, kataku bimbang. Apa eonni mengidap sebuah penyakit?

“Aku..tidak tahu juga”, balas Donghae oppa. “Tapi sebaiknya kita turuti saja kata dokter itu. Dia lebih tahu dari kita”.

Aku mengangguk angguk, mempertimbangkan perkataan Donghae oppa di pikiranku.

“Semoga ini bukan awal dari sesuatu yang buruk”, kataku penuh harap.

~***~

Aku melirik ke kiri dan ke kanan dengan intens. Beberapa orang yeoja yang tidak ku kenal di sekolahku menatapku seakan aku adalah mangsa mereka. Aku tetap tersenyum meskipun dalam hati aku takut akan menerima cercaan dari beberapa orang di antara mereka.

“Kyuhyun, bisa hentikan permainanmu?”, ujarku perlahan tentunya.

“Sekali ini saja. Untuk pembuktiannya”, kata Kyuhyun tak kalah pelannya.

Baiklah, aku jelaskan. Kyuhyun memintaku berpura pura menjadi yeojachingu nya agar yeoja yeoja di sekolah ini berhenti mengincarnya. Dan aku di iming imingi oleh dua buah novel terbaru yang sudah ku tunggu tunggu rilisnya oleh Kyuhyun dan apa yang bisa kulakukan selain menerima tawarannya? Aku akui, aku mudah terbujuk bila menyangkut soal buku. Dan kini, ia sedang merangkulku dari kantin hingga menuju kelas. Wajar saja satu sekolah tahu. Ia menyatakan perasaannya (lebih tepatnya, berpura pura menyatakan perasaannya) di depan umum yang tentu saja sudah ia scenario kan sebelumnya. Memalukan !

#Flashback

Aku sedang sibuk menghabiskan makananku di kantin, ketika Kyuhyun menyenggol tanganku dan ia tersenyum. Aku sudah mengetahui scenario nya, jadi aku berpura-pura gugup.

“H..hai Kyu”, ujarku pelan. Akting ku sangat bagus waktu itu. Benar benar seperti seorang yeoja yang mengincar Kyuhyun kemudian disapa oleh Kyuhyun. Gugup.

“Hai Minhee”, balas Kyuhyun yang langsung membuat beberapa yeoja melirik ke arah kami. Mereka sibuk berbisik bisik, yang pastinya sedang membicarakanku.

Kyuhyun menarik tanganku dan mengajakku berdiri. Ia mengajakku ke tengah kantin sambil menggandeng tanganku. Hampir semua orang di kantin melihat ke arah kami. Aku semakin gugup.

“Minhee, aku mungkin baru mengenalmu sejak insiden di toko buku beberapa minggu yang lalu. Dan kita bertemu dengan kejadian yang tidak mengenakkan sebenarnya. Tapi…”. Ia menghentikan perkataannya sejenak dan suasana berubah menjadi hening. Kyuhyun masih menggenggam tanganku.

“Tapi aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Aku suka Minhee”.
Lihat, betapa pandainya dia berbohong.

Suasana kantin berubah menjadi riuh dan aku menundukkan kepalaku, berpura pura tersenyum. Walaupun bohongan tapi aku masih tetap merasa gugup. Sampai sampai tanganku bergetar karena nervous. Siap siap saja, aku akan mendapat banyak ‘serangan’ dari kakak kelas maupun teman teman seangkatanku sendiri.

“Aku mau Jung Minhee menjadi yeojachingu ku”, ujarnya kepadaku sambil tersenyum manis.

Jantungku berdebar tidak beraturan mendengar perkataannya.

“A..aku..”, kataku pura pura terbata bata. “Aku mau”.
Semua orang sepertinya terkejut. Yeah, siapa sangka Kyuhyun yang anak baru disini, yang populer se antero (?) sekolah menyatakan perasaannya padaku. Jung Minhee, yeoja populer hanya karena prestasinya. Seperti mengharapkan pohon apel akan berbuah pisang. Seperti itulah ekspetasi orang lain.

Flashback Off

Dan akhirnya, aku bernafas dengan lega. Aku sampai di kelas dengan selamat. Setelah Kyuhyun melambaikan tangannya padaku dan membentuk seulas senyum di wajahnya yang bisa melelehkan hati yeoja manapun (kecuali aku), ia beranjak dari kelasku. Aku pun duduk di bangku ku dengan pura-pura tenang dan senang.

Aku jadi berpikir bagaimana bila perkataannya beberapa hari yang lalu itu benar benar, tanpa ada kepura-puraan. Aku jadi bingung akan menerimanya atau tidak. Dan aku tersadar, kenapa aku harus memikirkannya? Memangnya aku punya perasaan apa padanya? Tidak ada  kan?

Dan kenapa aku terus memikirkan hal itu?

Aku menggaruk garuk kepalaku dengan bimbang.

Apa perasaan itu benar benar ada di hatiku tapi aku tidak menyadarinya?

~***~

Aku tidak percaya dengan isi amplop cokelat yang ku pegang sekarang. Aku malah berpikir, apa aku sedang bermimpi?

Tadi aku mengambil hasil tes Eonni ku dari rumah sakit bagian neurologi. Seperti kata dokter di UGD waktu itu, aku membawa Eonni ku ke bagian neurologi. Ia menjalani serangkaian tes untuk menentukan penyakit apa yang sedang di deritanya, dan memintaku untuk mengambil hasil tesnya beberapa hari lagi.

Dan inilah, hasil tes nya ada di tanganku sekarang.

Sebelumnya aku jarang mendengar nama Spinocerebellar Ataxia. Dan kini, Eonni ku adalah salah seorang pengidap dari penyakit yang tidak bisa di sembuhkan tersebut.

Fantastis. Aku tidak pernah meminta anggota keluarga ku untuk diberikan sebuah penyakit parah, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Aku mengusap air mata yang akhirnya jatuh tanpa ada halangan dari sudut mataku. Tidak, pikirku. Menangis tidak akan menyembuhkan Eonni ku. Aku pun berusaha menahan gejolak yang bergemuruh dalam dada ku. 

Sebisa mungkin aku harus bertahan.

Kemudian aku mengambil ponselku, teringat sesuatu. Ku cari kontak dengan nama “Appa” di ponselku, kemudian menekan tombol dial. Dengan takut takut aku mendengar suara nada sambung tersebut. Aku pun mondar mandir di sekitar kamarku, menunggu Appa yang mungkin sedang berbicara dengan kliennya atau sedang melakukan hal lainnya menjawab telfonku.

“Halo, Minhee”, sapa Appa ku dari seberang.

“H..hai Appa”, jawabku pelan. “Sekarang Appa ada dimana?”.

“Appa sedang ada di Busan”. Jawaban Appa seakan meruntuhkan harapanku.

“Di Busan..?”, ulangku.

“Ya Minhee, kenapa?”.

“Kapan kita bisa bertemu, Appa?”, tanyaku. “Ada sebuah hal yang penting”. Sangat penting.

"Lusa Appa akan pulang”, jawab Appa ku lagi. “Kalau memang benar benar mendesak, Appa akan pulang besok”.

“Ah, ani, tidak apa-apa”, tolakku. “Kalau Appa memang bisa lusa, ya sudah, aku akan menunggu. Sampai jumpa, Appa”.

“Benarkah?”.

“I..iya, benar. Sampai jumpa, Appa”.

“Sampai jumpa juga Minhee”.

Aku memutuskan sambungan dan menghempaskan diri ke tempat tidur. Sekarang bagaimana? Apa aku bisa bertahan selama dua hari dengan perasaan was-was?

Aku teringat dengan Eomma. Dan kemudian aku teringat Appa. Andaikan mereka tidak bercerai, mungkin sekarang aku sudah bisa mengadu dengan mereka. Dan aku tidak usah menanggung beban ini sendirian. 

Aku bahkan tidak meminta untuk menanggung semua ini, namun sekali lagi, semua yang tidak ku minta malah terjadi.

Sambil menatap nanar amplop cokelat berisi pernyataan mengejutkan itu, aku berpikir. Aku akan mengirim hasil tes ini kepada Eomma, setelah Appa pulang. Biarlah kertas itu saja yang berbicara, kata kataku tak akan cukup untuk menjelaskannya. Dan yang pasti, Eonni belum boleh tahu tentang hal ini. Aku bukannya bermaksud menyembunyikan, tapi aku masih berpikir kalau Eonni belum berhak tahu hal ini. Ia harus siap dulu, baru bisa mengetahuinya.

Layar ponsel ku berkedip kedip dan ponselku bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Aku mengambilnya dengan malas, dan niatku untuk mengangkat telefon itu juga berkurang saat membaca caller ID nya.

"Ada apa?”, kataku tanpa basa basi.

“Minhee, kau bisa keluar rumah sekarang? Aku ada di depan pintu”.

“Bagaimana kalau tidak?”.

Helaan nafas Kyuhyun terdengar jelas dari sini. “Jangan mengulur ulur waktu, tukang komplain. Atau aku akan mendobrak pintu rumahmu dengan membawa pisau dan—“

“Baiklah, aku akan keluar”, ujarku.

“Aku tunggu 15 detik lagi”, katanya. Aku berjalan dengan malas keluar dari kamarku hingga menuju pintu masuk rumahku.

“Lima detik lagi…”

Aku membuka pintu rumah ku dan mendapati Kyuhyun sedang berdiri di sana dengan senyuman khas nya. Memang, saat itu dia hanya memakai baju biasa, tapi…sekarang aku menemukan sesuatu yang lain pada dirinya. Perasaan yang ku rasakan di sekolah waktu itu muncul lagi. Aku menepis segala anggapan dan opini yang bermunculan di benakku, kemudian menatap lantai teras rumahku yang dingin untuk menyembunyikan perasaan gugupku.

Umm..anyway, kenapa aku harus merasa gugup?

“Minhee…”, ujarnya. Ia memegang bahu ku dan aku mengadah ke arahnya.

“Apa?”, kataku senormal mungkin.

“Kau tahu Minhee..aku ingin kau membantuku..”.

Tolong, jangan katakan hal yang lebih buruk, batinku.

“Mengerjakan tugasku”, ujarnya pendek.

Aku yang tadinya diam, kemudian membentuk seulas senyum yang berubah menjadi tawa. “Kau gila, mendatangi rumahku hanya untuk mengatakan itu?”.

“Karna kalau aku langsung mengatakan nya denganmu tadi, aku yakin kau akan menolak”, katanya mengutarakan pendapat. “Jadi….kau mau?”.

“Terserahmu lah”, kataku malas. “Aku…sebenarnya sedang tidak ingin diganggu”.

“Ah, maaf, kalau begitu aku akan pergi”, ujar Kyuhyun, yang langsung membuatku sedikit bersalah.

“Bukan, maksudku..bukan begitu. Tapi aku sedang...umm..tidak usah dipikirkan”, kataku terbata-bata. 

“Baiklah, aku akan membantu mu”.

Sebuah senyuman yang terbentuk di wajahnya lantas langsung membuat darahku berdesir. “Terimakasih”.

Aku mengangguk. Lantas aku bisa berbuat apa lagi?

~***~

“Bukan begitu, coba lihat contohnya”. Kyuhyun menyerahkan buku teks nya ke arahku dan aku mengambilnya dengan malas malasan. Meskipun pemandangan taman belakang rumah Kyuhyun yang berada di depan mataku ini cukup menyegarkan, tapi tetap saja, hati tidak bisa berbohong. Aku masih gelisah dengan hasil tes Eunji Eonni.

Sampai saat ini kami belum menemukan penyembuhnya”.
Kata kata Dokter Joonmi—spesialis neurologi terbaik di kota ini—yang ku temui tadi terngiang ngiang di kepalaku. Aku menatap layar laptop di hadapanku dengan pandangan kosong. Pikiranku melayang kemana-mana.

Sebagian diriku ada yang meyakinkan kalau kata kata Dokter Joonmi itu salah. Dia kan manusia juga, siapa sih manusia normal yang bisa memprediksi suatu hal dengan 100 persen tepat? Siapa tahu suatu saat ada manusia yang bisa menemukan penyembuh dari penyakit Eonni ku itu. Pasti ada, tapi belum ada manusia yang menemukannya.

Dan, sebagian diriku lagi mengatakan kalau kata Dokter Joonmi ada benar nya. Dia jauh lebih tahu tentang hal itu dariku. Dia jauh lebih berilmu dariku, pastinya selama dia menajdi spesialis neurologi dia belum menemukan orang yang menemukan penyembuh Spinocerebellar Ataxia.
Aku menenggelamkan kepalaku frustasi.

“Kecepatan perkembangan penyakit yang di derita pasien tergolong medium. Sebaiknya pelaksanaan terapi di lakukan secepat mungkin”.

Arrgh, kenapa harus Eonni? Dia baru berusia 19 tahun bulan Mei kemarin ! Prestasinya juga banyak, sampai sampai aku tidak bisa menghitungnya. Ia baru saja masuk Universitas paling prestisius di Seoul ! Hidupnya baru berjalan kurang dari seperlima abad dan dia sudah mendapatkan sebuah hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya? Kenapa?

“Minhee, kau baik baik saja?”. Aku mendengar Kyuhyun berkata padaku, namun aku masih menenggelamkan kepalaku sendiri di pangkuanku. Aku menggeleng.

Ya Tuhan, aku ingin menangis, tapi apa gunanya aku menangis?

“Jangan tahan tangismu”.

Aku mengangkat kepalaku sendiri dan menatap Kyuhyun. “Apa gunanya aku menangis?”.

“Kalau itu akan membuatmu lebih baik…sebaiknya kau menangis”.

“Aku tidak pernah merasa lebih baik setelah menangis”.
Perlahan Kyuhyun mengulurkan tangannya dan mengelus kepalaku berkali-kali. “Kau ini, sudah tau sedang sedih malah masih keras kepala”.

Aku terdiam, menatap rerumputan di bawah kakiku dengan pandangan kosong. Perlahan lahan air mataku turun dari setiap sudut mataku, membasahi pipiku dan akhirnya jatuh  ke tanah. Aku menangis tanpa bersuara. Aku tidak ingin suasana hatiku malah merusak ketentraman orang lain. Urusan ku biarlah aku sendiri yang mengurus, yang lain tidak usah terlalu ikut campur.

“Katakan padaku..apa yang mengganjal di pikiranmu sekarang?”. Kyuhyun masih mengelus kepalaku, sementara aku juga masih meneteskan air mata.

“Aku….”. Otakku kehabisan kata-kata. Apa yang harus ku katakan? Yang sejujurnya? “Sulit menjelaskannya. Maaf”.
Kyuhyun tersenyum ke arahku, bukan senyum evil yang seperti biasanya, tapi kali ini sangat menenangkan. 

“Aku siap mendengarnya kapan pun kau mau”.

“Terimakasih”. Walaupun singkat, tapi aku benar benar tulus mengatakannya.

“Apa yang bisa membuatmu lebih baik?”.

Mati, mungkin. batinku. “Aku tidak tahu”. Sambil memilin milin ujung dress selutut ku, aku menghapus air mataku. Sudah cukup menangisnya, sekarang lebih baik mencari solusi untuk menenangkan diriku.

“Dalam keadaan apapun kau selalu keras kepala”, ujar Kyuhyun. “Aku pikir tidak baik untuk membuat dirimu sendiri tersiksa dengan segala kemandirianmu”.

“Dan kenapa tiba-tiba kau begitu peduli?”, kataku tanpa sempat berfikir dulu.

uasana pun kembali sunyi, dan tiba tiba perasaan bersalah masuk ke dalam hatiku. Semakin banyak lagi beban yang memberatkan pikiranku, semakin lemas aku rasanya.

“M..maaf”, kataku memulai pembicaraan lagi. “Aku..terlalu emosi. Maafkan aku”.

“Aku mengerti. Dan sebaiknya kau pulang saja, tenangkan dirimu”. Kyuhyun pun bangkit dari tempat kami duduk dan aku mengikutinya.

“Aku berusaha peduli denganmu”, ujar Kyuhyun saat kami sudah sampai di depan pagar rumahku. Aku menunduk, dan menyadari manusia di hadapanku ini tidak sepenuhnya buruk. Bahkan sebenarnya Kyuhyun itu baik, sangat baik malahan. Namun ia menutupinya dengan sifat sifat lain. Yang kadang membuatku geram.

“Pegang ucapanmu”, kataku singkat.

“Bukan hal yang sulit”, jawabnya. “Kalau kau sudah ingin bercerita, ceritakanlah. Aku tak akan memaksamu sekarang”.

“Ah, ne”, kataku seraya mengangguk. “Sampai jumpa, Kyu”. Aku pun berbalik dan berjalan menuju rumahku.

“Minhee”, panggil Kyuhyun. Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Namun Kyuhyun malah terdiam dan tatapannya terpaku pada ku.

“Ada apa?”.

“Tidak jadi. Kembali lah”. Aku melihatnya sebentar dan menghela nafas, kemudian berbalik lagi ke rumahku.

Dengan lemas aku membuka pintu rumahku yang lebar dan menutupnya kembali saat aku sudah sampai di dalam. Aku ingin tidur, ingin melupakan semuanya secara sementara. Semua fakta yang baru aku terima memberatkan kepalaku, membuat aku merasa lelah tanpa sebab. Dan, untungnya, di saat semua orang lebih peduli dengan apa yang akan ia makan hari ini, aku masih mempunyai seseorang yang peduli padaku dan 

mau membantuku.

Siapa lagi kalau bukan tetanggaku, si evil itu.

Aku melihat pintu kamarku terbuka, dan jantungku langsung berdebar lebih kencang. Astaga, aku menyadari kecerobohan ku sendiri. Jangan sampai ada yang melihat….

“Minhee? Ini apa?”.

Doaku tidak terkabul.


Eunji eonni memegang sebuah kertas putih dengan logo rumah sakit di kop nya, dan aku membelalakkan mataku. Tidak mungkin…. 





To Be Continued


Hehe maaf ya lama nge postnya. Aku lg sibuk sama ujian sekarang, maklumlah, anak kelas 9. Ditambah pula flashdisk aku rusak T_T ini aja pake flashdisk temen ._. 


Maaf kalo masih mengecewakan ^^

2 komentar:

  1. Aduh , Eunji kasihan....
    Beneran asli ada penyakit itu?
    Minhee udah suka tu sama Kyu :) asyiikk..
    Akhirnya bikin penasran...

    BalasHapus
  2. asli dongs, search di om google coba =))

    BalasHapus